KUPAS KOLOM: Rakyat Masih Anggap Megawati Trah Bung Karno Paling Kuat

dr. Sanusi (kiri) dengan staf khusus Wapres RI dr. Kaharuddin (dok. KM)
dr. Sanusi (kiri) dengan staf khusus Wapres RI dr. Kaharuddin (dok. KM)

Oleh: dr. H. Sanusi, Sp.OG

Megawati Soekarnoputri adalah tokoh sejarah yang paling sulit dimengerti, paling sering disalah artikan. Seluruh jalan hidupnya adalah tudingan dan bully kelas menengah yang geram terhadap sikap diam-nya itu. Bagi kebanyakan orang Indonesia, sikap diam adalah “mencurigakan” bukan “tindakan”, padahal “diam” adalah “tindakan”, dan salah satu kemampuan politik Megawati paling kuat adalah “Kesabaran Revolusioner”. Idiom ini amat dikenal di kalangan kader PDIP, sebuah kredo dalam perjuangan politik selain Satya evam Jayate yang artinya “Hanya Kebenaran Yang Menang”. Inilah kenapa Megawati selalu memberikan ruang dan waktu bagaimana semua kondisi berjalan dan bekerja. Ia amat senang dengan konsepsi “menit menit terakhir”.

Menyerang Megawati dan mengejeknya seperti kepuasan tersendiri bagi kelas menengah, tapi bagi pendukungnya dan mungkin simpatisannya, mengenang Megawati adalah soal emosional. Megawati masih dianggap sebagai bagian kenangan paling kuat soal Sukarno. Megawati masih bagian dari penceritaan perlawanan terhadap tirani Orde Baru yang diceritakan dari kakek ke cucu, dari bapak ke anak. Megawati adalah kenangan keberanian politik melawan Suharto di jalan-jalan, di kampung-kampung dan di pertemuan-pertemuan rahasia politik para aktivis klandestin.

Ketika Megawati dicemooh oleh mereka yang merasa bagian dari kebebasan berpendapat, apakah mereka tak pernah melihat rakyat yang berbondong-bondong datang ke kongres PDIP, melihat rakyat berlarian saat Megawati memulai pidatonya dan masih berteriak “Mega…Mega…Mega” dan popularitas Megawati itu menular ke Jokowi. Pada tahun 2013 lalu saat berada di Warteg Pulomas, Megawati dan Jokowi sedang makan siang, anak-anak muda berlarian dan menonton mereka sambil bicara “ada Mega, ada Jokowi…” rakyat langsung berkerumun nonton mereka berdua. Di tengah rekayasa popularitas dalam berpolitik, Mega dan Jokowi sepertinya punya popularitas yang otentik.

Megawati tidak perlu dibela, karena sejarah Megawati adalah kronik politik paling lengkap dan data akan membela dengan sendirinya, pasca Reformasi 1998 silam, ia sendiri maju ke lapangan yang sepi, dimana rakyat masih mengintip-intip Mega dan PDI karena takut tekanan penguasa saat itu. Megawati yang sederhana itu bersuara “Ayo saya yakin kalian ada, berani sini… kita bicara” lalu rakyat berhamburan ke lapangan dan berteriak “Hidup Mega…Hidup PDI”… di satu jaman yang penuh romantika itu keberanian Megawati-lah yang membuat seluruh rakyat bergerak dan berteriak “Kandange Banteng, Lurahe Banteng…” di kantong-kantong kekuasaan Golkar sampai ia menjadi Presiden Republik Indonesia.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*