Delegasi Indonesia jadi Penggagas Dorongan IPU untuk Bela Rohingya

Politisi PKS Jazuli Juwaini (kanan) dan delegasi Indonesia saat sidang IPU di St. Petersburg, Rusia 15/10

JAKARTA (KM) – Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, menghadiri Sidang Inter Parliamentary Union (IPU) ke 137 di Saint Petersburg, Rusia, yang berlangsung 14-16 Oktober 2017. Jazuli menjadi delegasi Indonesia untuk Komisi Demokrasi dan HAM.

Pada kesempatan tersebut, Anggota Komisi I ini menyerukan agar negara-negara IPU “semakin mengokohkan pelaksanaan demokrasi dan penegakan HAM dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia”.

“Sistem demokrasi dan HAM menjamin partisipasi dan penghargaan atas hak-hak sipil lebih baik dari sistem lainnya. Untuk itu kita harus mengokohkannya demi terwujudnya tata dunia yang adil dan bermartabat,” ucap Jazuli lewat pesan singkatnya kepada KupasMerdeka.com pagi ini 16/10. 

Jazuli berharap negara-negara maju berkomitmen untuk mendukung negara-negara berkembang dalam menerapkan demokrasi dan HAM secara konsekuen.

“Jangan ada standar ganda karena hal itu menunjukkan tindakan yang hipokrit. Mendukung (hasil) demokrasi di negara-negara demokrasi baru jika menguntungkan kepentingannya saja,” tegasnya.

Sebaliknya, lanjut Jazuli, negara-negara berkembang agar semakin kuat mendorong demokratisasi dan HAM sebagai jalan untuk mensejahterakan rakyat di negara masing-masing.

Jazuli yakin, jika demokrasi dan penghormatan atas HAM dilaksanakan secara konsekuen, tindak kekerasan, pembunuhan dan pembantaian nyawa manusia seperti yang terjadi di Rohingya, Palestina, Irak, Suriah dan lain-lain tidak akan terjadi,” pungkas Jazuli.

Sidang IPU kali ini akhirnya menerima usulan untuk secara khusus membahas isu Rohingya. Menurut Jazuli, delegasi Parlemen Indonesia bersama tujuh delegasi negara-negara lain (Bangladesh, Turki, Maroko, Sudan, Iran, Kuwait dan Uni Emirat Arab) secara khusus mengusulkan emergency item atau bahasan khusus tentang Rohingya di sidang IPU.

“Inilah salah satu misi delegasi Indonesia di Sidang IPU (pembelaan atas Rohingya), semata-mata sebagai bentuk wujud nyata keberpihakan Indonesia untuk memerangi penindasan terhadap umat manusia atas nama apapun,” terang Jazuli.

“Alhamdulillah, akhirnya voting pembelaan terhadap warga Rohingya menang dengan 1027 suara, termasuk dukungan 100 persen dari delegasi Inggris dan Canada, dan yang mendukung Myanmar hanya 47 suara. Ini menunjukkan rasa dan solidaritas kemanusiaan itu masih ada diantara bangsa-bangsa,” pungkas Jazuli.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*