KUPAS KOLOM: Peh Cun (Duan Yang), Bak Cang dan “Ngojay” di Cisadane

Oleh Kris Tan
Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu (GEMAKU)

Hari ini adalah puncaknya Musim Panas di belahan bumi utara di Tiongkok sana yaitu tanggal 5 bulan ke 5 penanggalan Imlek (lunisolar) Anno Confucius 2570, ada yang menyebutnya “The Double Five Festival” atau “Dragon Boat Festival”. Hal ini juga dirayakan oleh Google ketika mereka memasang Doodle dengan animasi Dragon Boat Festival (Festival Perahu Naga)

Umat Khonghucu di Indonesia menyebutnya dengan istilah populer Peh Cun dengan identik makanan yang disebut Bak Cang. Untuk mewujudkan rasa syukur pada saat sembahyang Puncak Musim Panas dibarengi dengan tradisi membuang Bak Cang ke sungai pada saat hari Peh Cun untuk mengenang Qu Yuan. Jadi jika umat Khonghucu punya tradisi menceburkan Bak Cang ke sungai pada hari Peh Cun ini bukan berarti umat Khonghucu memberikan Bak Cang kepada dewa sungai atau ‘Hantu Laut’. Meminjam istilah Rocky Gerung tuduhan tersebut adalah tuduhan yang “dungu”. Tradisi menceburkan Bak Cang ke sungai ialah sebagi wujud ekspresi manusia berbudaya untuk menghormati dan melestarikan sebuah memori yang menurut mereka terkandung unsur kebajikan dan kebijakan.

Tradisi religius menceburkan Bak Cang ke sungai ini di mulai pasca kematian Qu Yuan yang merupakan seorang menteri dari negara Chu di jaman Tujuh Negara Berperang (Zhanguo). Zaman dimana sebelum dinasti Qin berhasil mempersatukan Tiongkok. Jika ingin mendapatkan imajinasi zaman Zhanguo kita bisa mendapatkannya dengan menonton film Hero yang disutradarai oleh Zhang Yimou serta dibintangi oleh Zhang Ziyi yang cantik itu bersama Jet Li, Tony Leung dan Maggie Cheung pada tahun 2002.

Qu Yuan sebagai menteri yang jujur dan bijaksana konon kecewa pada kaisarnya yang lebih mempercayai kaum penjilat korup di istana negara Chu yang membuat keadaan negara Chu semakin lemah dan bangkrut. Sebagai bentuk protes dan kekecewaannya maka Qu Yuan menceburkan diri ke sungai Miluo pada saat perayaan Duan Yang (5/5 Lunisolar). Sungai Miluo sekarang terletak di tepi timur Danau Dongting, anak sungai terbesar Sungai Xiang di Provinsi Hunan utara.

Namun karena rakyat begitu mencintai dan sangat mengagumi Qu Yuan maka ketika mendengar Qu Yuan telah menceburkan diri seluruh rakyat Chu berbondong-bondong mencari Qu Yuan dengan harapan bisa menyelamatkannya, dan walaupun Qu Yuan telah wafat minimal dapat menemukan jasadnya untuk diangkat dan dikuburkan.

Namun apa daya sampai detik ini setelah ribuan tahun mayat Qu Yuan belum juga di temukan. Orang Tionghoa terus melestarikan pencarian ini tiap tahun pada tanggal 5/5 Imlek (lunisolar) dalam perayaan Peh Cun untuk mengenang Qu Yuan yang merupakan sosok bijaksana dan pejabat jujur pada saat itu.

Ratusan perahu mencari di sungai Miluo pada saat itu sehingga munculah istilah Peh = seratus dan Cun= Perahu (dialek Hokian). Maka peristiwa ini dikenal dengan istilah Peh Cun. Jauh sebelum peristiwa Qu Yuan menceburkan diri sebenarnya tiap tanggal 5/5 perayaan itu dikenal sebagai perayaan Duan Yang.

Duan artinya lurus, terang yang menjadi pokok atau sumber dan Yang artinya sifat positif atau matahari. Jadi arti dari Duan Yang adalah saat matahari memancarkan cahaya paling positif. Karena itu bagi umat Khonghucu persembahyangan pada saat Duan Yang dilaksanakan pada saat tengah hari pada antara jam 11:00 s.d 13:00 siang, pada saat hari Duan Yang jam demikian matahari benar-benar melambangkan curahan anugerah Tian Tuhan YME. Cahaya matahari ialah sumber kehidupan, lambang keberkahan dan kemurahan Tian atas manusia dan segenap makhluk ciptaannya di dunia.

