KUPAS KOLOM: Hati Hati Saat Menasehati Anak Anda Dari Berbagai pengaruh Negatif

andri hakim
Penulis

Oleh Andri Hakim*

Dewasa ini banyak sekali berita yang menceritakan bagaimana kelakuan anak-anak zaman sekarang yang sudah tidak lagi mempedulikan penghormatan terhadap kedua orang tuanya. Bagi mereka, urusan anak bukanlah urusan orang tua dan sebaliknya.

Proses tumbuh kembang anak sudah tidak terkendalikan lagi. Pergaulan bebas, tawuran telah marak di usia dini juga pemakaian obat-obat terlarang tidak dipedulikan lagi oleh anak-anak. Sementara, disisi lain anak-anak merupakan penerus generasi bangsa, yang jika tidak dibina dan dipupuk sejak dini maka dapat diprediksi kemana nasib bangsa kita kedepan.

Tayangan televisi yang mengangkat kisah reality terkesan memberikan pembelajaran “buruk” kepada pemirsanya. Hal ini dikarenakan banyak tayangan-tayangan yang mempertontonkan perbuatan “kurang ajar” kepada orang tuanya. Segala bentuk “makian”, “bentakan” dan “kata-kata kotor” sudah menjadi hal biasa yang diucapkan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Padahal jelas-jelas didalam pendidikan agama, hal tersebut telah bertentangan dan termasuk dalam perbuatan yang “dilarang oleh Allah SWT”.

Proses membentengi anak dengan menghindari berbagai gadget, game online, tayangan televisi yang merajalela seperti film, sinetron dan lain-lain baik di televisi, layar lebar, atau yang berupa DVD, VCD, Internet, dan lainnya membutuhkan kerja ekstra bagi setiap orang tua untuk memfilter mana saja tayangan yang sebaiknya ditonton oleh anak-anaknya.

Namun semua itu sebenarnya dapat disikapi secara bijaksana. Proses tumbuh kembang anak merupakan kolaborasi antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, dan kolaborasj tersebut dapat dimulai sejak anak berusia 0 tahun. Masa inilah merupakan “pondasi” bagi seorang anak untuk membekali dirinya dalam menyongsong dan menjalani kehidupan dimasa depannya. Proses pembelajaran “etika, value/nilai, kepribadian, dan sikap” perlu ditanamkan sedini mungkin agar mereka benar-benar menjadi sosok penerus bangsa yang berperilaku dan berkepribadian luhur seperti apa yang diamanatkan oleh para pejuang negeri tercinta ini.

Orang tua sebaiknya tidak banyak memberikan nasehat-nasehat sebatas ucapan saja, namun berikan contoh-contoh suri tauladan kepada anak-anaknya, agar kita dapat menciptakan masa depan bangsa, generasi cemerlang berakhlak mulia. Mulai sekarang anda dapat mencontohkan hal yang sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan namun dibutuhkan komitmen yang kuat dan penguatan setiap harinya, seperti :
1. Berikan contoh kepada anak-anak anda bagaimana nkkmatnya bangun pagi dan berdoa, menjalankan ibadah sholat bagi yang muslim dan bersama-sama duduk dimeja makan sambil berbincang hal-hal yang menyenangkan.
2. Berikan contoh kepada anak-anak anda bagaimana indahnya mengantri dalam kondisi apapun, mulai dari mengantri dijalan, diloket, saat pengambilan raport, saat ditempat makan, dan lain-lain.
3. Berikan contoh kepada anak-anak anda bagaimana indahnya membuang sampah pada tempatnya, ceritakan pada mereka bahwa dunia akan penuh dengan sampah jika kita tidak turut menjaganya.
4. Berikan contoh kepada anak bagaimana bersifat tenang, tidak emosi, tidak marah-marah, tidak main hakim sendiri, berani karena benar, tidak melanggar hal-hal yang sudah diatur, dan lain sebagainya.
5. Berikan contoh kepada anak-anak anda bahwa ada aktivitas lain selain bermain gadget, menonton televisi baik sinetron dan lainnya yang mampu menambah kapasitas seseorang seperti membaca buku, mempelajari hal yang baru, memasak, olah raga, dan lain-lain.

Dengan memberikan suri tauladan kepada anak-anaknya, maka orang tua tidak perlu lagi berorientasi pada ucapan atau nasehat saja. Ingat, sebuah perbuatan positif memiliki berjuta faedah ketimbang hanya ucapan nasehat tanpa bentuk konkrit. Sehingga mulai sekarang bentuklah setiap kata-kata anda menjadi perbuatan yang mampu menginspirasi buah hati anda.

Salam Kebahagiaan

*Penulis, Hipnoterapis Dan Praktisi Bawah Sadar

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*