SMPN 22 Depok Bantah Keras Tuduhan Ketidaksesuaian Spesifikasi Bangunan Gedung Baru

Pekerjaan pembuatan pondasi cakar ayam di lokasi pembangunan SMPN 22 Depok (dok. KM)

​DEPOK (KM) – Dunia pendidikan Kota Depok saat ini tengah menyaksikan banyak renovasi terhadap bangunan fisik sekolah. Salah satunya SMP Negeri 22 yang berada di wilayah Kecamatan Sukmajaya.

Namun di tengah proses pembangunan sekolah tersebut, sempat ada tuduhan dari LSM bahwa pondasi yang digunakan pada pembangunan gedung SMPN 22 menggunakan bata merah, bukan batu pondasi.

Saat awak media Kupas Merdeka megkonfirmasi kepada pihak SMPN 22 19/9, kepala sekolah Budi menerangkan seraya menunjukkan gambar pada Bistek bangunan.  “Mas, kalau kita bicara dan lihat pada gambar, batu kali yang diperuntukkan pada pondasi hanya pancang-pancang tiang saja. Jadi kalau ada 44 tiang ya seharusnya batu kalinya hanya ada di bawah tiang-tiangnya saja. Tapi karena saya pingin sekolah ini bisa dipakai jangka panjang 30 tahunan maka saya dan pak Sirait memutuskan untuk membuat pondasi batu kalinya keliling plus kami buatkan dalam bentuk slup. Jadi ini justru kita buat agar kuat dan lebih dari bistek gambar. Nah itulah yang saya bersama tim lakukan untuk bangunan terbaik untuk SMP 22 ini,” tegas Budi.

Pondasi pada lokasi pembangunan SMPN 22 Depok (dok. KM)

Senada dengan Budi, koordinator pembangunan Fajar Sirait pun turut mengamini. “Mas, kita juga punya hati lah. Ratusan nyawa anak manusia yang sekolah di sini dan puluhan guru juga karyawan yang bekerja disini untuk keluarganya. Masa kita mau sembarangan bangun sekolah? Kita pun tau Tuhan itu selalu ngawasi dan liat kita walaupun kita sembunyi ke lubang semut sekalipun. Bahkan saya berniat kalau ada LSM yang nuduh kita dan memaksa untuk membongkar hanya untuk memastikan kebenaran pondasi dari bata merah, saya siap, hanya dengan catatan dan syarat. Pihak yang ngotot seperti itu harus siap buat perjanjian dengan kita diatas kertas bermaterai. Jika tuduhan itu tidak terbukti maka LSM itu harus siap bayar biaya pembongkaran dan memasang kembali seperti awal baik biaya tukangnya maupun biaya bangunannya, plus denda atas tuduhan yang tidak terbukti senilai 2X lipat dari angka anggaran Dana Alokasi Khusus dari Kementerian senilai 1,560M X 2 nya,” geram Sirait.

Eko pun menunjukkan pada foto-foto pada wartawan KupasMerdeka.com dan menegaskan, “Ini mas bisa liat tukang saya yang buat cakar ayam ikut masuk dalam lubang pondasi cakar ayamnya. Yang dalam bistek seharusnya hanya 1.60M itu saja tukang saya nyaris ketutup kepalanya. Tinggi tukang saya 1.65M. Nah artinya cakar ayam ini juga pondasinya kedalamannya melebihi ukuran yang ditetapkan. Mungkin itu orang yang nuduh, liatnya selasarnya, kebetulan belum sempat keplester semen,” pungkas Eko.

Reporter: Gie
Editor: HJA

Komentar Facebook

1 Comment

  1. Bejo Sumantoro 13/11/2017 at 10:30 am

    Kalau proses HUKUM berjalan uji materi lapangan pasti dilakukan oleh aparat penegak hukum,jadi untuk membuktikan adanya PELENCENGAN bisteknya, pasti ada uji materi, biasanya sebagai tenaga Ahlinya dari UI atau ITB dll, tidak perlu pakai Ttd diatas materi segala, kok seperti ketakutan sekali, kenapa…???

Leave a comment

Your email address will not be published.


*