Kemenkes: “Masyarakat Salah Persepsi Tentang Susu Kental Manis”

Dirjen Kesmas Kirana Prita Sari (kiri) dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek (dok. KM)
Dirjen Kesmas Kirana Prita Sari (kiri) dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Ancaman kesehatan dari kebanyakan konsumsi susu kental manis kembali digarisbawahi oleh Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek. Menkes menegaskan bahwa bahaya konsumsi susu kental manis berasal dari tingginya kandungan gula.

“Kalau dari kami Kemenkes jelas, kalau gula terlalu tinggi mengganggu kesehatan kita, apalagi kita sudah tahu kalau kebanyakan gula bisa diabetes. Namun kita tetap makan sedikit, sekedar mencoba, jangan mengurangi, tapi harus tetap menjaga keseimbangannya. Untuk aturannya saya tidak bisa jawab dulu, tentu saya lihat dari kajian, nanti ada staf saya yang mengkaji,” ujar Menkes sebelum rapat tertutup dengan Komisi IX DPR RI, Kamis 5/7, Gedung Nusantara 1, Senayan, Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Kesmas Kirana Prita Sari menjelaskan bahwa susu kental manis “tidak dianjurkan untuk balita”, dan susu kental manis lebih cocok digunakan untuk makanan-makanan snack atau “makan di pesta-pesta”.

“Itu yang dianjurkan Kemenkes karena masyarakat sering salah persepsi, jadi susu kental manis tidak untuk pemenuhan nutrisi,” tutur Kirana.

“Kita tahu kebutuhan balita harus memperhatikan kecukupan gizi, sementara susu kental manis terlalu banyak mengandung gula atau melebihi kebutuhan dari balita,” lanjutnya.

“Kalau anak banyak makan gula dia akan kurang makan yang lainnya, padahal dia butuh protein, butuh lemak, kalau sudah terlalu banyak makan gula cenderung anak tidak mau makan yang lain. Ini yang harus kita hindari,” sambungnya.

Lebih jauh Kirana menjelaskan bahwa pedoman yang sama berlaku bagi orang dewasa.

“Sama saja karena kan ada ukurannya, untuk anak balita juga ada ukurannya. Kita harus memperhatikan itu, orang dewasa juga tidak boleh terlalu banyak minum minuman yang terlalu banyak gulanya,” katanya.

Advertisement

“Kalau dari sisi program kita sudah punya aturan untuk ketetapan gizi seperti daging kira-kira berapa gram kandungan gizinya, itu sudah ada takarannya,” jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya akan lebih mensosialisasikan tentang kecukupan gizi bagi anak-anak.

“Kalau memang itu kurang luas informasinya,ya kita harus perbaiki,kita harus informasikan dan sosialisasikan termasuk juga pola pemberian makan terhadap bayi dan anak karena mereka sangat tergantung dari kecukupan gizi itu. Kalau orang dewasa dia bisa memilih dan mencari sendiri gizi itu,” ujarnya.

“Kalau anak balita dia hanya menunggu bagaimana orang tua memberi gizi yang cukup. Kalau orang tua kurang mengetahui informasi mengenai ini maka mereka bisa salah saat memberikan gizi pada anaknya,” sambungnya.

Menurut Kirana, susu kental manis bisa dikonsumsi, namun sifatnya tidak pokok. “Jadi kalau untuk kecukupan gizi pokoknya makan tiga kali sehari dan diusahakan mengurangi susu kental manis untuk balita maupun orang dewasa,” katanya.

Sementara Anggota Komisi IX DPR Imam Suroso menjelaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan memanggil BPOM terkait rincian susu apa saja yang banyak mengandung gula dan pengawasan serta sanksinya seperti apa. “Nanti kita akan undang ke Komisi IX DPR RI,” ujar Imam.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: