Pengamat: “Permasalahan Pasar, Blok F dan Kasus Angkahong Terkait Kepentingan Petinggi Kota Bogor”

KOTA BOGOR (KM) – Agenda pengundian Tempat Penampungan Sementara (TPS) bagi pedagang Pasar Kebon Kembang Kota Bogor pada 27 Desember 2017 keluar berdasarkan surat 22 Desember 2017 dari Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ).
Terkait hal tersebut, kembali mencuat surat tanggal 26 Desember 2017 yang dilayangkan oleh Paguyuban Pedagang Blok F Pasar Kebon Kembang kepada Kepala Unit Pasar Kebon Kembang.

Surat tersebut mempertanyakan TPS mana yang di maksud, mengingat bahwa TPS tersebut yang berada di Blok F sedang menjadi objek gugatan Pengadilan Negeri (PN) Bogor dalam perkara no 155/PDT.G/2017/PN Bogor 15 November 2017.

Praktisi Hukum Budi Suryadi Putera SH menjelaskan, melihat kondisi yang kisruh tanpa ujung penyelesaian di Pasar Kebon Kembang khususnya terkait Blok F ini menjadi “tanda tanya besar,” jelasnya kepada Kupasmerdeka.com, Rabu 27/12/2017.

“Kisruh permasalahan Blok F sudah berlarut dan tak berujung, ini menjadi pertanyaan besar kemana sang pemimpin Walikota Bima Arya, hingga detik ini hanya tutup mata dan tutup telinga.” 

“Tidak ada tindakan tegas dari Bima Arya, hanya menjadi penonton saja dengan kisruh di Pasar Kebon Kembang, atau mungkin punya kepentingan dari kisruh di Blok F ini sang Walikota?” ujarnya. 

“Tak usah panjang menjelaskan terkait masalah Pasar, masyarakat masih ingat masalah Pasar Jambu Dua atau yang sangat dikenal dengan kasus Angkahong”, itu menjadi teka-teki masyarakat Kota Bogor,” sambungnya. 

“Yang jelas permasalahan pasar Walikota Bima Arya tidak pernah bisa menyelesaikan, atau mungkin benar dugaan-dugaan yang ada di masyarakat bahwasanya ada kepentingan uang di Blok F ini untuk petinggi Kota Bogor,” ucap Budi.

“Tapi yang jelas kita bisa menilai masalah Pasar Jambu Dua [Kasus Angkahong] ada unsur korupsi, dan untuk permasalahan Blok F Pasar Kebon Kembang yang tak kunjung usai, diduga kuat ada unsur kepentingan-kepentingan petinggi Kota Bogor.”

Sudah saatnya, lanjut Budi, “Bima Arya mengakui kegagalannya menjadi Walikota Bogor, urusan pasar saja tidak selesai dan banyak temuan permainan kepentingan-kepentingan berbagai pihak,” pungkasnya.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*