Polda Banten Akan Usut Isu Tsunami, BMKG: “Peneliti Tidak Melakukan Prediksi Tapi Mencoba Mengungkap Potensi”

Titik- titik potensial tsunami di Indonesia yang dirilis BMG (foto stock BMKG)
Titik- titik potensial tsunami di Indonesia yang dirilis BMG (foto stock BMKG)

BANTEN (KM) – Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Banten Kombes Pol Abdul Karim, Jumat (6/4/2018) mengatakan pihaknya akan memanggil penyelenggara dan ahli yang mengatakan adanya potensi tsunami sebesar 57 meter di Pandeglang. Rencananya, Rabu 11/4/2018 atau Kamis 12/4/2018 akan dimintai keterangan.

“Kita akan lihat ini semua. Bukan dia (BPPT) saja pakar yang hebat. Di Indonesia ini banyak pakar yang hebat selain dia. Dasarnya mereka melakukan penelitian ini dari mana, kita akan cek semua,” ujar Abdul Karim.

Pihak Polda Banten akan melakukan komparasi antara ahli BPPT Widjo Kongko dengan ahli lain yang punya kualifikasi keilmuan terkait potensi tsunami. Jika terdapat unsur pidana, pihaknya akan melakukan proses hukum karena telah membuat resah masyarakat Pandeglang. Pengaruh dari informasi tersebut, investasi yang ada di Pandeglang khususnya KEK Tanjung Lesung terpengaruh.

Dalam Seminar Ilmiah Sumber-sumber Gempa bumi dan Tsunami di Jawa Bagian Barat di Kantor BMKG Selasa (3 April 2018), peneliti tsunami BPPT Widjo Kongko mengungkap ada potensi tsunami setinggi 57 meter di Kabupaten Pandeglang, Banten sesuai kajian ilmiahnya.

Sementara itu BMKG dalam rilis yang dikeluarkan Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly pada 5 April 2018 terkait potensi tsunami di Pandeglang Banten, mengatakan bahwa berdasarkan UU no 31 tahun 2009, BMKG mendapat mandat dan wewenang untuk melakukan observasi, analisis dan diseminasi informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami.

“Dalam rangka memberikan layanan informasi gempabumi dan tsunami secara lebih tepat dan akurat sesuai yang dimandatkan dalam UU no 31 /thn 2009, BMKG menjalin kerjasama dengan para pakar di bidang gempa bumi dan tsunami dari berbagai lembaga, instansi dan perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri,” terang Dr. Sadly.

“Hasil penelitian dan kajian bersama para pakar yang sudah teruji secara ilmiah berbasis data yang memadai dan valid, dapat diterapkan dalam mendukung analisis untuk meningkatkan kualitas dan akurasi info gempa bumi dan tsunami yang diberikan oleh BMKG. Oleh karena itu masyarakat dihimbau untuk lebih arif dalam memahami info kegempaan dan tsunami, khususnya apabila informasi tersebut masih berupa kajian awal yang belum teruji, maka informasi tersebut belum dapat menjadi pegangan resmi untuk menjadi acuan dalam upaya mitigasi bencana,” sambungnya.

Sadly menjelaskan, pada kasus hasil kajian potensi tsunami di Pandeglang, peneliti sebenarnya tidak melakukan prediksi tapi mencoba mengungkap potensi yang masih perlu dikaji lebih lanjut berbasis data ilmiah yang lebih memadai. “Karena peneliti tersebut tidak menyebutkan kapan akan terjadinya, sehingga dalam hal ini masyarakat dihimbau agar tetap tenang,” katanya.

“BMKG akan terus melakukan monitoring aktivitas gempabumi di Indonesia termasuk potensi tsunami dari setiap gempa kuat yang terjadi, dan segera memberikan informasi tersebut dengan cepat dalam waktu kurang dari 5 menit, melalui berbagai media diseminasi (sms, website, Sosial Media dan Aplikasi Info BMKG). Selain itu BMKG bersama pihak terkait akan terus aktif dalam memberikan edukasi, terkait mitigasi gempabumi dan tsunami kepada stakeholder, masyarakat, dan media, untuk mendukung efektivitas pengurangan risiko bencana.”

“Untuk itu masyarakat diminta untuk selalu mengikuti informasi BMKG melalui website http://www.bmkg.go.id. Atau aplikasi “Info BMKG” yg dpt diunduh dari Mobile Apps (iOS dan Android) atau melalui Sosial Media, yaitu Twitter @infoBMKG, Instagram @infobmkg, Facebook Info BMKG dan Youtube Info BMKG,” tutupnya.

Reporter: Marsono SPd
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*