MKD Dalami Imbas Kasus Setnov Terhadap Kinerja DPR, Politisi Golkar Tuding KPK “Zalimi” Lambang Negara

KupasMerdeka.com Berita Nasional
Ketua MKD Ahmad Sufmi Dasco (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Terkait kasus penjemputan paksa terhadap ketua DPR Setya Novanto, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) hari ini melaksanakan sidang atau rapat internal.

Hal itu diungkapkan Ketua MKD Ahmad Sufmi Dasco saat memberi keterangan kepada wartawan. “Ya hari ini kita akan melaksanakan sidang, semacam rapat internal, yang akan membahas beberapa program yang belum dilaksanakan saat memasuki masa baru setelah reses, program yang akan dilaksanakan termasuk perkara-perkara dalam masa sidang sekarang dan situasi terkini,” ujar Dasco, Kamis 16/11.

Dasco menjelaskan, situasi terkini yang dimaksud adalah hal yang terjadi pada ketua DPR Setya Novanto.

“Nah saya belum bisa memberikan atau mengatakan langkah apa yang akan diambil karena hal tersebut harus diputuskan dalam rapat internal,” lanjutnya.

“Apakah kemudian kejadian yang baru terjadi itu termasuk menganggu kinerja DPR, atau kemudian ada unsur pelanggaran dan lain-lain itu bisa diputuskan setelah kita adakan rapat untuk situasi terkini yang terjadi di DPR,” ucap Ketua MKD itu.

Sementara di tempat terpisah, Anggota Komisi III dari Fraksi Golkar Endang Srikarti mengatakan bahwa kasus yang menimpa Setnov merupakan “musibah” bagi partainya. “Sebagai kader Golkar tentunya ini musibah atas apa yang terjadi pada  ketua umum saya. Saya prihatin dan ini  tidak boleh terulang kembali dengan perlakuan demikian, dengan menjemput ke rumah Novanto,” tandas Endang.

Padahal, lanjut Endang, “pak Jokowi sebagai Presiden kita selalu mengatakan bahwa kita harus memperbaiki bangsa Indonesia ini supaya bisa terpercaya di  seluruh dunia. Tapi kenyataannya di sisi lain semua bangsa Indonesia mencatatnya,” lanjut Endang.

Ia mengkritisi sikap KPK terhadap Setnov yang dinilainya merupakan “kezoliman” terhadap lambang kenegaraan.  

“Ketua umum saya dan sekaligus ketua DPR RI lambang kenegaraan. Lambang karisma dan kewibawaan Negara. Tentunya bangsa Indonesia tahu itu.” 

“Sejauh mana kewibawaan Negara kalau diperlakukan seperti ini. Apakah rakyat Indonesia ikut serta bertepuk tangan atau ikut prihatin, kezoliman seperti ini sering dan seharusnya kita tetap kompak tetap bersatu,” ucap politisi Golkar itu.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*