Pada saat Duan Yang dianggap posisi Matahari sedang tegak lurus dengan posisi Bumi maka dianggap saat terbaik untuk mendapatkan khasiat dari tumbuh-tumbuhan untuk dijadikan obat-obat herbal. Para Tabib Tiongkok jaman dahulu selalu menyarankan mengambil obat herbal saat terbaik ialah saat Duan Yang.

Dimasa kecil saya saat Duan Yang ialah saatnya berlomba untuk mendirikan telur ayam mentah agar berdiri tegak lurus pada permukaan yang rata. Sebab menurut para tetua telur dapat berdiri tegak hanya pada saat Duan Yang.

Dahulu ketika saya masih kanak-kanak sebagai anak kampung di sebuah desa di Citereup Bogor sana, saat Peh Cun adalah saatnya berkumpul bersama keluarga bersar lalu bertamasya dengan mandi di kali (sungai). Sungai-sungai tempat kami merayakan Peh Cun ketika saya kecil ialah di daerah kaki Gunung Pancar, Babakan Madang, sekarang sudah menjadi kawasan mewah Sentul dan Pasar Ah Poong atau kadang kami ke “spot” lainnya di kaki gunung Hambalang di sungai Leuwi Bilik sana. sambil membawa Bak Cang untuk diceburkan sebagai wujud untuk mengenang Qu Yuan yang berani dan bijaksana. Dengan harapan generasi akan datang selalu mengenang dan dapat meneladani Qu Yuan.

Peh Cun kali ini saya bersama istri beserta Tan Ailing, Tan Chingling dan Tan Zaoyang sepertinya hanya akan bermain di Sungai Cisadane Ciampea, karena tidak perlu setir mobil ditengah macetnya suasana libur lebaran dan kalo mau jujur sih memang irit serta hemat dalam kondisi lagi “bokek” dan “cekak” begini.

Maklum semenjak jadi Pengurus Yayasan Sekolah Budhi Bhakti waktu yang paling bikin dag-dig-dug ialah saat mau Lebaran dan Tahun Baru Imlek. Sebab saya harus memikirkan cari uang untuk THR para guru sekolah Budhi Bhakti. Untung THR itu maksudnya Tunjangan Hari Raya yang hanya setahun sekali, bukan Tunjangan Hari Rabu, kalau Tunjangan Hari Rabu bisa “amsyong” saya hehehe.

Namun percaya tidak percaya semenjak mengurus Yayasan Sekolah Budhi Bhakti saya merasa bahagia sekali, karena sebagai seorang fans berat Confucius saya bisa merasakan salah satu kebahagiaan yang dicita-citakan oleh Confucius yaitu mendidik dan membimbing anak-anak muda menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Mudah-mudahan Confucius a.k.a Zhisheng Kongzi sudi memberkahi perjuangan saya.

Dalam menjalani tugas saya di Budhi Bhakti saya memegang prinsip seperti yang dikatakan oleh “Mahatma” Alm Xs. Tjie Tjay Ing yang beliau lukiskan dalam rumusan doa penutup umat Khonghucu Indonesia : ……..”Tidak keluh gerutu kepada Tian Tuhan YME, tidak sesal penyalahan kepada sesama manusia, melainkan dapat tekun belajar dari tempat rendah ini terus maju menuju tinggi menempuh Jalan Suci (Dao). Sekalipun orang lain tidak mau tahu. Ia tidak akan pernah menyesali.

Dan, Peh Cun tahun ini saya akan merayakan kegembiraan di sungai Cisadane yang hanya cukup dengan jalan kaki dari rumah, lalu menceburkan diri mandi bermain air bersama keluarga di Sungai Cisadane yang gagah itu, dimana prasasti Ciaruteun dan telapak kaki Raja Purnawarman bersemayam pada sebuah batu besar disana. Di tengah puncaknya musim panas ini saya sekeluarga akan bersembahyang bersyukur kepada Hao Tian Shang Di Tuhan YME atas berkahNya bagi kehidupan.

Selamat hari raya Peh Cun (Duan Yang) 5/5/2570 AC, semoga Langit dan Bumi selalu memberkahi kita semua. Let’s go kita “ngojay” di Cisadane. Shanzai

5/5/2570 Anno Confucius
Catatan Si Kristan

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*