Kasus Guru yang Sodomi 13 Siswanya, Komnas Anak Dorong Pemkot Depok Evaluasi Ulang Predikat “Kota Layak Anak”

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait dan Sekjen Dhanang Sasongko mendampingi Kapolresta Depok Kombes Didik Sugiarto dalam memberikan keterangan pers terkait kasus pelecehan seksual, Jumat 8/6/18 di Mapolresta Depok (dok. KM)
Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait dan Sekjen Dhanang Sasongko mendampingi Kapolresta Depok Kombes Didik Sugiarto dalam memberikan keterangan pers terkait kasus pelecehan seksual, Jumat 8/6/18 di Mapolresta Depok (dok. KM)

DEPOK (KM) – Seorang predator kejahatan seksual berprofesi guru honorer Bahasa Inggris di SD Negeri Depok terancam pasal 82 UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan kedua dari UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Depok Kombes Didik Sugiarto saat menjawab awak media pada saat rilis update kasus WR di Mapolresta Depok, Jumat, 18/6/2018.

Di saat pelaku berinisial WR itu ditemui Tim Investigasi yang dipimpin Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak bersama Sekjen Komnas Perlindungan Anak di ruangan Kasatreskrimum Polres Depok, warga Taman Duta Depok itu mengakui telah melakukan kejahatan seksual terhadap 13 siswanya yang berusia antara 8-12 tahun.

Kejahatan dalam bentuk sodomi (seks melalui anus) itu diakui dilakukan pelaku di ruang perpustakaan, ruang kelas dan kolam renang.

“Motif kejahatan seksual adalah kesenangan seksual terhadap usia anak serta pemuasan dendam seksual pada pengalaman masa-masa kecil yang dilakukan dalam bentuk sodomi,” kata Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kepada awak saat rilis kasus WR bersama Kapolres Depok.

Sekjen Komnas Perlindungan Anak Dhanang Sasongko menambahkan bahwa setelah melakukan asesmen terhadap pelaku, langkah berikutnya, Tim Komnas Perlindungan Anak berkoordinasi dengan Polres Depok khususnya Kasatreskrimum dan unit PPA akan melakukan “needs assement” dan in depth interviews terhadap korban untuk memberikan trauma healing melalui pendekatan “psychosocial therapy“.

“Atas kejadian kejahatan seksual yang terjadi di lingkungan sekolah dan dilakukan guru yang seyogianya sebagai garda terdepan menjaga melindungi anak peserta didik dari kejahatan seksual, sudah saatnya Dinas Pendidikan Depok mengevaluasi sistem, pola serta manajemen pengelolaan dan pembelajaran sekolah. Lingkungan sekolah harus sungguh bersahabat dan ramah pada anak,” kata Arist.

“Demi kepentingan terbaik anak dan dalam rangka memutus mata rantai kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan seksual di lingkungan terdekat anak yakni rumah maupun lingkungan sekolah, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang diberikan mandat, tugas dan fungsi memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia mendorong pemerintah Kota Depok untuk segera mengevaluasi ulang predikat Kota Depok sebagai Kota Layak Anak dan mengevaluasi 31 indikator sebagai syarat yang diberikan Kemen PPPA RI Depok sebagai kota layak anak. Dan untuk membangun partisipasi masyarakat melindungi anak di lingkungannya masing-masing, segera membangun dan mendorong gerakan perlindungan di seluruh kampung, desa dan kelurahan di seluruh Depok,“ tambah Arist.

“Untuk kasus kejahatan seksual sodomi ini, Komnas Anak juga memberikan apresasi kepada Kasat Reskrim Polres Depok yang telah melakukan kerja keras dan cepat mengungkap dan menangkap pelaku sodomi. Kerja keras dan cepat ini merupakan tekad Kapolres Depok tidak ada kompromi dan kata damai terhadap segala bentuk kekerasan seksual di wilayah Depok,” jelas Arist.

Reporter: Marsono Rh
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*