KUPAS KOLOM: Kebumen Menjadi Kuburan Banteng, NU Berjaya di Jawa

Arief Lukman El Hakiem
Arief Lukman El Hakiem

Oleh Arief Lukman El Hakiem*

Hasil quick count (hitung cepat) Pilgub Jawa Tengah 2018 di beberapa stasiun televisi menunjukkan pasangan petahana, Ganjar Pranowo-Taj Yasin, sementara unggul atas pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah. Namun itu hasil secara total dari 36 kabupaten/kota di Jateng. Kita tentu masih menunggu hasil real count secara resmi dari KPUD.

Bagimana secara khusus di Kebumen, kota yang diklaim sebagai “Kandang Banteng”, dimana sejak Pemilu 1999 (pasca Reformasi 1998) PDIP selalu meraih suara terbanyak?

Data riil dari tim relawan yang diambil langsung pada TPS (Tempat Pemungutan Suara) di Kabupaten Kebumen menunjukan kekalahan telak Ganjar-Yasin yang diusung PDIP. Fakta ini makin menguatkan bahwa Kebumen bukan wilayah yang ramah untuk jago-jago PDIP. Kebumen menjadi “kuburan” bagi para banteng.

Dua kali Pilkada langsung di Kebumen (2010 dan 2015) jago dari PDIP juga tumbang dengan perolehan suara memprihatinkan. Tahun 2010, pasangan PDIP (Rustriyanto – Rini) dipermalukan pasangan Buyar Winarso – Djuwarni. Kemudian 2015 jagoan PDIP (Bambang-Sunarto) dikandaskan pada posisi juru kunci oleh pasangan Khayub – Bahrun dan Fuad Yazid.

Pada ajang Pemilu Legislatif, suara PDIP di Kebumen juga terus merosot. Dari data KPUD Kabupaten Kebumen, pada Pemilu 1999 PDIP behasil mengantarkan 25 wakilnya menduduki kursi DPRD Kebumen. Jumlah tersebut terjun bebas pada Pemilu 2004 yang hanya mengirim 16 wakilnya. Tahun 2009 turun tipis menjadi 15 kursi yang diperoleh.

Pemilu legislatif 2014 adalah tragedi bagi partai berlambang banteng gemuk mata merah mencereng moncong putih di Kebumen. Mereka hanya mampu menempatkan 9 orang kadernya menduduki kursi legislatif. Kesembilan orang tersebut adalah :
1) M Taufik (2.611 suara)
2) Danang Adi Nugroho (3.540 suara)
3) H. Sarimun (4.611 suara)
4) Dian Lestari Subekti Pertiwi (7.213 suara)
5) Yudhy Tri Hartanto (4.810 suara)
6) M Stevani Dwi Artiningsih (3.727 suara)
7) Budi Hianto Susanto (5.460 suara)
8) Cipto Waluyo (9.516 suara) dan
9) Probo Indartono (3.623 suara).

Masa kejayaan banteng di Kebumen sudah selesai. Faktor kemenangan PDIP pada gelaran pemilu terdahulu ternyata hanya euforia masa reformasi dimana peran Srikandi Kebumen, Ibu Hajjah Rustriningsih sangat sentral. Begitu PDIP ditinggalkan Bu Rustri, praktis partai ini konsisten menuju kehancuran.

Ditambah fakta, dari 9 anggota fraksi PDIP, 2 diantaranya kini menjadi tahanan KPK karena terjerat kasus korupsi, yaitu Yudhi Tri Hartanto dan Dian Lestari Subekti. Jumlah ini bisa jadi bertambah dengan adanya operasi KPK yang masih bolak balik Kebumen. Situasi tentu turut menjadi faktor penentu jatuhya kredibiltas kader PDIP di Kebumen.

Advertisement

Faktor lain hancurnya PDIP di Kebumen adalah kembalinya kalangan Nahdliyin ke pangkuan partainya para ulama dan kyai, yaitu PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Kalangan NU Merah (meminjam istilah Kang Juki Achmad Marzoeki) sudah kembali kepada khittah dan habitatnya yaitu PKB. Sementara kalangan nasionalis PDIP sebagian besar bermigrasi ke Partai Gerindra dan Demokrat.

Kembali kepada Pilgub Jateng 2018, peta perolehan suara versi quick count juga menunjukan bahwa provinsi ini bukan lagi kandang banteng. Megawati dengan PDIP nya tidak begitu percaya diri mengusung calonnya. Dua kali Pilgub langsung (2008 dan 2013) PDIP selalu mengusung pasangan calonnya sendiri tanpa koalisi dengan partai manapun. Tahun 2008 PDIP mengusung pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih, tahun 2013 menjagokan duet Ganjar Pranowo – Heru Sujdatmoko.

Jika nantinya KPUD menetapkan kemenangan Ganjar-Yasin, menurut saya adalah faktor Gus Yasin yang merupakan putra tokoh kharismatik, Simbah Kyai Maemun Zuber. Gus Yasin adalah faktor penentu kemenangan GAYA, karena berhasil meraih dukungan kalangan Nahdliyin dan pesantren. Tanpa keberadaan Gus Yasin, saya yakin Ganjar akan tumbang juga di tangan Sudirman Said-Ida Fauziyah yang didukung oleh struktural NU (PBNU maupun PWNU Jateng).

Fakta bahwa selisih suara sangat tipis, menunjukkan bahwa kekuatan PDIP di Jateng sudah melemah. Pasangan GAYA yang didukung PDIP, PPP, Golkar, Demokrat, Hanura dan Nasdem ternyata hanya meraih 50% lebih sedikit. Jauh dari prediksi dan hasil survey yang selama ini dirilis, dimana elektabilitas GAYA mencapai 70an persen.

Kesimpulan saya, gelaran Pilgub Jateng 2018 adalah sinyal negatif bagi PDIP dan sebuah kenyataan bahwa Jateng bukan lagi kandang banteng. Realita bahwa Kebumen kini menuju status sebagai “Kuburan Banteng” kemungkinan besar akan diikuti oleh kabupaten/kota lain di Jateng.

Kebumen dan Jateng akan kembali menjadi rumahnya para kyai dan santri. Sebagimana 2 provinsi lain di Jawa (Jabar dan Jatim) yang menempatkan tokoh-tokoh Nahdliyin sebagai pemenang, Jateng pun sebetulnya menempatkan tokoh Nahdliyin sebagai pemenang yaitu Gus Yasin.

Jadi, bisa dikatakan NU (Nahdlatul Ulama) berjaya dalam Pilgub 3 provinsi di Jawa. Kemengan kader NU adalah kemenangan para ulama, kyai dan santri!

Saatnya Indonesia dipimpin oleh kalangan santri dan kyai!
Jayalah Indonesia…!!!

*Pemerhati politik

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: