Pansus Angket KPK Ungkap Kembali Kasus Pencurian Sarang Burung Walet di Bengkulu, Duga Ada Pelanggaran HAM oleh Novel Baswedan

Politisi PDIP, Eddy Kusuma Wijaya saat berbincang dengan KM (dok. KM)
Politisi PDIP, Eddy Kusuma Wijaya saat berbincang dengan KM (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Sejak pembentukan Pansus Hak Angket digulirkan oleh DPR, pihak-pihak yang merasa tidak mendapatkan keadilan oleh penyidik KPK mengadukan nasib mereka di hadapan para legislator di Pansus tersebut.

“Kemarin kita menerima kunjungan masyarakat Bengkulu korban penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Novel Baswedan dan anak buahnya beberapa tahun lalu,” kata Eddy Kususma Wijaya, anggota Pansus Angket KPK di DPR-RI saat ditemui KM di ruang kerjanya kemarin 22/8.

Rombongan yang mendatangi DPR itu didampingi oleh Advokat Yulisman, dan melaporkan terkait penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Novel Baswedan dan anak buahnya, di mana korbannya waktu itu merasa teraniaya dan satu meninggal dunia. “Yang teraniaya itu Irwan Siregar yang sekarang kondisinya cacat dan pincang karena kakinya ditembak, kemudian Dedi kakinya juga ditembak, kemudian Ali yang merupakan salah tangkap, kemudian ada yang meninggal dunia karena pendarahan,” lanjut Eddy menjelaskan.

Eddy mengisahkan, menurut pengakuan para korban dan pengacaranya itu, kejadian ini dimulai dari penangkapan dan dibawa ke Polres Bengkulu, kemudian dilakukan penembakan di salah satu pantai di daerah Bengkulu.

“Dalam kejadian ini mereka juga ditekan untuk mengakui yang bukan-bukan yang sebetulnya bukan perbuatan daripada korban itu, tapi kekerasan ini dilakukan untuk membuat suatu pengakuan-pengakuan sebagaimana yang dikehendaki oleh Novel Baswedan dan penyidik di Bengkulu,” ujar politisi PDIP itu.

Eddy menambahkan, kasus ini sebetulnya kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada tahun 2004 silam.
Dan mereka ini sebetulnya sudah mengaku bahwa mereka betul mencuri, tapi ada juga yang dituduh terlibat seperti Ali sebagai tukang ojek, yang juga ditangkap. Menurut penyidik, Ali ini adalah kelompok pencuri juga yang bertugas mengawas-awasi terhadap perbuatan pencurian sarang burung walet itu.

Namun, menurut Ali, dia tidak ada kaitan dengan kelompok pencurian itu, tapi dia juga ikut ditangkap dan ditembak.

Dalam kasus ini, Eddy meyakini perbuatan semacam ini adalah perbuatan melanggar HAM yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

“Nah, karna ini sudah muncul di permukaan dan sudah diproses, mulai dari proses penyidikan di Polri, proses penuntutan di kejaksaan Agung dan waktu itu sudah P21 dari Polri ke kejaksaan dari kejaksaan sebetulnya sudah mengirimkan perkara ini kepada pengadilan Negeri di Bengkulu, dan sudah ditetapkan jadwal sidang, namun berkas perkaranya diambil kembali oleh kejaksaan. Katanya untuk memperbaiki penuntuntutan.

Nah kemarin kita terima permasalahan ini di Pansus dan kebetulan di Pansus ada juga ketua Komisi III DPR, karena permasalahan ini tidak berkaitan langsung dengan Pansus, tapi ini adalah berkaitan dengan tugas-tugasnya Komisi III, makanya kemarin masalah ini diserahkan ketua Pansus kepada ketua Komisi III,” lanjutnya.

Lebih lanjut kata Eddy, mungkin minggu depan Komisi III melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kapolri dan jaksa. “Nah ini harus menjadi perhatian khusus karena mereka juga menuntut,” sambung Eddy.

Eddy berharap, mudah-mudahan Presiden Joko Widodo mendengar permasalahan ini, karena mereka sudah ada yang ditembak, dibunuh, sudah ada yang cacat, dan sudah diperlakukan secara “sangat tidak manusiawi”.

“Dalam kasus Novel yang sekarang terkait dugaan penyiraman air keras dan sudah diobati dengan biaya anggaran Presiden ke Singapura, sementara korban-korban ini dengan keluhannya kemarin, tidak ada yang mengobati malah salah satu peluru ada yang bersarang di kaki korban ini melebihi dua tahun … mereka tidak ada uang untuk mencabut peluru yang ada di kaki korban itu,” ujar mantan Inspektur Jenderal Polri itu.

Sebelumnya, diketahui bahwa penyidik KPK Novel Baswedan ditangkap penyidik Bareskrim Polri terkait kasus dugaan tindak pidana penganiayaan terhadap pencuri sarang burung walet pada 2004 silam.

Saat itu kepala Divisi Humas Polri di jabat oleh Inspektur Jendral Anton Charliyan, yang menjelaskan kronologi kasus tersebut.

Ia menuturkan, saat itu Novel menjadi kepala satuan reserse kriminal Polresta Bengkulu dan memimpin penangkapan terhadap enam pencuri sarang burung walet. Pelaku dibawa ke mobil pick-up menuju Pantai Panjang, Bengkulu, dan sesampainya di sana, mereka ditembak. “Novel menembak empat tersangka, sedangkan duanya lagi ditembak kawan Novel,” ucap Anton di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, pada Jumat 1/5/2015 silam.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: