Aktivis Tuding KPH Wilayah III Aceh Kongkalikong dengan Pembalak Liar

Kilang/panglong yang menampung kayu hasil pembalakan liar (dok. KM)
Kilang/panglong yang menampung kayu hasil pembalakan liar (dok. KM)

LANGSA (KM) – Sejumlah kilang mini dan panglong kayu yang berada di wilayah Kota Langsa, Aceh Timur dan Aceh Tamiang, ternyata acap kali mengolah kayu gelondongan yang disinyalir hasil pembalakan liar.

Padahal perizinan yang dikeluarkan oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) wilayah III Aceh hanya memberikan rekomendasi untuk mengolah kayu racip.

Kordinator Tim Investigasi Lembaga Penyelamat Aset Pemerintahan Republik Indonesia (LPAP-RI) Aceh, Rabono Wiranata Langsa mengatakan, “seharusnya pihak KPH III menjaga dan memberikan pengawasan terhadap aktivitas panglong. Namun yang terjadi malah sebaliknya,” ungkapnya kepada awak media, Jumat 14/12.

“Ya kenapa pihak KPH III justru bermain mata dan diduga melakukan pungutan liar serta sengaja membiarkan aktivitas ilegal tersebut demi keuntungan pribadi?” tambahnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan pihak KPH III ini tergolong “nekat”.

Advertisement

“Bagaimana tidak? Ada oknum KPH III yang ikut bermain langsung di salah satu panglong yang ada di daerah Alur Dua. Oknum itu langsung ikut mengatur setiap kali kayu glondongan yang masuk ke panglong tanpa merasa bersalah,” tuturnya.

Kata Rabono, ada sejumlah panglong atau “kilang ketam” yang berkedok menerima pesanan pembuatan kusen pembuatan daun pintu dan jendela. “Kenyataannya, pengusaha panglong tersebut membeli kayu ilegal jenis kayu damar, merbau dan meranti yang kemudian diolah menjadi kusen pintu dan jendela yang selanjutnya dijual ke daerah Sumatra Utara,” katanya.

“Ini harus segera ditindak, pihak terkait jangan hanya jadi penonton saja, harus ada action untuk menegakan hukum, bagi oknum-oknum yang memanfaatkan jabatannya,” pungkasnya.

Reporter: Arrahimuddin
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: