Legislator: Pembukaan Perguruan Tinggi Asing di Indonesia Akan Memicu Persaingan, Motivasi untuk Berkembang

Anggota Komisi X DPR RI, Marlinda Irwanti (dok. KM)
Anggota Komisi X DPR RI, Marlinda Irwanti (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Masuknya Perguruan Tinggi Luar Negeri ke Indonesia diperkirakan akan menimbulkan banyak persoalan di dunia pendidikan. Anggota Komisi X DPR RI Marlinda Irwanti juga mendorong agar dunia pendidikan Indonesia tidak “terbelenggu oleh globalisasi yang ada.”

“Tentu saja kita berharap nanti, ada peraturan-peraturan atau ada kebijakan regulasi yang memproteksi tentang nilai-nilai budaya atau nilai kultur yang ada di Indonesia. Itu yang pertama yang harus kita lakukan,” ujar politisi Partai Golkar itu saat ditemui KM siang ini 30/1.

“Yang kedua adalah ketika perguruan-perguruan tinggi asing masuk ke Indonesia, tentu saja harus mengikuti standar-standar perguruan tinggi yang diberlakukan di Indonesia,” tambahnya.

“Misalnya,” lanjut Marlinda, “para dosennya ataupun gurunya harus mengikuti pendidikan Pancasila, tentang keindonesiaan sehingga ketika mereka mengajar justru tidak infiltrasi budaya asing tetapi mereka mampu mengembangkan budaya-budaya Indonesia menjadi kekuatan,” tutur Marlinda.

“Selain itu, memang kita masih membutuhkan program seperti itu, seperti di perguruan tinggi ada world class university, yang mengundang para profesor asing ke Indonesia, itu digunakan untuk memberikan dorongan … supaya guru besar kita dan dosen-dosen kita bisa membuat jurnal ilmiah internasional.”

“Tetapi nanti kalau tren penulisan jurnal itu bisa berjalan dengan baik, tentu saja program seperti mengundang profesor-profesor dari luar negeri, atau meningkatkan world class university kita hentikan,” imbuhnya.

“Kalau soal pendidikan luar negeri di Indonesia memang itu tidak mungkin ya kita bendung sedemikian rupa, tapi saya memproteksi beberapa peraturan-peraturan kebijakan-kebijakan regulasi yang tetap menginginkan bahwa untuk pendidikan Indonesia boleh maju setara dengan negara-negara lain tetapi tetap harus mempunyai nilai-nilai keluhuran bangsa.”

“Adapun selama ini permasalahan kita begini: di negara kita ini kok tidak ada saingan? Tidak ada sesuatu yang memotivasi untuk berkembang. Selain itu, ketika bisnispun bentuknya e-commerce yang berkembang kemudian sekarang vokasi dalam tanda kutip kemudian menjadi tren, itu kan datang dari luar negeri,” jelasnya.

Marlinda menambahkan bahwa dirinya “tidak anti” dengan perkembangan yang ada dari luar negeri, karena menurutnya hal tersebut “bisa menjadi kekuatan”, asal dapat menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa.

“Jadi mari kita terima semua misalnya pendidikan ataupun inovasi asing yang masuk ke Indonesia, tapi kita tetap menjaga dengan regulasi, dengan kebijakan-kebijakan supaya bangsa Indonesia tetap mempunyai karakter yang baik,” ucap politisi Golkar itu.

“Selama ini memang sudah ada, terlepas atau tidak adanya kebijakan, seperti misalnya membuka kampus di Indonesia dan mempunyai double degree dengan negara lain, kan sama juga sebenarnya,” tutup Marlinda.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*