KPAI Minta Polisi dan Disdik DKI Jakarta Dalami Dugaan Sekolah Menjadi Gudang Penyimpanan Narkoba

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti (dok. KM)
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Polsek Kembangan Jakarta Barat pada Selasa 15/1 menyita 355 gram sabu dan 7910 butir psikotropika golongan IV serta obat-obatan daftar G dari sebuah laboratorium sekolah di Jakarta Barat. Adalah DL dan CP, kakak beradik yang mendesain tempat tersebut menjadi gudang penyimpanan sekaligus tempat tinggal.

DL dan CP merupakan karyawan dari sekolah tersebut. Status keduanya pegawai honorer. Sejak enam bulan terakhir keduanya tinggal di laboratorium sekolah. Keduanya memanfaatkan salah satu ruangan yang disulap menjadi tempat tinggal sekaligus gudang penyimpanan narkoba. Menurut pihak sekolah, DL dan CP menumpang tanpa izin.

Terkait temuan gudang penyimpanan narkoba oleh pihak kepolisian tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa hal ini akan menjadi “preseden buruk” bagi dunia pendidikan.

Dalam rilis yang diterima KM kemarin 17/1, Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti mendorong pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, dan tidak hanya fokus pada kasus fisik gudang penyimpanan narkobanya saja, tetapi juga menyelidiki apakah kedua terduga pelaku juga melakukan jual beli narkoba di lingkungan sekolah yang melibatkan para siswa. “Jika terjadi pengedaran di lingkungan sekolah yang menargetkan siswa, maka diperlukan tindaklanjut berupa rehabilitasi bagi para siswa, jika ada yang menggunakan narkoba di sekolah tersebut,” kata Retno.

Pihaknya juga mendorong Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memeriksa pihak sekolah, agar modus terduga pelaku semacam ini perlu diwaspadai sekolah agar tidak terulang, baik di sekolah yang bersangkutan maupun di institusi pendidikan lainnya.

“KPAI meminta pihak Kepolisian, Media Massa/pers dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk tidak membuka nama dan identitas sekolah agar para siswa, para guru dan sekolah sebagai institusi pendidikan tidak mengalami stigma negative dari publik,” pungkasnya.

Reporter: Red
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*