Politisi Demokrat: “Meningkatnya Radikalisme Karena Kurangnya Nilai-nilai Agama dan Pengaruh Medsos”
JAKARTA (KM) -Â Paham radikalisme dan terorisme yang dinilai sudah mulai “menggerogoti kampus” menurut Anggota Komisi X DPR RI, Muslim, disebabkan kurangnya nilai-nilai agama dan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Politisi Partai Deokrat itu juga mengatakan bahwa dalam upaya pencegahan radikalisme, pendekatan emosional “jauh lebih bagus” ketimbang pendekatan sisi-sisi lainnya.
“Apalagi dengan anggaran yang besar dan melibatkan MK RI untuk pengkajian buat tugas atau kegiatan di kampus-kampus seperti lomba empat pilar, untuk bagaimana menumbuhkembangkan rasa cinta terhadap Tanah Air, rasa cinta terhadap bangsa kita sendiri, jadi jangan hanya kita bicara seolah-olah bangsa lain lebih bagus dari bangsa kita, padahal bangsa kita jauh lebih bagus daripada bangsa lain,†ujar Muslim saat ditemui KM di Kompleks Parlemen, Kamis 7/6.
Muslim juga meyakini bahwa kejadian di kampus UNRI Riau kemarin karena kurangnya pengawasan dari internal kampus.
“Selain itu, kita ambil hikmah dari kejadian tersebut, untuk lebih meningkatkan pengawasan, baik Rektor maupun pihak kampus harus lebih ketat dalam pengawasan, ketika ada hal-hal yang mencurigakan pihak kampus bisa melaporkan kepada pihak berwajib yang terkait lainnya,” tutur Muslim.
“Artinya ketika ada tanda-tanda tindakan sudah mengarah kepada radikalisme dan tindakan-tindakan yang tidak benar, harus dilakukan tindakan pertama oleh pihak kampus, kalau tidak bisa, mereka bisa melaporkan ke polisi atau pihak-pihak yang terkait,†kata politisi Demokrat itu.
Muslim juga mendorong agar kampus-kampus meningkatkan kegiatan-kegiatan “bernuansa agamis”.
“Negara kita yang mayoritas muslim ini, harus kita dorong untuk lebih banyak dalam melakukan kegiatan-kegiatan bernuansa agamis, sehingga mereka tidak berfikir kemana-mana,†ucap Muslim meyakini.
Dirinya melihat persoalan yang terjadi hari ini adalah masalah moral.
“Kita bisa lihat di kampus-kampus sudah sangat jarang kegiatan-kegiatan bernuansa agamis, seperti perayaan Isra’ Mi’raj atau kegiatan Islam lainnya, apalagi kita mayoritas Islam, meskipun di luar Islam ada Kristen dan sebagainya,” kata politisi asal Aceh ini.
“Nah ini harus dikembalikan, seperti Islam kembali ke ajaran Islam, Kristen kembali ke ajaran Kristen, kalau ini dikembalikan saya yakin akan bagus, budi pekerti akan bagus, sosial kita bagus,” tuturnya.
“Nah hal ini sudah jauh, orang sibuk dengan gadget, media sosial, apalagi dengan rendahnya SDM, mereka dengan mudahnya memfitnah dan suka-sukanya sendiri. Jadi pengaruh media sosial ini sangat besar, orang akan mudah terpengaruh dan mengikuti, seperti terjadi pemerkosaan, apalagi dengan rendahnya SDM akan berdominasi terjadinya hal-hal di luar ketentuan,” jelasnya.
“Seperti contohnya di Aceh sekarang banyak terjadi pembunuhan, kalau dulu tidak ada, karena apa? Kurangnya nilai-nilai agama,” tutupnya.
Reporter:Â Indra Falmigo
Editor: HJA
Leave a comment