Festival “Purworejo Berjarik” Ingin Singkirkan Kesan “Jadul” Pada Kain Jarik

Festival Purworejo Berjarik menampilkan aneka kesenian dengan menggunakan aneka kostum batik dan jarik yang dilaksanakan di Purworejo, 23/3/2019.
Festival Purworejo Berjarik menampilkan aneka kesenian dengan menggunakan aneka kostum batik dan jarik yang dilaksanakan di Purworejo, 23/3/2019.

PURWOREJO (KM) – Festival Purworejo Berjarik dilaksanakan dalam rangka melestarikan jarik tanpa ikat, mensosialisasikan jarik kepada masyarakat dan peluncuran lagu Romansa Purworejo di Purworejo, 23/3.

“Purworejo Berjarik adalah acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Lentera Art, sebuah komunitas lintas seni yang didalamnya banyak sekali pelaku seni. Acara ini mempunyai harapan yang sangat besar untuk seluruh masyarakat Purworejo bahwasannya jarik itu bukan kuno tapi bisa juga kekinian. Karena jarik itu sendiri adalah warisan leluhur bagaimana kita bisa nguri-uri (mewarisi) dan jarik itu bukan sesuatu yang aneh yang dipakai dalam acara acara tertentu saja, tapi bisa dipakai setiap saat sehingga memakai jarik itu bukan sesuatu yang luar biasa tetapi sesuatu yang biasa dan bisa dipakai setiap saat,” kata Ketua Purworejo Berjarik, Melania Sinaring Putri kepada KM.

“Image berjarik untuk era sekarang adalah milik orang-orang tua dan ada kesan kalau memakai jarik adalah kuno, jadul dan tidak kekinian maka diharapkan dengan event Purworejo Berjarik ini akan merubah image kalau berjarik itu milik semua tidak hanya milik orang tua akan tetapi juga milik generasi muda sehingga diharapkan semua akrab dengan jarik,” lanjutnya.

Acara ini mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Purworejo dan Pemerintahan Kabupaten sendiri walaupun masih dalam bentuk mobilisasi, para pelajar dan mahasiswa Purworejo yang berjumlah kurang lebihnya 500 pelajar, paguyuban lintas seni, HARPI Melati, PKK dan para pendukung lainnya.

Dalam acara ini juga mengenalkan produk batik Purworejo untuk ditampilkan, diperkenalkan dan dipromosikan demi mendukung program pariwisata yaitu Romansa Purworejo dengan harapan kaum milenial tidak mengganggap kalau berjarik itu hanya untuk orang tua.

Pemrakarsa acara, Istri Bupati Purworejo Fatimah Verena Prihaswari berharap mudah-mudahan masyarakat mencintai berbatik dan berjarik yang bisa dimodifikasi supaya menarik.

“Saya mendukung acara ini dan diharapkan koordinasi lebih baik dan lebih meriah lagi apalagi didukung dengan para seniman- seniwati yang mempunyai jiwa seni yang tinggi, multi talenta dan sangat potensial sekali untuk bisa membantu Pemerintahan Kabupaten Purworejo dalam bidang promosi pariwisata,” katanya.

Sementara Komunitas Diajeng Semarang atau KDS juga ikut mendukung dan memeriahkan acara Purworejo Berjarik ini mengatakan KDS mempunyai visi-misi melestarikan pakaian nusantara yaitu Kebaya dan Jarik.

KDS adalah komunitas para perempuan pencinta dan pelestari busana nusantara yang mampunyai program mensosialisasikan pakaian nusantara ini ke sekolah- sekolah di Jawa Tengah. KDS berharap generasi muda mempunyai pakaian nusantara warisan leluhur, warisan budaya nusantara yakni batik dan kebaya yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Reporter: Evie
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*