KUPAS KOLOM: BukaDompet, Go-Pay dan OVO Akan Menggerus Bank Konvensional!

Ilustrasi penggunaan Go-Pay (stock)
Ilustrasi penggunaan Go-Pay (stock)

Oleh Hasan J. A.*

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo di hadapan para petinggi perbankan di Indonesia menghimbau agar mereka menyiapkan inovasi-inovasi terbaru dan mewaspadai persaingan yang dapat muncul dari dunia di luar perbankan.

Kemudian Presiden Jokowi memberi contoh Yuebao, layanan tabungan milik raksasa e-commerce Alibaba, yang dalam waktu 4 tahun mampu menggeser seluruh bank konvensional di Tiongkok, bahkan di dunia, dan menjadi produk tabungan terbesar di dunia, mengelola tabungan nasabah senilai ratusan miliar dolar.

Apa yang disampaikan Presiden Jokowi hari itu sebenarnya memberi terawangan kepada masa depan perbankan dan keuangan, yang akan segera terjadi: sebuah peralihan uang masyarakat dari bank ke perusahaan-perusahaan e-commerce karena pesatnya perkembangan teknologi finansial (TekFin).

Bank-bank konvensional, dengan struktur organisasi yang besar dan kaku yang kemudian ditambah lagi dengan rangkaian regulasi yang ribet mengalami kesulitan untuk melakukan perubahan yang cepat untuk mengikuti pesatnya perkembangan teknologi, terlebih perkembangan TekFin dan Internet, yang dapat membuat perubahan dalam waktu sekejap.

Sekarang pikirkan saja. Hampir semua layanan perbankan (khususnya produk tabungan) yang sebelumnya hanya dapat diberikan oleh bank-bank konvensional, kini tersedia pula dalam aplikasi-aplikasi buatan raksasa e-commerce seperti TokoPedia, BukaLapak, bahkan Go-Jek. Seorang pengguna dapat menyimpan, mengirim dan menerima uang serta berbelanja melalui aplikasi-aplikasi ini, tanpa harus menyentuh rekening bank, apalagi uang tunai.

Diatara produk TekFin yang sudah populer adalah fitur yang dimunculkan oleh perusahaan-perusahaan e-commerce beberapa tahun lalu, yaitu semacam “dompet” atau saldo online yang dapat dipakai oleh para pengguna untuk menerima dan membayar belanjaan di situs e-commerce itu. Contohnya, BukaDompet milik BukaLapak.com. Ini adalah tangga pertama. Saldo yang tersimpan di BukaDompet dapat dipakai untuk belanja, dan kalau saya punya toko online di BukaLapak, saya menerima pembayaran di BukaDompet saya. Transaksi instan dan (hampir) gratis. Saya bisa bayar tagihan listrik, PDAM, kartu kredit, BPJS, dan tiket pesawat atau kereta dengan menggunakan saldo BukaDompet itu. Saya tidak perlu lagi transfer pembayaran lewat ATM atau membuka aplikasi M-Banking dan sebagainya.

Kemudian muncul pula produk TekFin berupa dompet digital yang dapat melakukan transfer dari satu pengguna ke pengguna lainnya. Sebut saja dompet Go-Pay buatan raksasa transportasi Go-Jek. Inilah tangga kedua. Selain menyimpan dan membayar, saya dapat mengirimkan uang, atau mentransfer uang yang tersimpan dalam Go-Pay saya ke dompet Go-Pay teman saya. Pengirimannya instan dan gratis. Uang yang ada di dompet Go-Pay bisa dipakai untuk belanja atau membayar semua layanan yang ada di aplikasi Go-Jek. Termasuk membayar tagihan listrik dan BPJS, layaknya menu M-Banking.

Setelah itu saya sempat bingung, kemana langkah berikutnya? Sampai tahap ini, saldo yang ada di dompet digital itu belum bisa dipakai untuk belanja di toko atau warung dekat rumah. Apakah mereka akan mengeluarkan semacam kartu debit yang terpaut pada saldo dompet itu?

Kemarin, pertanyaan itu terjawab, ketika istri berbelanja di salah satu retailer milik Lippo Group, Foodmart. Beberapa waktu lalu, Lippo mengeluarkan sebuah aplikasi pembayaran yang bernama OVO. Aplikasi ini berfungsi layaknya rekening bank, dan yang paling penting adalah teknologi pembayaran yang mereka terapkan dengan sistem QR Code. Ketika istri saya berbelanja di Foodmart, kasir menawarkan cara pembayaran menggunakan OVO, dimana setelah tagihan ditotalkan, sebuah QR Code muncul, dan bisa di-scan oleh si pembeli menggunakan aplikasi OVO nya, dan tagihan itu akan dibayar secara otomatis dari saldo dompet OVO yang tersimpan.

“This is it!” kata saya. Ini dia! Tangga ketiga produk e-commerce yang nantinya akan menggerus pangsa pasar bank konvensional untuk produk tabungan. Inilah coup de grace terhadap bank konvensional, serta killer app terhadap uang tunai dan kartu debit. Dengan sistem seperti ini, saya bisa belanja di warung mana saja dan membayar menggunakan cara seperti OVO. Saya hanya perlu scan QR Code dari dompet Ibu Warung dan mengirimkan uang senilai jajanan saya, tanpa batas minimal maupun maksimal. Secara gratis dan instan. Inilah arah masa depan.

Pemerintah selama ini banyak bicara tentang cashless society atau masyarakat tanpa tunai. Awalnya saya mengira tunai akan digantikan dengan kartu-kartu seperti debit, kredit dan tunai elektronik seperti e-money atau Flazz. Tapi ternyata semua itu akan digantikan dengan aplikasi HP buatan raksasa e-commerce.

Nantinya, tidak perlu lagi repot-repot buka rekening di bank dengan setumpuk persyaratan, dengan beban biaya administrasi bulanan dan fee transfer antar bank.

Di masa depan (yang sudah sangat dekat), kita akan berkata, “buat apa buka rekening kalau semuanya bisa lewat hape? Simpan uang, bayar tagihan, kirim uang, bayar belanja, semua gratis dan instan.

Sekarang saja kita sudah bisa mengajukan pinjaman melalui sistem peer to peer lending seperti platform Investree yang nantinya dapat menggerus lagi pasar bank konvensional.

Akhirnya, rekening bank hanya akan dipakai oleh bisnis-bisnis besar. Dan itu pun saya kurang yakin.

Kita bahkan belum bicara tentang blockchain dan bitcoin yang memiliki dampak revolusioner dalam masa depan industri keuangan.

*Pengamat Ekonomi dan Politik, Pemimpin Umum Redaksi KupasMerdeka.com

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*