Harry Ara: Komitmen Maju Wakil Walikota Bogor dengan Kearifan Luhur Budaya Sunda

Bakal Calon Wakil Walikota Bogor Harry Ara Hutabarat (kanan, duduk) (dok. KM)
Bakal Calon Wakil Walikota Bogor Harry Ara Hutabarat (kanan, duduk) (dok. KM)

BOGOR (KM) – Menjelang momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kota Bogor yang sudah di depan mata, bagi para bakal calon yang sudah mengikuti proses di partai politik masing-masing, pertengahan hingga akhir Desember ini akan menjadi masa penenentuan untuk maju atau tidak, sesuai keputusan dari masing-masing Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai.

Bakal calon Wakil Walikota dari Partai Gerindra yang juga anggota Tim Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan (TP4) Kota Bogor Harry Ara, menjelaskan bahwa “siapapun yang akan direkomendasi untuk maju di Pilkada Kota Bogor, dan akhirnya terpilih menjadi pemimpin, kedepan harus memegang teguh nilai-nilai karuhun di Tataran Pasundan,” jelasnya kepada Kupasmerdeka.com (11/12).

Silih asah, silih asih, silih asuh merupakan satu istilah yang lahir dari kearifan masyarakat Sunda. Tentunya istilah ini tidak asing bagi masyarakat Sunda karena telah menjadi falsafah hidupnya, termasuk bagi warga yang tinggal di Kota Bogor.

“Falsafah bagi kehidupan orang Sunda yang harus terus dibumikan dimanapun dan kapanpun, keutamaan dari falsafah silih asah silih asih silih asuh merupakan satu kesatuan sikap, nilai dan rukun hidup yang harus dijiwai oleh masyarakat dalam menjalakan kehidupannya demi terwujudnya masyarakat yang kuat, cerdas, egaliter dan saling menebar cinta kasih sesamanya,” ungkap Harry.

Harry menuturkan, Silih asah yang berarti saling memberi pengetahuan, baik dengan cara saling mengingatkan, saling membangun, kesadaran akan ilmu pengetahuan dan saling mendukung dalam pengembangan diri sesamanya.

“Ini demi terbentuknya satu kesatuan masyarakat yang cerdas, sebuah masyarakat yang cerdas merupakan satu syarat terbentuknya masyarakat yang kuat, tanpa kecedasan dan kesadaran akan ilmu pengetahuan masyarakat akan kehilangan hakikat dan kemerdekaannya sebagai manusia sehingga tanpa ilmu pengetahuan masyarakat akan mudah untuk dibodohi, didiskriminasi dan dieksploitasi,” tutur Harry.

Semangat silih asah, lanjut Harry, “merupakan semangat membangun dan menumbuhkembangkan khazanah keilmuan dalam masyarakat yang menjiwai rukun hidup silih asah, ilmu pengetahuan akan berdampingan dengan dimensi etis sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi alat penindasan yang angkuh tetapi ilmu pengetahuan akan menjelma menjadi anggun yang akan membebaskan dan mengangkat derajat masyarakat dari keterbelakangan.”

Silih asih yang berarti saling menebar cinta kasih atau rasa saling menyayangi, “tentulah harus menjadi falsafah yang mendarah daging bagi masyarakat Sunda. Silih asih merupakan salah satu bentuk ikhtiar interaksi manusia dengan Tuhan demi mendapat cinta kasih-Nya dengan cara menyayangi dan menebar cinta terhadap sesamanya.”

“Semangat silih asih merupakan semangat membumikan nilai-nilai ketauhidan, karena dalam budaya silih asih tertancap kuat prinsip ke Tuhanan dan kemanusiaan, yang nantinya akan membentuk mental masyarakat yang menjungjung tinggi nilai-nilai persamaan.”

Masih kata Harry, masyarakat Kota Bogor yang silih asih dalam prakteknya akan saling menghormati satu sama lain serta akan menjunjung tinggi nilai persamaan dengan tidak menganggap adanya kelas sosial, semua manusia sama tidak ada yang dipandang sempurna dan tidak ada manusia yang seluruhnya cela. “Dari semangat silih asih inilah maka akan melahirkan kehidupan masyarakat yang adil, harmonis serta jauh dari tindakan-tindakan yang anarkis. Dengan “ajaran karuhun” ini jika dipegang teguh ketika memimpin niscaya akan amanah memimpin Kota Hujan 5 tahun ke depan,” pungkasnya.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*