KUPAS KOLOM: Selamat Datang di Pulau Sumatra, Saksi Bisu Penghancuran Alam Indonesia

Adaptasi dari “Welcome to Sumatra, Indonesia, an environmental genocide in the making”, oleh Andre Vltchek, pertama terbit di RT.com, 3 Februari 2017. Diterjemahkan oleh Hasan J. A.

Di luar Asia Tenggara, sedikit yang mengetahui tentang Palembang, sebuah kota besar di Sumatra, Indonesia, pulau terbesar keenam di dunia. Sebuah kota yang dihuni hampir dua juta jiwa, yang sebagian besarnya hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.

Kota bersejarah itu dibelah oleh Sungai Musi, sebuah perairan yang sangat tercemar, yang diapit oleh perkampungan-perkampungan rumah panggung yang kumuh dan sejumlah bangunan kolonial. Beragam jenis kapal memanfaatkan Sungai Musi, mengangkut segala macam barang yang dapat dijual baik ke luar negeri maupun ke belahan Indonesia lainnya. Sungai ini sesak dengan kapal-kapal besar yang mengangkut batubara, minyak bumi, kapal-kapal kayu mengangkut kelapa sawit dan kayu yang tak henti-hentinya hilir-mudik.

Inilah penjarahan yang terjadi secara terbuka, tanpa usaha untuk menutup-nutupinya sedikitpun.

Situasi tersebut disesalkan oleh Isna Wijayani, seorang dosen di Universitas Bina Darma, Palembang.

“Sudah tidak ada lagi hutan primer di sekitar Palembang,” ujarnya. “Namun, pembalakan liar tidak dilaporkan dalam media lokal. Ini karena kekuatan-kekuatan besar, termasuk kepolisian dan TNI, terlibat atau bahkan berada di balik kebanyakan kasus pembalakan liar dan aktivitas komersial yang menguntungkan lainnya di Sumatera Selatan.”

Kota Palembang (dok. Andre Vltchek)

Kota Palembang (dok. Andre Vltchek)

Universitas Bina Darma mengundang saya untuk berbicara tentang manipulasi media Indonesia oleh Barat. Saya diminta untuk berbicara di depan sekitar 100 mahasiswa dan dosen dari kawasan Sumatera Selatan. Paparan tersebut disusul oleh sebuah diskusi yang berlangsung sekitar satu jam, yang mana saat itu saya baru menyadari betapa sedikitnya yang diketahui, bahkan di antara para mahasiswa dan guru-guru mereka, tentang parahnya kondisi alam dan lingkungan hidup di belahan dunia ini.

“Kami tidak tahu sama sekali tentang besaran penebangan hutan [deforestation] yang terjadi di sini,” ujar Lina, seorang mahasiswi.

Lain halnya dengan Ayu Lexy, seorang mahasiswi pascasarjana. “Menurut saya, [Presiden Amerika Serikat] Donald Trump gila, mengklaim bahwa tidak ada pemanasan global. Efeknya jelas terasa disini!” tuturnya.

Sebagaimana yang pernah saya lakukan beberapa tahun yang lalu, saya menyewa sebuah perahu motor dan meminta sang kapten untuk mengantar saya ke Upang, sebuah desa yang terletak sekitar satu jam perjalanan dari Palembang, dengan perahu ini, melalui perairan Musi yang keruh.

Beberapa kilometer pertama dari perjalanan ini, saya melihat pabrik-pabrik besar berjejeran di kedua sisi sungai. Seolah pabrik-pabrik ini telah membentuk sebuah koalisi besar dengan satu tujuan: untuk menghancurkan sisa-sisa dari kawasan yang dulunya surga tropis ini.

Tampak pabrik pupuk PT. Pusri (Pupuk Sriwijaya), salah satu pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara, memuntahkan asap dan bau menyengat ke udara. Di seberang, dikelilingi perkampungan kumuh, ada sebuah pabrik kayu yang juga mengeluarkan bau tak sedap. Tidak jauh darinya, anak-anak mandi dan berenang di perairan Musi, tak terlintas di pikiran mereka tentang bahayanya terhadap kesehatan mereka.

