Rangkaian Acara HUT Purworejo Dibuka Dengan “Pengetan Jumenengan”

Bupati Purworejo Agus Bastian dan jajarannya pose bersama artis pendukung acara Pengetan Jumenengan di Purworejo pada hari Rabu 27/2/2019 (dok. KM)
Bupati Purworejo Agus Bastian dan jajarannya pose bersama artis pendukung acara Pengetan Jumenengan di Purworejo pada hari Rabu 27/2/2019 (dok. KM)

PURWOREJO (KM) – Menyambut Hari Jadi Kabupaten Purworejo yang ke-188, Pemkab Purworejo menggelar acara pengetan jumenengan di Pendopo Kabupaten Purworejo kemarin 27/2 malam.

Bupati Purworejo Agus Bastian mengatakan, jumenengan adalah untuk mengingatkan kita pada sejarah dari Kabupaten Purworejo.

“Jumenengan ini untuk mengingatkan kita pada sejarah dari Kabupaten Purworejo ini. Mudah-mudahan kedepan akan semakin maju dan tentunya akan membawa kesejahteraan untuk seluruh masyarakat Purworejo,” harapnya.

Acara ini merupakan event tahunan Kabupaten Purworejo dimana lokasi tidak harus di Pendopo tapi bisa dilakukan di setiap sudut kota.

“Dan inilah kelebihan dari Purworejo yang memiliki banyak sejarah di setiap sudut kota yang indah dan bagus,” katanya.

Bupati berharap semua seniman seniwati Purworejo agar terus berkiprah dalam rangka memajukan pariwisata di Kabupaten Purworejo serta untuk semua warga masyarakat Purworejo agar tetap semangat membangun Kabupaten Purworejo.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Agung Wibowo mengatakan acara pengetan jumenengan dilaksanakan di dua lokasi yang berbeda, yaitu di dalam Pendopo dan di Tugu Kemerdekaan depan Pendopo.

“Acara dilaksanakan di dalam Pendopo dan Tugu Kemerdekaan depan pendopo. Acara ini dilaksanakan selain untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Purworejo, juga ingin menghibur masyarakat sekaligus untuk memacu pariwisata Purworejo agar maju lagi,” katanya.

“Acara kali ini melibatkan semua seniman seniwati yang ada di Kabupaten Purworejo, terutama para seniman seniwati muda atau millennial. Ada tiga jenis sendratari dalam acara jumenengan ini yang dikemas dengan nuansa tradisional modern, dalam arti ada tradisional murni dan ada sebagian yang diolah atau digarap dengan nuansa yang lebih modern. Dimana semua tarian yang disajikan mempunyai makna yang berbeda-beda,” jelasnya.

“Seperti tari Beksan Kidung Cakra, dimana tarian ini adalah tarian yang ditampilkan khusus pada pengetan jumenengan bupati pertama Purworejo, R. A. A. Tjokronegoro I, yang mengisahkan tentang tembang kehidupan manusia yang terus berputar,” terangnya.

“Untuk tarian yang kedua adalah Beksan Cakra Tunggal atau keprajuritan, menceritakan semangat atau jiwa patriotisme dari masyarakat Purworejo yang siap mengabdi dan membela Purworejo. Sendratari yang ketiga yaitu Sengguh Ora Mingkuh yang bermakna bahwa ketetapan hati atau ketunggalan hati dari masyarakat Purworejo untuk saling bergandeng tangan dengan seluruh elemen yang ada baik dari legislatif, eksekutif, pengusaha dan warga untuk bisa bersatu memajukan Kabupaten Purworejo dalam bekerja dan berkarya,” tuturnya.

“Mudah-mudahan warga masyarakat bersatu padu membangun Purworejo bersama sama, kalau bukan sekarang kapan lagi dan kalau bukan kita siapa lagi?” pungkas Agung.

Reporter: Evie
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*