IBI Kota Bogor Gelar Puncak Perayaan HUT ke-67

Perayaan HUT IBI ke-67 di Gedung Keumuning Gading, Kota Bogor, Sabtu 11/8/2018 (dok. KM)
Perayaan HUT IBI ke-67 di Gedung Keumuning Gading, Kota Bogor, Sabtu 11/8/2018 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Bogor menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 dengan tema “Bidan Garda Terdepan Mengawal Kesehatan Maternal Neonatal Melalui Germas dan Pelayanan Berkualitas” di Gedung Keumuning Gading, Kota Bogor, Sabtu 11/8.

Helatan tersebut merupakan puncak acara HUT IBI tepat pada tanggal 24 Juni 2018. IBI menaungi sebanyak 758 bidan di Kota Bogor, termasuk 150 bidan yang membuka praktek mandiri.

“Artinya, bukan praktek mandiri semua tapi mereka yang praktek di satu tempat ada 2 bidan. Contohnya saya, sudah usia segini banyak kegiatan jadi di rumah punya anak yang juga udah punya ijin praktek. Jadi kami tidak hanya sendiri bekerja,” jelas Ketua IBI Kota Bogor, Kusmilatipah, kepada awak media di Gedung Kemuning Gading, Sabtu (11/08/2018).

Wanita yang kerap di sapa Ii itu, menuturkan, sebelumnya, organisasi tersebut telah mengadakan pelayanan untuk masyarakat yang dipersembahkan oleh Ikatan Bidan Indonesia cabang Kota Bogor. “Kami serentak menginformasikan kepada bidan mandiri tolong digratiskan pasien, jadi walaupun hanya suntik KB satu orang, kami menggratiskan,” ujarnya.

Dari para anggota IBI sendiri memiliki beberapa kegiatan, sama seperti bidan-bidan lainnya. Diantaranya, melayani pemeriksaan kehamilan, persalinan, KB, imunisasi bayi, dan juga melayani konsultasi kesehatan reproduksi, khusunya wanita. Selain itu, jika ada momen pelayanan Safari KB di Puskesmas, para anggota IBI pun ikut berperan di kesempatan tersebut. Para bidan pun mempunyai beberapa rambu untuk mengatasi pasien.

“Kami harus tahu pada saat pertolongan persalinan contohnya, kami punya patokan yang dinamakan Partograf, apabila garis Partograf itu sudah melewati garis waspada, kami bidan harus waspada untuk cepat merujuk. Jadi kami tidak semuanya pasien bisa dilayani bidan, ada rambu-rambu yang harus kami taati dan kami patuhi,” bebernya.

Dirinya mengungkapkan bahwa IBI bertugas untuk melayani seperti umumnya para bidan baik di puskesmas maupun rumah sakit, contohnya melayani ibu hamil, memberikan asuhan kepada ibu hamil, ibu melahirkan, dan kepada ibu nifas habis melahirkan hingga 42 hari.

“Diantara itu kami juga memberikan pelayanan KB, pelayanan itu bisa ada di Rumah Sakit (RS), kalau mereka dosen mereka melayani mahasiswinya tapi tetap mereka adalah bidan. Ada juga yang praktek mandiri, tidak kerja di rumah sakit atau puskesmas tapi mereka mempunyai izin praktik,” ungkapnya.

Selama ini IBI telah berkiprah dimasyarakat bertugas untuk mendampingi para perempuan dan sahabat perempuan otomatis. “Dengan bekerja sama dengan Pemkot kami punya kesempatan untuk mengimplentasikan ilmu pelatihan yang kami dapatkan, karena apa artinya seorang bidan tanpa kerja sama dengan instansi lain,” harapnya.

IBI sendiri tidak mengharapkan nilai atau pun tanda jasa tetapi mengharapkan agar bisa mengamalkan ilmu yang mereka miliki untuk membuat masyarakat puas. “Jika masyarakat puas berarti kami juga puas dengan memberikan pelayanan,” pungkasnya.

Reporter: RIO
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*