Pengembang Newton Hybrid Park Setuju Kembalikan Setoran Konsumen dalam 5 Tahap

Lokasi proyek apartemen Newton The Hybrid Park di Bandung (dok. KM)
Lokasi proyek apartemen Newton The Hybrid Park di Bandung (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Meski bisnis properti sedang mengalami kelesuan di tengah kondisi perekonomian dunia dengan melambatnya likuiditas, namun penjualan apartemen yang dibangun PT. Gracia Griya Kencana (GGK), anak usaha Margahayu Land, dikatakan “tidak vakum”.

“Waktu dekat ini, investor akan melanjutkan keterlambatan penyelesaian konstruksi tiga apartemen di Bandung. Di era sekarang ini, properti mana yang tidak tiarap?” ungkap Corporate Legal Holding Company Margahayu Land, Lisar Zukni saat dikonfirmasi wartawan atas keluhan konsumen PT. GGK, di Kuningan Jakarta Selatan, Jumat 12/4.

Disebutkan dalam klausul Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang ditandatangani Trianto, kata Ichal, panggilan akrab Lisar, penyerahan unit apartemen tidak serta merta diikuti penyerahan sejumlah fasiltas yang ada di Newton Residence. Penjelasan ini disampaikan atas keluhan konsumen PT. GGK, dalam pertanyaan lanjutan konfirmasi tersebut.

Menurut Ichal, promosi yang ditawarkan Newton the Hybrid Park di Bandung, sebagai kawasan bisnis dan hunian lengkap dan hadirnya berbagai fasilitas yang ditawarkan, belum sempat dibangun karena “melemahnya likuiditas” belakangan ini.

“Tak bisa jadi alasan seorang konsumen menarik diri dari perikatan jual beli yang disepakati dalam PPJB. Pengunduran diri secara sepihak seorang konsumen, merupakan bagian dari milik perusahaan, uang yang disetorkan. Hanya saja pengembang berlaku lebih adil,” terang Ichal.

Ichal menuturkan, pihak pengembang sepakat melakukan pembayaran cicilan hingga lima tahap. Hanya saja, PT. GGK tengah menunggu kehadiran investor baru untuk melanjutkan keterlambatan konstruksi proyek multifungsi, apartemen yang dibangun di Bandung. “Manajemen PT. GGK sepakat mengembalikan uang Trianto seratus persen, tanpa adanya potongan dari setoran tersebut,” lanjutnya.

Ia mengatakan, uang setoran itu tidak dapat dikembalikan begitu saja lantaran harus diputar untuk keuangan perusahaan. “Tidak mungkin uang setoran konsumen mengendap berlama-lama dalam kas keuangan perusahaan. Itu harus berputar. Apalagi, cash flow proyek saat ini dalam kondisi tidak bagus dan perusahaan besar tidak bisa dijadikan ukuran mengendapnya uang di kas perusahaan,” tutur Ichal.

Ichal lebih jauh menjelaskan, sertifikat layak fungsi gedung apartemen di Bandung tidak bisa dinilai secara parsial, hingga diragukan keberadaannya. Karena gedung yang dibangun PT GGK, belum sepenuhnya selesai secara utuh dan masih dibutuhkan penyelesaian.

“Konsumen tak perlu takut, kami tidak mungkin akan kabur dan lepas tanggung jawab. Termasuk konsumen yang merasa dirugikan, seperti yang dikeluhkan konsumen akhir-akhir ini,” pungkas Ichal.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*