KPAI: Tren Kekerasan di Dunia Pendidikan Kian Mengkhawatirkan

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listiarty (dok. KM)
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listiarty (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Di awal tahun 2018, publik dikejutkan dengan berbagai kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan, mulai dari kasus kekerasan fisik, kekerasan psikis sampai kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekolah. Korban dan pelaku kekerasan pun beragam, mulai dari kepala sekolah, guru, orangtua siswa maupun peserta didik.

“Kasus penganiayaan orangtua siswa terhadap salah seorang kepala SMP negeri di Pontianak dan kasus meninggalnya guru Budi di Sampang, Madura akibat pukulan muridnya sendiri sangat viral dan mengejutkan banyak pihak. Masyarakat mempertanyakan ada apa dengan pendidikan kita sehingga anak didik bisa berbuat demikian. Para pemimpin organisasi guru pun beramai-ramai mengusulkan pembentukan Komisi Perlindungan Guru,” ucap Retno Listyarti, Komisioner Bidang Pendidikan KPAI dalam pesan WhatsApp yang diterima kupasmerdeka.com Minggu Sore (18/3/2018).

Namun, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), khususnya bidang pendidikan menerima banyak pengaduan di awal tahun 2018 terkait kekerasan terhadap anak didik yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, petugas sekolah lainnya, dan anak didik. Pengaduan yang diterima KPAI di dominasi oleh kekerasan fisik dan anak korban kebijakan (76%). Sedangkan kekerasan psikis (9%) dan kekerasan seksual (2%).

“Selain itu, kasus kekerasan seksual oknum guru terhadap peserta didik yang viral di media, meski tidak dilaporkan langsung ke KPAI, tetapi KPAI tetap melakukan pengawasan langsung mencapai 13% kasus,” tambah Retno.

Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum guru tersebut sebagian besar dilakukan di lingkungan sekolah, dan korbannya mencapai puluhan siswa, karena beberapa kasus pelaku telah melakukan aksi bejatnya selama beberapa bulan bahkan ada yang sudah beberapa tahun. Trennya pun berubah, kalau sebelumnya korban kebanyakan anak perempuan, tetapi data terakhir justru korban mayoritas anak laki-laki. Korban mayoritas berusia SD dan SMP.

“Misalnya kasus kekerasan seksual oknum guru di kabupaten Tangerang korbannya mencapai 41 siswa, kasus di Jombang korbannya mencapai 25 siswi, kasus di Jakarta korbannya 16 siswa, dan kasus oknum wali kelas SD di Surabaya korbannya mencapai 65 siswa,” terangnya.

Reporter: Deva
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*