Warga Jonggol Tolak Pembangunan Masjid Milik Yayasan Berfaham Wahabi

Mediasi yang digelar oleh Muspika Jonggol antara Yayasan Manarussunah dengan warga Desa Singajaya, Sabtu 14/10 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Perbedaan pemahaman keagamaan antara warga Kampung Cigugur RT02/RW03, Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor dengan Yayasan Manarussunah memantik reaksi keras dari masyarakat.
Warga menolak rencana pihak yayasan yang akan membangun masjid di tempat tersebut karena selain tidak memiliki izin, pihak yayasan juga dinilai akan memancing konflik dengan aliran Wahabinya.

“Kami warga Kampung Cigugur menolak keras pembangunan sarana masjid oleh Yayasan Manarussunah. Kenapa warga menolak? Karena pihak yayasan memiliki pendapat agama yang berbeda dan telah melanggar kesepakatan hasil musyawarah sebelumnya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Kampung Cigugur H. Ompol Dewa, kepada wartawan.

H. Ompol menjelaskan, salah satu pemahaman yang berbeda dengan masyarakat yaitu pihak yayasan mengharamkan ziarah kubur, perayaan hari besar Islam dan tahlilan yang juga diharamkan yang dituju kepada masyarakat sekitar.

“Semua kegiatan keagamaan yang dilarang itu sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kami, seperti tahlilan itu kan tidak bisa dihindari, setiap ada warga yang meninggal sudah pasti warga secara berjamaah mengirim doa untuk yang meninggal,” tuturnya.

Yang paling fatal, kata dia, pihak yayasan sudah melanggar perjanjian dan kesepakatan dengan warga. Seperti perizinan pembangunan masjid yang menyalahi prosedur.

“Sebelum membangun mesjid warga diiming-imingi dengan uang Rp. 50 ribu sampai Rp. 100 ribu. Karena tidak mau menjual keyakinan warga kompak menolak pemberian uang tersebut. Intinya kami dengan warga lainnya sudah sepakat menolak dibangunnya sarana ibadah milik yayasan tersebut, apabila pihak yayasan bersikeras, jangan salahkan kami kalau warga disini melakukan tindakan keras. Perlu diketahui oleh pihak yayasan, warga Cigugur tidak pernah memulai perkara, tetapi kami hanya ingin hidup tenteram dalam menjalankan agama,” tegasnya. 

Hal senada disampaikan oleh Hendra, warga Desa Singajaya. Menurutnya, orang-orang yang tergabung di yayasan tersebut merasa sudah menjadi ahli surga, “tidak tanggung-tanggung mereka menilai kami sebagai ahli bid’ah,” katanya. 

“Yayasan Manarussunnah selain mengharamkan aktifitas kegiatan ibadah warga disini, mereka juga menilai ibadah kami salah, seakan mereka yang punya surga, itulah pemahaman Wahabi yang mengklaim dirinya yang paling benar, sementara orang lain dinilai salah, padahal kita satu agama, harusnya mereka lebih menghargai, mengingat posisi orang Yayasan juga mayoritas sebagai pendatang,” tukasnya.

Terpisah, Eko yang mewakili Yayasan Manarusunnah tidak menduga akan ada reaksi yang keras dari masyarakat.

“Tujuan kami dari awal hanya ingin membangun masjid, dan kami bukan teroris atau dari aliran Islam yang keras, pihak yayasan juga berusaha agar tidak eksklusif, namun apabila ada kesalahan kami minta petunjuk dari Muspika supaya selesai dengan baik,” ucap Eko seraya berharap agar warga dan kepala desa tidak mengusirnya dari Kampung Cigugur.

Selain itu, Camat Jonggol, Beben Suhendar yang ikut dalam musyawarah keduabelah pihak tersebut, mengatakan pihaknya sebagai penengah mencari solusi agar permasalahan ini tidak sampai berujung tindakan anarkis. “Warga kampung bersikeras agar pembangunan masjid milik Yayasan Manarussunah tersebut dihentikan, mengingat perbedaan pemahaman pihak yayasan dengan warga setempat,” katanya.

Masih kata Beben, atas laporan warga kampung Cigugur, juga pihak Yayasan telah menyalahi aturan proses perizinan untuk pembangunan masjid.

“Warga menilai yayasan telah membohongi warga setempat dengan melanggar hasil musyawarah di bulan Februari lalu yang isinya pihak yayasan tidak melanjutkan pembangunan masjidnya. Tapi kenyataannya pembangunannya tetap berjalan sehingga menyulut kemarahan warga, selain itu perizinan pembangunan masjidnya juga tak sesuai peruntukan alias berbeda Desa,” imbuh Camat Beben.

Reporter: Yudhi/red
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*