KUPAS KOLOM: Mengulang Sejarah, Perseteruan HMI dan PKI di Era Demokrasi

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Muhammad Ichsan, HMI Aceh

Sejarawan Indonesia Anhar Gonggong bercerita, pada tahun 1960-an mencapai puncaknya perseteruan antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa itu, ketika gerakan Komunis atau kiri mendapat angin oleh Presiden Sukarno, mereka juga membenci organisasi mahasiswa Islam. “Mereka di mana-mana malah menyatakan agar HMI dibubarkan saja,’’ kata Anhar Gonggong.

Tak cukup dengan berkata sembunyi-sembunyi, pemimpin DN Aidit pada tahun 1964 berani secara terbuka di depan ribuan massa dan di depan Presiden Sukarno menyerukan agar HMI dibubarkan. Bahkan, kalau tidak berhasil dibubarkan, maka kepada kader sayap organisasi mahasiswa komunisnya itu Aidit meminta agar segera saja memakai sarung.

“Aidit berpidato lantang menyerukan pembubaran HMI di acara Hari UlangTahun PKI yang ke-45. Ini diucapkannya langsung di atas podium dan di depan Presiden Sukarno, yakni di Stadion Istora (sekarang Gelora Bung Karno) di Senayan. Saat itu kekuatan massa Komunis merasa ‘di atas angin’ sehingga dia berani bersikap seperti itu,” katanya.

“Dalam sebuah orasi politiknya di Kongres II Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) pada tanggal 28 September 1965 di Istora Senayan, secara tegas Aidit meminta kepada CGMI untuk membubarkan HMI. Jika CGMI tidak bisa membubarkan HMI, Aidit menyarankan agar kader CGMI laki-laki sebaiknya menggunakan sarung.”

Saya setuju pendapat kakanda Shandy JA Songge, murid langsung Prof. Nurcholish Madjid, di Himpunan Mahasiswa Islam untuk segera menuliskan catatan perseteruan organisasi ini dengan PKI.

Mengingat semakin banyak saja alumni-alumninya yang wafat dan meninggalkan catatan seputar kejadian itu dalam bentuk kisah-kisah pribadi saja.

Beberapa yang sering saya dengar adalah dari pembicaraan dengan dr. Sulastomo tentang manuver PKI lewat lembaga-lembaga sayap untuk mengintimidasi HMI.

Pernyataan DN Aidit: “Kader PKI sarungan saja kalau tidak bisa kalahkan HMI” dianggap perintah pembasmian kepada pihak-pihak yang dianggap anti revolusi.

Aidit menurut dr. Sulastomo tentu memiliki alasan kuat bahwa PKI mesti menang melawan organ mahasiswa Islam yang dianggap salah satu penghalang dari manuver politik PKI. Soekarno belum lama menempatkan Masyumi sebagai partai terlarang, dan HMI yang selama ini dianggap onderbouw (bawah ketiak) tokoh-tokoh Masyumi pasti akan lebih mudah dikalahkan.

Kenyataannya, lanjut Prof. Dawam Rahardjo, HMI itu dibentuk oleh orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu kental juga warna keislamannya. Sosok seperti Lafran Pane adalah orang yang urbanis, hampir abangan. Taat beribadah tetapi terbuka terhadap budaya pesta-pesta mahasiswa sekaligus fanatik terhadap nasionalisme Indonesia. Ini dapat dilihat dari anggota HMI dulu yang berpakaian kebaya atau pakaian perempuan biasa. Mereka adalah kelompok urbanis yang tengah mencari dan mendalami Islam sebagai bagian dari sebuah ajaran sekaligus tanggungjawab.

Prinsip tengah inilah yang membuat HMI menjadi organ mahasiswa yang independen meski kuat warna keislamannya. Independensi ini juga yang tidak disukai padaera politik aliran masa itu.

Dawam memiliki kisah langsung konflik HMI dengan CGMI seputar pengepungan Keraton Yogya oleh PKI.

Ia bercerita bahwa satu-satunya jalan yang belum ditutup massa Komunis adalah Gerbang Kauman. Dimana dia menyelundupkan anak-anak HMI untuk memecah konsentrasi aksi PKI.

Ketika saya bertanya, apakah tujuan aksi di alun-alun Yogya itu nantinya disetting chaos untuk kemudian membunuh Sultan HB IX, Prof Dawam tidak menjawab, tetapi sepertinya ia setuju akan adanya skenario seperti itu. Sultan adalah salah satu orang yang paling anti dan dianggap ganjalan bagi PKI.

Sementara saya mendengarkan dengan tertawa, kisah almarhum Imaduddin Abdurrahman, salah satu senior HMI Bandung dan aktivis Masjid Salman yang bercerita bahwa ia bersama Prof. Ahmad Sadali dan adiknya Ir. Ahmad Noeman mempersiapkan shalat Jum’at pertama di tanah di depan kampus.

Dari kisah yang sama (alm) Ir. Ahmad Noeman bercerita bahwa awalnya mereka pura-pura membuat petak-petak tanah dengan alasan di sana akan dibuat ladang jagung penelitian kampus ITB demi menghindari penyerangan massa pro PKI. Di hari Jumat, tanah tersebut di beri pembatas semacam shaf shalat untuk kemudian diselenggarakan shalat jum’at pertama.

Di atas tanah tadi nantinya akan dibangun masjid besar yang setelah bersepakat agar tidak diganggu simpatisan PKI maka dimintakan kepada Soekarno untuk memberinya nama Masjid Salman.

Ir. Ahmad Noeman sendiri dan kakaknya (Prof) Ahmad Sadali adalah desainer logo dan mutz (baret) Hmi. Ia bercerita dalam satu pertemuan.

“Kita iri dengan anak-anak CGMI yang afiliasi ke PKI. Mereka pakai baret dengan hiasan yang bagus. Keren dan necis. Kayaknya HMI perlu bikin juga.”

“Logo dan mutz tadi kami buat dengan warna hijau dan hitam. Lalu kami berjalan ke dalam kampus, tegak-tegak saja di depan kumpulan anak-anak pro komunis.” Masih banyak kisah kecil lainnya.

Pasca pembubaran Masyumi, Bung Karno mewacanakan pembubaran HMI. Sebagai organisasi baru dengan segmentasi yang sama, mahasiswa Muslim, seharusnya PMII menyambut gembira. Kata Bung Karno kepada KH Saifuddin Zuhri, Menteri Agama berlatar NU, dalam buku otobiografinya (2013, hal. 672-675), “Kalau HMI bubar, NU ‘kan untung, PMII makin besar.”

Memang ada alasan utama yang disampaikan Bung Karno yakni, “Bahwa di mana-mana HMI melakukan tindakan anti-revolusi dan bersikap reaksioner.” Berkat sikap rasionalnya Saifuddin Zuhri, Bung Karno melunak.

Bahwa pada gilirannya PMII berkontestasi dengan HMI dalam mempengaruhi kehidupan akademis dan politik tentu itu dilihat sebagai konsekuensi. Bak dua ikan lohan yang berebut anakan ikan mas di akuarium. Tapi menyatakan bahwa Bung Karno yang meminta pada NU agar mendirikan wadah mahasiswa seperti terdengar “Bung Karno juga yang meminta NU keluar dari Masyumi.” Tentu ini kekeliruan absolut.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.