Ratusan Pedagang Wisma Sawah Besar Kecam Pengusiran Paksa dan Pembongkaran Gedung, Minta Perhatian Pemda DKI

JAKARTA (KM) – Upaya ratusan pedagang onderdil kendaraan bermotor memperoleh kepastian hukum sudah mendapatkan hasil yang maksimal. Namun putusan PK 385 PK/Pdt/2008 tersebut tidak diindahkan oleh pengelola Gedung Wisma Sawah Besar, PT. Muzatek Jaya.

Amar putusan PK yang diajukan Penggugat Arman Setiadi Dkk melawan PT. Muzatek Jaya diantaranya berbunyi, “menyatakan secara hukum penggugat adalah pemegang/pemilik yang sah atas HGB no 1116,1117,1118 Desa Kebon Kelapa yang terletak di Jalan Sukarjo Wiryopranoto no. 30-36 Jakarta Pusat.”

Kekecewaan pemilik kios/pedagang juga ditujukan kepada Pihak Pemda DKI Jakarta dalam hal ini Cipta Karya (P2B) yang memberikan izin membongkar kepada PT. Muzatek Jaya. Padahal para pemilik kios/pedagang merasa bahwa bangunan tersebut adalah milik mereka dengan surat HGB yang mereka miliki.

“Kami masih punya HGB sampai tahun 2021, tapi sekarang kenapa dibongkar?” ujar Widia, salah seorang pemilik kios saat ditemui wartawan di Wisma Sawah Besar, yang dahulu dikenal dengan nama Muzatek Jaya Building, Jalan Jalan Sukarjo Wiryopranoto no. 30-36, Kel. Kebon Kelapa, Kec. Gambir, Jakarta Pusat, Senin (19/03/18).

Sementara pedagang lainnya yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Onderdil Muzatek (ASPOM) menyatakan bahwa sesuai dengan aturan yang berlaku, pembongkaran kios dapat dilaksanakan apabila kios tersebut dalam keadaan kosong dan harus memperhatikan keselamatan para pemilik kios yang masih melakukan aktifitas berdagangnya.

“Coba lihat, kita yang mempunyai kios di lantai bawah, sementara pembongkaran kios di lantai atas dengan menggunakan Belco. Kalau puing-puing dari lantai atas menimpa para pedagang yang di bawah siapa yang bertangggung jawab? Kenapa pihak Pemda DKI tidak ada yang mengawasi?” tanya pedagang lainnya yang bernama Johan.

Salah seorang Pengurus ASPOM, Salim saat ditemui wartawan membeberkan bahwa mereka sepertinya dipaksa segera angkat kaki dari kios tersebut. “Secara berlahan-lahan kita diusir. Dari aliran listrik, air semua sudah diputus. Padahal sekitar lebih kurang 400 pedagang yanga dibawah naungan ASPOM mengandalkan penghasilan dari. berdagang disini.”

Advertisement

“Sekitar tahun 70’an, tahun 80’an kita sudah berdagang disini. Kita punya HGB dimana perpanjangan HGB sampai tahun 2021 sudah dikeluarkan oleh BPN Jakarta Pusat. Pihak dari Pengelola sebagai pemilik lahan harusnya terbuka dong berapa besar biaya yang kita tanggung atas perpanjangan HGB tersebut bukan hanya main bongkar begitu saja,” ucap Salim.

Sementara itu Pengacara Pedagang, JJ Siregar, SH menegaskan akan terus melawan dan mengupayakan agar hak-hak kliennya dalam hal ini para pedagang diberikan, yang paling utama hak berdagang tapa ada intimidasi.

“Langkah awal kita sudah mengadukan hal ini kepada Ombusdman, Komnas HAM dan Gubernur DKI Jakarta untuk menghentikan atau membatalkan izin yang telah dikeluarkan untuk pelaksanaan pembongkaran yang dilakukan oleh PT. Muzatek Jaya maupun pihak ketiga sampai ada titik temu antara pedagang dan pengelola gedung.”

“Dalam minggu ini kita akan melakukan aksi damai mendatangi Gubernur untuk segera mendengarkan aspirasi para pedagang,” ujarnya.

Pantauan tim media, sekitar gedung bahkan hingga ke dalam gedung di lantai dasar puing-puing banyak berserakan di depan kios para pedagang. Bahkan salah satu bangunan yang menurut informasi dari pedagang bahwa bangunan tersebut adalah Kantor PT. Muzatek Jaya sudah “sangat mengancam keselamatan jiwa” para pedagang maupun pembeli saat melintas di bawah bangunan tersebut. Hal ini dikarenakan kemiringan bangunan yang telah dibongkar sebagian tersebut dikhawatirkan suatu waktu dapat menimpa orang yang melintas di bawahnya.

Suasana gelap, becek dialami para wartawan yang turun langsung ke lokasi pembongkaran. Padahal, puluhan kios masih melakukan aktifitas jual beli namun dengan penerangan lilin maupun alat seadanya pedagang masih terus bertahan sampai tuntuntan mereka dipenuhi.

Hingga saat berita ini dimuat, konfirmasi kepada PT. Muzatek Jaya belum dapat dilakukan karena Pimpinan PT. Muzatek Jaya maupun pelaksana pembongkaran kios pedagang tersebut sulit untuk ditemui wartawan.

*RED

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*