BPPT: Potensi Tsunami tertinggi di Pandeglang setinggi 57 meter, Tangerang 4,2 meter

Narasumber berpose bersama dalam Seminar Ilmiah dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-68 dengan tema
Narasumber berpose bersama dalam Seminar Ilmiah dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-68 dengan tema "Sumber-Sumber Gempabumi dan Tsunami di Jawa Bagian Barat" yang diadakan dalam rangka ulangtahun ke-68 BMKG di Gedung BMKG Kemayoran Jakarta Pusat, Selasa, 3/4/2018

JAKARTA (KM) – Widjo Kongko, peneliti tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memprediksi ada potensi tsunami setinggi 57 meter di Kabupaten Pandeglang, Banten dan akan mencapai Jakarta Utara. Widjo menyampaikan ini dalam diskusi sumber-sumber gempa bumi dan potensi tsunami di Jawa bagian barat.

Hadir dalam diskusi ini Dr. Dany Hilman Natawidjaja (Geotek-LIPI) dengan presentasi berjudul “Evaluasi Jalur Sesar Aktif dan Zona Subduksi di Wilayah Jawa Bagian Barat Untuk Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami”, Dr. Widjo Kongko (BPPT) dengan presentasi berjudul “Potensi Tsunami di Jawa Bagian Barat”, Dr. Irwan Meilano (ITB) dengan presentasi berjudul “Deformasi Terkini di Pulau Jawa dan Implikasinya Terhadap Potensi Bahaya Gempabumi”, dan Dr. Iman Suardi (STMKG-BMKG) dengan presentasi berjudul “Proses Sumber Gempa Bumi Tasikmalaya 2 September 2009” dengan moderator Dr. Jaya Murjaya yang diadakan di Gedung BMKG, Jalan Angkasa Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/4/2018).

Dr. Widjo menjelaskan, tsunami itu bisa terjadi karena di Jawa Barat tengah diprediksi adanya gempa megathrust di daerah subduksi di selatan Jawa dan Selat Sunda. Dampak gempa megathrust ini adalah adanya gempa di Banten pada akhir Januari 2018. Apabila kekuatan gempa mencapai 9 skala Richter di kedalaman laut yang dangkal, tsunami besar akan terjadi.

“Di Jawa Barat bagian selatan bisa mencapai 8,8 Magnitudo atau 9 sehingga kaidah umum kalau di atas 7 magnitudo dan terjadi di lautan dangkal sumbernya, maka potensi tsunami besar akan terjadi di daerah sana (Pandeglang) karena merupakan kabupaten paling dekat dengan laut selatan. Dalam hitungan setengah jam, tsunami diperkirakan akan mencapai daratan Kabupaten Pandeglang dengan ketinggian bisa di atas 57 meter,” ujarnya.

Selain di Pandeglang, tsunami itu diprediksi akan mencapai beberapa wilayah di Jawa Barat, Banten dan Jakarta. Beberapa wilayah itu di antaranya Sukabumi dengan ketinggian 41,5 meter, Ciamis 39,8 meter, Lebak 39,4 meter, Cianjur 3,2 meter, Garut 30,1 meter, Tasikmalaya 28,2 meter, Serang-Banten 5,5 meter, Tangerang 4,2 meter, Jakarta Utara 2,4 meter, dan Bekasi Utara 2,8 meter dengan rentang waktu 3 hingga 5 jam.

“Ya (tsunami akan lebih besar) terutama di Aceh. Ya kalau di Aceh katakan skalanya 9 lebih skala Ritcher begitu. Kalau di sana juga terjadi segitu bisa besar seperti Aceh bahkan dari segi model bisa lebih besar karena kedalaman air di sana lebih dalam secara umum dibandingkan Aceh. Kalau semakin dalam, volume air yang dipindahkan semakin dalam dari gempa bumi kemudian tsunaminya menyebabkan besar,” kata Widjo.