Terkait ini, seorang mantan eksekutif Pusri, Reza Esfan, mengakuinya. “Kami menciptakan polusi, tentunya, walaupun kami berusaha untuk meminimalisirnya. Saya tidak bisa membantah bahwa bau-bau tidak sedap ini keluar dari pabrik Pusri.”

Ia pun berkilah. “Jelas, kesalahan Pusri adalah mereka tidak membeli lahan di sekitar pabriknya. Sekarang, kalau kita mengalami sebuah kebocoran, masyarakat yang akan menggugat kita,” sambungnya.

Tak sepatah katapun tentang penderitaan masyarakat yang harus menahan bau menyengat itu dalam keseharian mereka.

Di desa Kapitan, saya melihat beberapa wanita mencuci pakaian mereka di air sungai yang kotor ini, lalu menyikat gigi mereka menggunakannya.

“Kenapa kita tidak boleh mandi dan sikat gigi di air bersih?” kata salah satu dari mereka. “Kami tidak mampu menikmati kemewahan seperti itu! Air sungai ini gratis, dan cukup bersih kok.”

Saat itu pula, sebuah mayat anjing yang sudah bengkak mengambang melewati kami.

Sebuah Bencana yang Hanya Menunggu Waktu

Penebangan hutan memang merupakan suatu kebutuhan untuk pembangunan industri lokal. Namun, separah apakah penebangan hutan di Indonesia secara umum? Dan seburuk apakah kontribusi penebangan hutan di Indonesia ini terhadap pemanasan global?

Jawaban sederhananya: bukan hanya buruk, tapi mengerikan.

Kanal berita independen Asia, Coconuts TV, melaporkan pada tahun 2015: “Penebangan hutan adalah kontributor utama terhadap perubahan iklim, menambah polusi karbon ke atmosfer dalam jumlah yang lebih besar daripada semua mobil, truk, kereta api dan pesawat di seluruh dunia digabungkan. Ianya juga mendorong banyak spesies hewan ke ambang kepunahan, termasuk badak Sumatera, harimau Sumatera, gajah Sumatera dan orangutan akibat pengrusakan habitat mereka.

Indonesia telah menjadi yang terdepan di dunia dalam penebangan hutan, dan alasannya adalah kehausan dunia terhadap minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit adalah minyak sayur yang paling luas penggunaannya di dunia, dan dapat ditemukan pada lebih dari setengah dari semua produk yang dijual di supermarket, dari minyak goreng hingga lipstik.

(dok. Andre Vltchek)

(dok. Andre Vltchek)

Ketidakseriusan otoritas di Indonesia untuk menangani masalah ini sudah disoroti sejak tahun 2007, ketika Greenpeace Filipina mengecam keengganan pemerintah Indonesia untuk menangani bencana ini.

Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap harinya, setara dengan luas 300 lapangan bola setiap jam – sebuah angka yang menurut Greenpeace layak menempatkan Indonesia di dalam the Guinness Book of World Records sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia. … Angka terbaru ini mencerminkan tidak adanya keinginan maupun kemampuan politis dari pemerintah Indonesia untuk menghentikan kehancuran hutan yang sudah sangat parah ini. Serangkaian bencana alam yang terjadi beberapa tahun terakhir ini seperti banjir, kebakaran hutan, longsor, kekeringan, erosi besar-besaran semuanya berhubungan dengan parahnya keadaan hutan kita. Kebakaran hutan yang disebabkan oleh konsesi dan perkebunan telah menobatkan Indonesia sebagai negara pengemisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia,” ungkap Hapsoro, Juru Kampanye Hutan Regional, Greenpeace Asia Tenggara, dalam siaran pers Greenpeace Indonesia pada 16 Maret 2007.

