Dalami Aduan Persekusi, PWRI Akan Laporkan Oknum Komunitas Sanggar ke Unit PA Polresta Depok

Ketua DPC PWRI Kota Depok, Rahmat Budianto (dok. KM)
Ketua DPC PWRI Kota Depok, Rahmat Budianto (dok. KM)

DEPOK (KM) – Dugaan tindakan percobaan persekusi yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku dari kelompok komunitas sanggar menuai kecaman dari Ketua DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kota Depok, Rahmat Budianto.

Hal tersebut disampaikan Rahmat saat rapat pleno internal pengurus DPC PWRI Kota Depok terkait kasus yang menimpa AF (16), seorang siswa kelas XI SMK Negeri di Kota Depok. AF, pelajar yang sedang magang di sebuah perusahaan media di Depok menceritakan kronologis yang menimpa dirinya pada hari Minggu tanggal 16/02/19 pada pukul 21.00 WIB.

Dari pengakuan AF kepada pengurus DPC PWRI Kota Depok, rentetan kejadian itu berawal pada hari Sabtu 15/2 saat AF mengajak N (15) untuk menonton sebuah film di bioskop wilayah Pekapuran.

“Sebelumnya saya sudah janjian sama N untuk nonton film di bioskop, ajakan saya tersebut tidak ditolak dan disetujui oleh N, jadi kami sepakat bertemu jam 4 sore, saya langsung menjemput N sepulang sekolah,” cerita AF.

“Usai nonton, kita makan bakso dekat rumah saya, karena hujan, baju yang saya kenakan basah, akhirnya saya ajak N ke rumah saya untuk salin pakaian. Di rumah kebetulan sepi, nah saat itu saya memegang tangan N dan memeluk dia, namun N tidak menolaknya,” lanjut AF.

“Saya tidak melakukan hal yang jauh, kami hanya saling pegang tangan, akan tetapi apa yang terjadi saat itu diceritakan lain oleh N kepada teman-temannya di Sanggar. N hanya berkata kepada saya agar mengatakan dan mengiyakan saja seperti apa yang dikatakan N,” ungkap AF.

Lebih lanjut AF merasa terkejut saat dirinya didatangi 9 orang teman-teman N pada Minggu malam sekitar pukul 22.00 WIB, yang menuntutnya untuk bertanggung jawab atas perbuatan AF sehari sebelumnya. Saat itu AF merasa terdesak, bahkan menurut cerita AF, ada salah satu teman N yang memegang lehernya disertai nada ancaman. AF mengatakan jika pada saat itu dirinya diminta teman-teman N untuk datang ke Sanggar guna dimintai pertanggung jawaban, namun AF menolak karena sudah malam dan akhirnya AF dimintai jaminan supaya keesokan harinya bisa hadir ke Sanggar dan AF dengan terpaksa menyerahkan laptopnya setelah sebelumnya ingin menyerahkan STNK dan SIM motor namun ditolak teman-teman N.

“Keesokan harinya, Senin usai saya pulang magang sekitar jam 20.00, saya dihubungi AB yang mengaku sebagai pemilik sanggar dan meminta saya untuk datang ke sanggar malam itu juga. Dia ngancam kalau saya tidak datang malam itu, keesokan harinya akan membuat ramai rumah saya pak,” terang AF melanjutkan kisahnya.

Menerima aduan dari anak remaja itu, Rahmat kemudian menghubungi pihak sanggar untuk memastikan kebenaran narasi tersebut.

“Jadi setelah kita telusuri dan menunjuk Kabid OKK PWRI Kota Depok untuk mengkonfirmasi perihal kejadian tersebut langsung ke oknum yang mengaku sebagai pemilik sanggar dan pengurus Karang Taruna untuk mengembalikan laptop milik AF dalam waktu 1×24 jam supaya tidak dilaporkan ke pihak kepolisian, oknum tersebut malah mengancam balik akan melaporkan hal ini ke kantor polisi,” kata Rahmat.

“Setelah kami fasilitasi pertemuan antar kedua orang tua AF dan N, diperoleh informasi kalau keluarga N justru tidak mengetahui hal tersebut. Jadi ini semua diduga karangan cerita oknum sanggar tersebut dan berindikasi akan menjadikan AF sebagai target pemerasan karena kami juga mendapat informasi jika hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya. Jadi dugaannya ini modus mereka,” jelas Rahmat yang juga Pimpinan Redaksi LiterasiDepokNews.com.

Rahmat juga mengatakan dirinya sebagai Ketua DPC PWRI Kota Depok akan membuat laporan polisi terkait hal itu guna mencegah hal-hal serupa supaya tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Reporter: Sudrajat
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*