KUPAS KOLOM: Merdeka dari Terorisme, Menangkan Pancasila

Mawardin Sidik
Mawardin Sidik

Oleh Mawardin Sidik
Pemerhati Politik dan Terorisme, Ketua DPP Garda Empat Pilar Nusantara

Kini, negara kita tercinta sudah berusia 73 tahun. Kematangan sebagai bangsa sudah teruji dalam pergulatan dan pergumulan yang panjang dengan aneka dinamika kehidupan. Ada banyak capaian yang patut diapresiasi, tapi tidak sedikit pula tantangan yang mesti dilewati bersama. Hal ini menuntut kerja keras pemerintah Indonesia dan keperansertaan semesta dari warga republik. Memaknai kenduri kemerdekaan bukan sekadar romantika belaka, namun perlu diaktualisasikan oleh warga negara melalui partisipasi sesuai kapasitas masing-masing dalam mengurangi beban nasional.

Dalam pidato tahunan HUT kemerdekaan RI ke-73 di gedung DPR RI, Jakarta, Presiden Jokowi menyampaikan beberapa refleksi persoalan kebangsaan, antara lain kasus terorisme. Mencegah dan memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya, kata Jokowi. Mantan Walikota Solo itu juga mendukung peran ulama, tokoh masyarakat, pendidik, organisasi-organisasi keagamaan, organisasi-organisasi kemasyarakatan, dan keluarga untuk menghadang paparan ajaran radikal kepada generasi muda kita.

Dalam tasyakuran kebangsaan kali ini, ada catatan yang menarik. Di Alun-alun Kabupaten Lamongan Jawa Timur, sekitar puluhan eks teroris membacakan ikrar kesetiaan pada kehidupan berbangsa dan bernegara saat mengikuti upacara HUT RI. Di Pesantren Al Hidayah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, putra-putri eks teroris menjadi pasukan pengibar bendera upacara HUT RI. Pesantren ini bertransformasi menjadi lembaga pendidikan promotor perdamaian agar anak-anak menjauhi faham radikal.

Dalam ranah interaksi dan komunikasi, yang perlu digarisbawahi adalah jangan terlalu dini kita memberikan stigmatisasi yang berlebihan kepada individu dan kelompok tertentu, mestinya kita rangkul atas dasar persaudaraan. Kemudian kita bimbing secara bertahap bahwa kehidupan harus dirayakan dengan penuh bahagia tanpa virus kebencian. Jihad yang utama adalah meningkatkan kemampuan ekonomi, menolong sesama, tekun belajar untuk menggapai cita-cita setinggi bintang, dan meraih cinta seluas samudra.

Memang agenda pemberantasan terorisme bukan sekadar tugas aktor-aktor keamanan semata, melainkan perlu partisipasi segenap komponen bangsa. Sebagai kejahatan lintas negara (transnational crime), maka strategi pemberantasannya perlu melibatkan Polri, TNI, BIN berkoordinasi dengan BNPT sebagai bentuk pendekatan keras (hard approach). Untuk memenuhi tuntutan emosional publik, maka kehadiran Densus 88 Anti-Teror tetap diperlukan guna menghalau jatuhnya banyak korban. Meski begitu, penegakan hukum, pendekatan keamanan dan kemiliteran dalam penanganan terorisme tidak boleh bertentangan dengan semangat demokrasi dan prinsip-prinsip HAM.

Sementara strategi pendekatan lunak (soft-approach), dilakukan melalui program-program deradikalisasi, pendidikan, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. Di sinilah relevansi keberadaan para ulama, guru, organisasi kemasyarakatan dan lembaga keagamaan untuk melunakkan ideologi kekerasan yang dianut oleh kelompok teroris. Bumi nusantara sejatinya punya sumber daya religio-kultural untuk diberdayakan sebagai instrumen untuk mengobati penyakit ekstremisme. Sehingga terbentuk manusia-manusia penuh cinta dan kasih sayang yang menjadi esensi ajaran semua agama.

Universalitas sufi dalam ajaran Islam layak ditengok kembali sebagai obat radikalisme-ekstremisme. Pengamalan sufi terwadahi dalam tarekat sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Tasawuf atau sufisme sebagai dimensi spiritualitas Islam, difokuskan pada sisi batin manusia agar berbudi pekerti yang luhur. Di bawah bimbingan guru-guru rohani, gerakan tarekat sufi dengan berjuta-juta pengikut di Indonesia diharapkan sebagai gerakan kultural untuk memberantas ekstremisme-terorisme.

Sufi dikenal sebagai sekumpulan kaum beragama yang melawan kekerasan tanpa kekerasan. Kalau kelompok ekstrem cenderung brutal, merasa diri paling mutlak benar, lalu mengumbar khutbah pengkafiran (takfiri), maka sufi justru asyik merayakan cinta kasih. Mereka tidak terjebak dalam pertikaian mazhab yang bersifat kulit, namun fokus pada isi. Lalu terjadi perjumpaan jiwa dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang berpangkal pada akhlakul karimah sebagai out-put kaum beriman.

Persebaran cahaya sufi bisa menjadi lahan subur untuk memperkaya khazanah metode deradikalisasi. Tarekat bisa berkolaborasi dengan NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah beserta kaum moderat lainnya sebagai garda terdepan untuk mengarus-utamakan watak Islam yang moderat, toleran dan inklusif. Mereka bisa dimaksimalkan sebagai jangkar utama NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Hal ini sejurus dengan Pancasila dan UUD 1945 sebagai titik pertemuan atau kalimatun sawa(common platform) dengan keberagaman agama di Indonesia.

Kalau diringkas ke dalam bahasa yang praktis, isi Pancasila dapat dibumikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang terdiri dari lima sila itu. Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah dijewantahkan melalui narasi kekerasan atas nama tuhan, melainkan pembumian nilai-nilai ketuhanan ke dalam realitas kemanusiaan yang berwujud harmoni dan tenggang rasa. Kemanusiaan yang adil dan beradab mesti diletakkan dalam bingkai pemenuhan hak-hak mendasar warga yang dijamin oleh pemerintah secara merata dan berkeadilan agar tidak menimbulkan radikalisasi kaum pinggiran lewat bahasa kekerasan yang menciderai keadaban. Persatuan Indonesia adalah sebuah harapan, meski berbeda-beda suku dan agama, namun saling menghargai demi kemajuan bersama. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan idealnya mengembalikan kedaulatan rakyat dan kearifan berdemokrasi tanpa terkerangkeng oleh duitokrasi, oligarki dan kebebasan yang bablas. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah kunci bagi stabilisasi warga, dan ketimpangan sosial-ekonomi mesti diatasi secara komprehensif, sehingga tidak muncul resistensi ekstrem.

Maka, menangkan Pancasila perlu digaungkan terus-menerus agar terorisme kian terkikis dari ibu pertiwi. Aksi kolektif bangsa Indonesia adalah mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila, lalu memaknai etika berwarganegara sesuai konsensus nasional. Dengan nawaitu dan cara itu, kita dapat menikmati kemerdekaan, seraya mengisinya dengan aktivitas-aktivitas yang produktif bagi perwujudan nusantara berkemajuan. Para pendiri bangsa sudah bersusah payah meletakkan fondasi dan dasar negara, maka kewajiban kita adalah merawatnya. Merdeka.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*