Sejak 2007, tidak banyak yang berubah. Negeri ini sudah kehilangan lebih dari 70 persen hutan kuno nya, dan penebangan hutan komersial, pembakaran hutan dan pembukaan lahan baru untuk perkebunan sawit mengancam sisanya. Keserakahan memang tidak mengenal batas.

Menurut ScienceDirect, “Antara tahun 1970’an and pertengahan 1990’an, produksi kayu untuk ekspor dan permintaan global merupakan faktor utama di balik penebangan hutan. Budidaya beras dan pangan lainnya juga ditemukan berhubungan dengan pertumbuhan penduduk dan kebijakan transmigrasi. Juga, deregulasi investasi asing pada tahun 1980’an tampaknya menghasilkan ekspansi dalam industri yang berorientasi ekspor, termasuk produksi pangan dan kayu secara komersial. Antara pertengahan 1990’an dan 2015, ketidakseimbangan antara permintaan global dengan produksi kayu dan minyak sawit Indonesia menyebabkan berkembangnya pembalakan ilegal dan ekspansi kawasan pertanian permanen…

(dok. Andre Vltchek)

(dok. Andre Vltchek)

Hasilnya, pulau Sumatra dan Kalimantan kini disesakkan oleh polusinya sendiri, walau penderitaan itu menyebar jauh hingga ke Malaysia dan Singapura. Tahun demi tahun, jutaan warga terkena dampaknya, kelas-kelas di sekolah dibatalkan, penerbangan-penerbangan dibatalkan dan kegiatan sehari-hari menjadi terhambat. Ratusan ribu warga menderita infeksi pernafasan akut. Ratusan nyawa melayang.

Sebagian bahkan menyebut “ekspor polusi” ini sebagai sebuah “kejahatan kemanusiaan”. Frustrasi di mana-mana, dan banyak warga Malaysia dan Singapura memprotes dan menyerukan boikot terhadap produk-produk Indonesia!

Pada banyak kesempatan, saya menyaksikan asap tebal menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di kota-kota besar di Malaysia dan di Singapura. Pada tahun 2015, saat kebakaran besar terjadi di beberapa titik di Sumatera, kehidupan di Kuala Lumpur hampir berhenti.

Kali ini, saat mendarat di Palembang, tampak asap menutupi seluruh runway. “Visibilitas enam kilometer,” kata kapten maskapai Indonesia itu, Garuda Indonesia, tidak lama sebelum mendarat. Namun sepertinya visibilitas yang sebenarnya tidak lebih dari 200 meter.

Dalam beberapa hari ke depannya, mata saya berair dan sendi-sendi tubuh saya pun nyeri, dan batuk-batuk saya tidak terkendali. Ketika diminta oleh “Gerakan Bintang 5” dari Italia untuk merekam pesan politik saya (dari sebuah perkampungan kumuh), sudah sangat sulit bagi saya untuk berbicara.

Masalahnya bukan saja dari kebakaran hutan. Semuanya di sini tampaknya turut mencemari lingkungan: pembakaran sampah, kemacetan lalu lintas, limbah dari pabrik-pabrik yang tidak diregulasi, bahkan asap rokok di hampir setiap ruang publik.

Sepanjang Sungai Musi, hutan-hutan asli sudah lenyap dan diganti dengan sawah-sawah, perkebunan sawit dan karet.

Ketika saya bicara dengan para petani dan nelayan, kebanyakan dari mereka tidak pernah mendengar tentang “pemanasan global”, dan yang lainnya tidak peduli. Di Indonesia, perjuangan untuk bertahan hidup adalah daya dorong utama bagi kebanyakan orang. Tidak lupa juga dengan upaya mengejar keuntungan yang menghalalkan segala cara yang dilakukan oleh “para elit”. (Andre menjabarkannya secara detail di bukunya “Indonesia: Archipelago of Fear”)

(dok. Andre Vltchek)

(dok. Andre Vltchek)

Suatu waktu, sang pengemudi perahu menjadi kesal. Marah, frustrasi dan bersikap nasionalis, dia mulai mengacaukan pekerjaan saya, menggoyangkan perahu untuk mencegah saya dari mengambil foto-foto tempat-tempat yang terkena dampak dari bencana ini.

