Nasir Djamil: “Aceh Harus Miliki Museum Perdamaian”

Anggota DPR Nasir Djamil saat memberikan materi pada Seminar Nasional di Unsyiah Aceh, 6/11 (dok. KM)

BANDA ACEH (KM) – Anggota DPR-RI asal Aceh Nasir Djamil berharap agar di Aceh  dibangun Museum Perdamaian sebagai media edukasi, penelitian serta untuk mengingatkan akan sejarah konflik dan proses perdamaian Aceh, sehingga generasi mendatang bisa mengetahui dan mengambil pengajaran dari peristiwa lampau tersebut.

Harapan itu disampaikan Nasir Djamil saat menjadi narasumber pada acara Seminar Nasional dengan tema “Aceh Sebagai Model Perdamaian Dunia” yang diselanggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Senin (6/11/2017).

Acara seminar nasional yang merupakan bagian dari rangkaian acara Unsyiah Fair XII ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Anggota DPD RI Asal Aceh Fachrul Razi, mantan Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah
Dr Syahrul, serta Komisioner KKR Aceh Fajran Zain. 

Dalam paparannya, Nasir Djamil menyebutkan bahwa Museum Perdamaian Aceh “sangat penting” mengingat masyarakat Aceh telah melalui banyak sekali peristiwa di masa konflik dan juga sejarah panjang proses menuju perdamaian. “Maka dari itu sejarah yang dilalui itu harus diabadikan dalam sebuah museum,” kata politisi PKS itu. 

“Museum ini sangat penting demi memudahkan generasi muda kita mengakses dan mendapatkan informasi tentang perjalanan proses perdamaian Aceh,” ujarnya. 

Lebih lanjut anggota Komisi III DPR ini menyebutkan bahwa Aceh telah melewati masa-masa sulit di saat konflik dulu. “Perdamaian yang didapatkan hari ini adalah buah dari proses panjang nan melelahkan yang diupayakan secara sabar dan penuh jiwa besar bersama, khususnya pihak GAM dan Pemerintah RI waktu itu,” tuturnya. 

“Kita sudah melalui masa konflik yang panjang nan melelahkan serta pada akhirnya dengan sabar dan berbesar hati kita mengupayakan perdamaian. Ini harusnya bisa dijadikan contoh yang luar biasa bagi bangsa manapun yang sedang mengalami konflik,” pungkas Nasir. 

Oleh karena itu menurut politisi PKS ini, jangan sampai peristiwa penting yang didalamnya mengandung pengajaran besar, apalagi terkait bagaimana kita bisa mengakhiri sebuah konflik yang seolah-olah sulit untuk diakhiri, kemudian kita gagas perdamaian yang juga seolah-alah mustahil untuk dicapai pada saat itu, malah kisahnya hilang begitu saja tanpa bisa di ketahui dan diakses oleh anak cucu kita.

“Bagaimana nanti kita akan menceritakan kisah konflik dan perdamaian ini kepada anak cucu kita. Bagaimana kita akan menjelaskan bahwa pemimpin mereka hari ini seperti Gubernur anggota-anggota DPRA dan DPRK adalah orang-orang yang dulu merupakan para pihak yang terlibat langsung dalam konflik. Tentu kisah ini akan hilang begitu saja kalau kita tidak mengabadikannya dengan baik,” cetus Nasir. 

Terlebih lagi menurutnya, “bila kita ingin menjadikan Aceh sebagai model peradamaian dunia, maka harus ada sesuatu bukti yang bisa kita tawarkan. Maka museum adalah salah satu yang akan bisa dijadikan tempat penelitian, pusat informasi serta juga jadi situs sejarah dan wisata.”

“Kalau orang luar khususnya orang asing yang ingin mengetahui dan meneliti proses perdamaian Aceh, maka tinggal datangi saja meseum perdamaian ini,” demikian tutup Nasir Djamil.

Maka dari itu Nasir Djamil berharap agar ini menjadi perhatian Pemerintah Aceh.” Sehingga niat dan cita-cita kita untuk menjadi model perdamaian dunia akan terwujud bila museum ini hadir,” tutupnya. 

Reporter: Najmi
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*