[FOTO] Unjuk Rasa “Hari Quds Internasional” Digelar Serentak di Kota-kota Besar, Kecam Penjajahan Israel atas Palestina

Aksi teatrikal aktivis pada unjuk rasa Hari Quds Internasional di Jakarta Pusat, 8 Juni 2018 (dok. KM)
Aksi teatrikal aktivis pada unjuk rasa Hari Quds Internasional di Jakarta Pusat, 8 Juni 2018 (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Ribuan massa yang tergabung dalam Komite Solidaritas Palestina dan Yaman (KOSPY) memperingati “Hari Quds Internasional” dengan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jumat 6/8. Peserta yang datang dari berbagai daerah itu berkumpul untuk mengecam penjajahan Israel atas Palestina serta mengecam sokongan yang diberikan Amerika Serikat terhadap Israel kendati negara Zionis tersebut kerap melanggar HAM warga Palestina.

Adapun Hari Quds Internasional diperingati setiap tahunnya pada Jumat terakhir Ramadhan dan umumnya diisi dengan aksi unjuk rasa mengecam penjajahan Israel di Palestina, terutama upaya perebutan kota Yerusalem, yang disebut juga dengan nama “Al Quds”. Hal tersebut dipaparkan oleh ketua KOSPY, Musa Alhabsyi, kepada wartawan.

“Peringatan Hari Quds Internasional digagas oleh [tokoh Revolusi Islam Iran] Ayatollah Khomeini sejak tahun 1979 ketika beliau melihat bahwa Yerusalem atau Al Quds berada dalam ancaman kehancuran dan penindasan yang nyata dari rezim Zionis,” jelas Musa.

“Kami melihat bahwa rezim Israel semakin beringas, semua itu karena dukungan tanpa batas dari negara adidaya Amerika Serikat. Oleh sebab itu, kita berdiri di depan kedubes ini untuk mengutuk dan mengecam pembelaan tanpa batas Amerika Serikat di forum-forum internasional atas segala macam kekejian yang terjadi di Palestina,” lanjutnya.

Aksi demo Hari Quds tersebut digelar tidak lama menyusul pemindahan Kedubes AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem dan aksi protes Great March of Return di perbatasan Gaza-Israel, yang hingga kini telah berujung tewasnya sedikitnya 120 pemrotes dari Gaza akibat penggunaan peluru tajam oleh aparat keamanan Israel, termasuk anak-anak dan relawan medis seperti Razan Al-Najjar, seorang perawat yang ditembak mati oleh penembak jitu dari Israel.

“Razan Najjar adalah salah satu dari sekian relawan medis yang tewas karena ditembak dengan peluru kupu-kupu. Najjar gugur saat sedang menolong korban luka-luka… Peluru kupu-kupu dilarang oleh Konvensi Den Haag 1889. Peluru itu ditembakkan kepada para demonstran yang sama sekali tidak menghadirkan ancaman terhadap para serdadu Israel yang berjajar di balik pagar kawat berduri,” jelas Musa.

Dalam pernyataan resmi KOSPY yang diterima KM sore ini, selain mengecam kekejaman aparat dan pemerintah Israel terhadap warga Palestina, mereka juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat dunia untuk turut memberi tekanan terhadap rezim Israel.

Advertisement

“Menyeru seluruh elemen masyarakat sipil dunia, terutama umat Islam, untuk ikut menyuarakan protes keras dan kecaman lugas atas kekejian, penjajahan, pembantaian dan genosida yang sedang berlangsung serta memberi dukungan nyata kepada rakyat Palestina. Menyeru… untuk berjuang menghentikan kekejian rezim Zionis ini seperti beberapa puluh tahun lalu masyarakat sipil dunia berhasil mengakhiri rezim apartheid di Afrika Selatan.”

Selain itu, KOSPY juga mendorong pemerintah Indonesia agar meninggalkan “solusi dua negara” yang selama ini digaungkan oleh pemerintah, yang dinilai sudah tidak realistis.

“Mengimbau pemerintah Indonesia untuk meninggalkan solusi dua negara yang kian lama kian tidak mungkin direalisasikan lantaran secara objektif dan faktual, sisa-sisa tanah Palestina telah sepenuhnya diduduki dan diisi ribuan pemukim dan imigran Yahudi dari seantero dunia,” jelasnya.

Aksi tersebut diamankan oleh ratusan aparat gabungan dari jajaran Polsek Gambir, Polres Metro Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya serta aparat Brimob dan Satpol PP.

“Aparat gabungan yang dikerahkan cukup untuk pengamanan aksi,” kata Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Jefri saat ditanya wartawan. Namun ia enggan membeberkan jumlah anggota yang dikerahkan untuk pengamanan aksi tersebut.

Sementara itu Kapolsek Metro Gambir AKBP Anggun Cahyono menjelaskan bahwa jumlah aparat yang dikerahkan tahun ini lebih banyak dari sebelumnya, menyusul peristiwa serangan teroris yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Kegiatan diamankan oleh gabungan aparat dari jajaran Polsek, Polres, Polda, Brimob dan Satpol PP. Pengamanan tidak diperketat, tapi aparat memang ditambah,” jelas AKBP Anggun.

Aksi unjuk rasa tersebut mendapat apresiasi dari Kapolsek yang baru menjabat 2 minggu itu, yang juga memuji peserta aksi yang “menjaga kebersihan dan bersikap santun dalam berbahasa saat orasi.”

Selain di depan Kedubes AS di Jakarta, KM mendapat laporan bahwa unjuk rasa serupa juga digelar di Palembang, Surabaya, Pontianak dan Bandung.

Reporter: HJA

 

 

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*