Namun, saya terus melanjutkan, karena ini adalah suatu keharusan! Jutaan orang menderita, puluhan spesies satwa menderita dan bahkan lenyap, termasuk harimau dan badak, gajah dan orangutan.

Pak Ahmad, seorang nelayan berumur 55 tahun dari Desa Upang, menyadari tragedi ini. “Dalam 20 tahun terakhir, sungai Musi naik rata-rata 50 sentimeter. Di sini ada sebuah lapangan badminton. Dulu, saat air pasang, air hanya akan naik mencapai mata kaki kita, tapi sekarang naik setinggi paha.”

Namun Pak Ahmad tidak mengerti bahwa penghancuran hutan tropis lah yang berdampak langsung terhadap kenaikan permukaan air sungai itu.

Mahasiswa setempat, yang mendampingi saya, tahu tentang apa yang terjadi, tapi tampaknya mereka tidak peduli. Ketika saya mewawancarai para petani dan nelayan, mereka menjawab sambil ber-chatting ria di ponsel mereka, tanpa kepedulian.

“Kerusakan lingkungan di sekitar Sungai Musi, khususnya hutan hujan, sangat buruk, dan masih berlanjut. Kebakaran besar tahun 2015 lalu membuktikan betapa buruknya manajemen hutan hujan di Indonesia, khususnya di Sumatera,” jelas Khalisah Khalid dari WALHI kepada saya melalui telepon.

Namun, dengan beragam alasan, bencana alam tampaknya tidak diperlakukan sebagai kondisi darurat, baik oleh pemerintah, media massa mainstream, bahkan oleh penduduk setempat.

Sementara perahu saya melaju di atas air, menerjang ombak-ombak yang diciptakan oleh kapal-kapal pengangkut batubara, saya menyadari bahwa media mainstream jarang ke sini, walaupun apa yang terjadi di sekitar Sungai Musi ini mempunyai dampak yang sangat besar terhadap seluruh planet kita. Di luar negeri, kehancuran alam Sumatera hampir luput dari perhatian.

Selama bertahun-tahun, saya bekerja di berbagai tempat di pulau besar yang dahulunya indah ini, dari Aceh hingga Lampung. Saya juga bekerja di berbagai tempat di kepulauan Pasifik, kawasan Oceania, kawasan di bumi ini yang paling menderita dampak dari perubahan iklim, hingga bahkan negara-negara terancam tenggelam akibat pemanasan global.

Pemanasan global memiliki dampak yang sangat menghancurkan bagi seluruh dunia, tidak terkecuali daerah Palembang sendiri. Dalam jangka pendek, perkebunan sawit dan karet mungkin akan membawa keuntungan bagi paerusahaan-perusahaan, bahkan bagi warga setempat, namun puluhan, bahkan ratusan juta kehidupan akan terganggu, bahkan rusak, akibatnya. Dunia ini membayar dengan sangat mahal untuk keuntungan itu, namun di Indonesia, topik ini hampir tidak diulas sama sekali. Ada terlalu banyak “orang penting” yang terlibat, dan ada terlalu banyak uang yang dihasilkan (khususnya bagi “orang penting” itu).

Sekarang, orang-orang yang mengklaim bahwa perubahan iklim adalah seuah hoax memiliki seorang sekutu yang sangat berkuasa di Gedung Putih, Washington: Presiden Donald Trump. Maka kebungkaman ini akan semakin meluas, sementara permukaan air semakin naik, dan asap semakin menutupi belahan dunia ini, bagaikan selimut yang besar dan mematikan.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.