Pungli Terekam CCTV, 2 Oknum Pegawai BPN Bekasi Diringkus Polisi

Wakil Kepala Kepolisian Resor Metro Bekasi Lutfhi Sulistiawan menunjukkan barang bukti kasus pungutan liar BPN Kabupaten Bekasi saat konferensi pers di Lobi Mapolrestro, Jumat 16 Maret 2018. Dalam kasus ini, polisi menetapkan dua oknum pegawai BPN sebagai tersangka yakni IS (48) dan RR alias Boy (33)
Wakil Kepala Kepolisian Resor Metro Bekasi Lutfhi Sulistiawan menunjukkan barang bukti kasus pungutan liar BPN Kabupaten Bekasi saat konferensi pers di Lobi Mapolrestro, Jumat 16 Maret 2018. Dalam kasus ini, polisi menetapkan dua oknum pegawai BPN sebagai tersangka yakni IS (48) dan RR alias Boy (33)

CIKARANG, BEKASI (KM) – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor Metro Kabupaten Bekasi menetapkan dua oknum pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bekasi, sebagai tersangka dalam kasus pungutan liar. Mirisnya, justru dua oknum tersebut melakukan pungli meski terekam kamera pengawas (CCTV).

Kedua oknum tersebut yakni IS (48) yang menjabat sebagai kepala sub seksi serta seorang staf, RR alias Boy (33). Keduanya tertangkap tangan melakukan pungli dengan barang bukti uang tunai sebesar Rp 20 juta dan 75 sertifikat tanah.

“Saat penangkapan, pertama kali kami menemukan uang sebesar Rp 10 juta, kemudian kami geledah ternyata ada Rp 10 juta lainnya. Kami juga menyita satu unit dekoder CCTV sebagai barang bukti,” papar Wakil Kepala Polrestro Bekasi Kabupaten Luthfi Sulistiawan saat konferensi pers, Jumat (16/3).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, aksi pungli ini berkaitan dengan penerbitan peralihan hak sertifikat tanah. Untuk mengurus administrasi tersebut, kedua tersangka menetapkan biaya Rp 400.000 per sertifikat sebagai ‘uang jasa’. Uang tersebut otomatis berlipat ganda karena sertifikat yang diurus para tersangka berjumlah 75 buah.

“Perbuatan tersebut dilakukan dengan cara setelah proses balik nama sertifikat selesai, kemudian para tersangka ini menghubungi pemohon untuk mengambil sertifikat dengan membawa dana taknis atau biaya yang ditentukan oleh tersangka sebesar Rp 400.000 per sertifikat. Padahal jelas, hal tersebut sangat bertentangan dengan Peraturan Pemerintah No 128 tahun 2015 tentang tarif PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) di BPN,” ujar Lutfhi.

Selain uang tunai, rekaman CCTV dan puluhan lembar sertifikat, polisi pun menyita satu unit telepon genggam yang berisi data tentang aksi pungli para tersangka.

Dikatakan Lutfhi, kasus ini terungkap setelah polisi menerima laporan dari masyarakat tentang adanya aksi pungli. Polisi kemudian menindak lanjuti laporan tersebut dengan berkoordinasi bersama Tim Sapu Bersih Pungli Kabupaten Bekasi yang terdiri dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi, dan Inspektorat Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Menjelang sore hari, Selasa 13 Maret 2018, Tim Saber Pungli langsung mendatangi Kantor BPN Kabupaten Bekasi di Kawasan Lippo Cikarang, Kecamatan Cikarang Pusat. Di lokasi, tim akhirnya benar-benar telah menemukan aksi pungli, lalu segera menangkap sejumlah pihak yang terlibat. Selain itu, tim pun menggeledah sejumlah tempat di Kantor BPN kemudian membawa sejumlah berkas yang berkaitan dengan pungli.

“Kami mengamankan empat orang yang diduga terlibat untuk dimintai keterangan. Setelah proses pemeriksa an, dua orang di antaranya kami tetapkan sebagai tersangka. Sejumlah barang bukti pun kami amankan,” jelas Kesatreskrim Rizal Marito.

Atas kasus ini, kedua tersangka di jerat pasal 12 huruf-e UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Ancaman hukumannya paling lama seumur hidup, dan paling singkat empat tahun penjara. Kemudian denda paling sedikit Rp 200 juta, dan paling banyak Rp 1 miliar,” kata Rizal.

Meski telah mendapatkan dua tersangka, Rizal memastikan pihaknya akan terus melakukan pengembangan untuk mengetahui adanya keterlibatan pihak lain.

Reporter: Gusti
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*