Sekretaris Utama BMKG Untung Merdijanto mengatakan belum bisa memastikan kapan tsunami ini terjadi. Namun dia berharap seluruh pejabat pemerintah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dapat memuat mitigasi bencana untuk antisipasi.

“Kapan? Tentu kami tidak bisa memastikan karena belum ada alat yang bisa mendeteksi. Tetapi tentunya kami selalu mengadakan kajian ilmiah untuk melihat potensi yang ada. Tentu yang paling penting adalah, kita telah mengetahui secara umum, meskipun belum detail kajiannya. Intinya, migitasi perlu kita siapkan sejak awal,” tutur Sekum BMKG ini.

Menanggapi hal tersebut, dalam keterangan tertulis, Kepala BPPT Unggul Priyanto menjelaskan, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir lantaran isu potensi tsunami di bagian barat pulau Jawa karena masih merupakan kajian pemodelan ilmiah. Sehingga potensi tersebut masih belum bisa dipastikan terjadi atau tidaknya.

“Datangnya bisa saja masih lama, bisa saja juga tidak terjadi, masyarakat tidak perlu galau dengan pemberitaan yang tidak lengkap atau sensasional,” ujar Unggul, Rabu (4/4/2018).

Seminar ini menghasilkan rekomendasi sebagai berikut:
1. Oleh karena diduga banyak wilayah di Jawa bagian barat yang mungkin terdampak gempa, maka dalam penelitian kegempaan butuh prioritas dan pengetahuan sumber gempa yang sebaik-baiknya dan strategi serta sasaran yang tepat.
2. Perlu identifikasi jalur-jalur sesar dan penelitian intensif serta komprehensif terkait parameter gempa sesar aktif khususnya data slip rate (laju geser) dan data paleoseismologi yang belum diteliti.
3. Diperlukan pemetaan dan penelitian jalur-jalur sesar aktif untuk wilayah yang memiliki bangunan-bangunan besar atau instalasi vital. Selain itu dalam persyaratan konstruksi bangunan tahan goncangan gempa juga harus memperhatikan lokasi jalur-jalur sesar aktif tersebut sebagai sumber bahaya deformasi tanah dan likuifaksi.
4. Keberadaan zona sesar Baribis – Kendeng yang lewat Surabaya – Semarang – Cirebon dan mungkin Jakarta, sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, ancaman bahaya sekecil apapun perlu ditindak lanjuti secara serius apalagi ancaman besar, perlu ada Extreme Measure atau Worst Case Scenario.
5. Diperkirakan adanya interplate coupling di Selat Sunda dan Palung Jawa yang mencapai 50-80 persen, defisit slip pada bidang suduksi ini memiliki implikasi penting untuk potensi bahaya gempabumi di selatan Jawa bagian barat. Oleh karena itu usaha pengurangan resiko gempabumi harus dilakukan secara serius agar potensi gempa tidak akan menjadi bencana.
6. Dalam usaha pengurangan resiko gempabumi, pertanyaannya lebih pada “apa yang harus kita perbuat” dan bukan “kapan”.
7. Penelitian mekanisme sumber seperti yang dilakukan untuk gempa Tasikmalaya 2009 perlu diterapkan pada kejadian gempabumi yang signifikan di Indonesia terutama terkait dengan usaha mitigasi bencana gempabumi dan tsunami.
8. Percepatan dan perluasan pembangunan (jaringan jalan, jembatan, pelabuhan, infratruktur destinasi wisata) di wilayah pantai yang rentan terhadap bahaya tsunami perlu dilakukan kajian mendalam terkait potensi bahaya tsunami di wilayah tersebut.

Acara seminar ini berakhir dengan dibacakannya rekomendasi tersebut. Catatan yang penting adalah informasi dan pengetahuan yang tepat akan membuat masyarakat lebih siap dalam menghadapi ancaman bahaya gempa bumi dan tsunami.

Reporter: Marsono SPd
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*