Ini Kronologis Lengkap Pengeroyokan yang Tewaskan Mahasiswa UNPAM

Rekan-rekan Chevin (22) turut memberikan dukungan pada keluarga pada sidang di PN Jakarta Selatan. Chevin adalah mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Pamulang (UNPAM) yang tewas akibat pengeroyokan 20 November 2017 dari Setiabudi, Jakarta Selatan. (dok. KM)
Rekan-rekan Chevin (22) turut memberikan dukungan pada keluarga pada sidang di PN Jakarta Selatan. Chevin adalah mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Pamulang (UNPAM) yang tewas akibat pengeroyokan 20 November 2017 dari Setiabudi, Jakarta Selatan. (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Sidang kasus pengeroyokan yang mengakibatkan meninggalnya Chevin Laurensio Winokan (22), mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang (UNPAM) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan perkara No. 260/Pid.B/2018/PN.JKT.SEL berlangsung Rabu 27/03/2018.

Kelima terdakwa pelaku pengeroyokan masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum UNPAM, Iwan M Amin (IMA), Aditya Bela setiawan (ABS), Ahmad Gufron (AG) alias Sibora dan Bakri (B).

Menurut kronologi yang dilansir SIPP Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, awalnya pada hari Senin 20 November 2017 sekitar pukul 15.30 WIB pada saat Ahmad Gufron sedang beristirahat di Masjid Al Muqorobin Jl. HR. Rasuna Said RT.008/004 Kelurahan Kuningan Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan, ia dihubungi Iwan M. Amin menyuruh untuk mengawasi anaknya yang bernama Raja yang sedang bermain di sekitaran masjid.

Kemudian saat diketahui sudah tidak ada lagi di sekitar masjid, Ahmad Gufron berinisiatif mencari keberadaannya kemudian menghubungi Iwan M. Amin.

Selanjutnya Iwan M. Amin bersama dengan Aditya Bella Setiawan bin Iwan M. Amin melakukan pencarian di sekitar area masjid, kemudian Ahmad Gufron menunjukkan kalau laki-laki yang bersama dengan anak Iwan M. Amin masuk ke toilet dan saat itu Ahmad Gufron menyuruh saksi Iwan M. Amin dan Aditya Bella Setiawan bin Iwan M. Amin agar diam dan Ahmad Gufron memberitahu bahwa anaknya di dalam toilet. Sesaat kemudian terdengar lagi suara orang dewasa dari dalam toilet dengan kata-kata “sst, jangan berisik.”

“Saat itu juga Ahmad Gufron langsung gedor-gedor pintu toilet tersebut beberapa kali namun tidak dibuka, yang akhirnya Ahmad Gufron, Iwan M. Amin dan Aditya Bella Setiawan mendobrak pintu toilet tersebut dengan cara didorong dengan kedua tangan hingga pintunya terbuka.”

“Selanjutnya ketiganya membawa Chevin keluar masjid, kemudian korban ditaruh di depan Masjid Al Muqorobin dengan posisi disandarkan di tembok pagar depan masjid bagian luar dimana tempat tersebut mudah dilihat dan dilalui orang dan suasana pada saat itu sangat ramai sekali, karena jalan tersebut merupakan jalan alternatif, tempat lalu lalang orang dan kendaraan sehingga pada saat berada di pintu Masjid Al Muqorobin diketahui massa.”

“Kemudian saat berada di luar masjid sempat warga lebih kurang 5 orang bertanya kepada ketiganya kemudian dijawab oleh Iwan M. Amin bahwa ‘Ini anak saya mau disodomi,’ sambil menunjuk ke arah Chevin sehingga massa yang berjumlah sekitar lima orang tersebut secara bersama-sama memukul dan menendang berkali-kali ke arah wajah Chevin kemudian Iwan M. melakukan pemukulan ke arah dada dan wajah Chevin dengan menggunakan tangan kanan dan kiri secara bergantian dengan posisi tangan mengepal secara berulang-ulang dan menendang badan korban berkali-kali.”

Kemudian Iwan M. Amin mendorong korban hingga terduduk di tanah, kemudian Ahmad Gufron bersama-sama Iwan M. Amin dan Aditya Bella Setiawan menanyakan mengapa membawa anaknya masuk ke dalam toilet.

“Oleh karena Chevin menjawab berbelit-belit tersebut membuat Iwan M. Amin emosi kemudian memukul dengan menggunakan tangan kanan dan kiri secara bergantian dengan posisi tangan mengepal secara berulang-ulang ke arah dada dan wajah serta menendang berkali-kali badan korban,” lanjut keterangan PN Jaksel itu.

“Kemudian Aditya Bella Setiawan ikut memukul dengan menggunakan tangan kanan dan kiri secara bergantian dengan posisi tangan mengepal secara berulang-ulang kearah wajah sekitar 6 kali ke arah wajah Chevin.”

Kemudian sekitar pukul 16.00 WIB pada saat Bakri, terdakwa lainnya, berada di depan Masjid Al Muqorobin itu melihat Iwan bersama dengan anaknya, Aditya, melakukan pemukulan dan menendang korban, ia pun ikut memukulnya dengan tangan kosong.

“Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap Chevin Laurensio Winokan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, didapati bahwa pasien saat datang tidak ada tanda-tanda kehidupan,” lanjut keterangan itu.

Menurut hasil Visum Et Repertum dari Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R.Said Sukanto, pada pemeriksaan ditemukan luka lecet dan memar pada hampir seluruh tubuh akibat kekerasan tumpul.

“Sebab kematian orang ini adalah kekerasan tumpul pada dada dan perut yang merobek paru dan hati sehingga mengakibatkan pendarahan,” kata laporan tersebut.

Agenda sidang yang digelar kemarin adalah mendengarkan saksi yaitu dari ayah almarhum Chelvin yang bernama Robert J. Winokan. Sidang dipimpin oleh Marimbun Hatigoran Panggabean.

Ketua Himpunan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang Septa Aditya mengatakan, “kami akan terus mengawal persidangan kasus Chelvin hingga adanya putusan pengadilan,” ungkapnya (27/03).

“Ya kami akan berperan beserta masyarakat dalam mengawal sistem hukum dalam kasus ini. Keadilan sangat dibutuhkan demi terciptanya obyektivitas, keterbukaan atau transparasi dalam proses hingga diakhiri dengan putusan pengadilan. Dan saya berharap, agar tidak terjadi lagi kejadian persekusi di ruang lingkup masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: marsono
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*