Surat Terbuka Untuk Gayus Tambunan, Adik Kelasku

Adi Rahmanto, Konsultan Pajak, Direktur Eksekutif Lembaga Bina Potensi dan SDM dan KIS Consulting
Adi Rahmanto, Konsultan Pajak, Direktur Eksekutif Lembaga Bina Potensi dan SDM dan KIS Consulting

Oleh: Adi Rahmanto

Ada anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada November 2016. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Purnomo, Mantan Ketua BPK. Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, Mantan Wakil Ketua KPK. Kategori terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Ada juga Sudirman Said, Mantan Menteri ESDM, serta Hekinus Manao (alm) eksekutif direktur bank dunia. Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan.

Kamu, Gayus, bisa menyingkarkan Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Kamu bahkan lebih populer daripada bosmu kala itu M. Tjiptardjo, mantan Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik hati. Sama-sama alumnus STAN-Prodip. Di usiamu yang masih muda. Usia yang seharusnya mulai untuk menapak puncak karir, tapi justru kamu terperosok terlalu dalam.

Saya tidak seberuntung kamu yang masih kaya walau harta Rp. 100 miliar disita. Tapi kamu juga sebaliknya tidak seberuntung saya. Kamu bersusah payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Jakarta) yang notabene tempat berkumpulnya para MAFIA.

Muda, berduit dan berkuasa. Itulah gambarannya. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan, betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah, bahkan terkadang sembrono dan ugal-ugalan. Tetapi saya berbangga bahwa keputusan untuk mengundurkan diri ternyata tidak salah, walaupun terkadang dibalik kebanggaan itu sering merasakan gemerciknya hujan cercaan dan sinisme dari sekeliling (ngelus dhodho).

Tidak heran kamu, Gayus, dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya jauh di atasmu melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa kamu pun bangga melakukannya. Padahal, kamu bukan mereka. Uang boleh sama, tapi mereka cerdik, berpengalaman dan punya network luas.

Dengan latar belakang kurang beruntung secara ekonomi dan broken home, kamu telah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat. Kampus dipenuhi mahasiswa dari golongan menengah ke bawah.

Kebanyakan di antara kami berasal dari ndeso-ndeso. Kesederhanaan selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religius.

Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang. Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (taman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori mahasiswa STAN. Lalu kenapa kamu, Gayus, bisa lahir?

Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saat bekerja. Dengan gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka jadi orang kaya baru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. Sisanya lagi “miskin” karena tidak memeperoleh kesempatan.

Saat lulus kamu berjibaku di lahan kering Kalimantan. Setiap mudik ke Jakarta, kamu dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat teman-teman seangkatanmu begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli gorengan tempe. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita kolusi.

Maka, saat bertugas di Jakarta, kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kamu hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantor. Kamu “beruntung”.  Puluhan miliar rupiah bisa dikumpulkan dalam sekejap. Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi.

Kamu pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja. Maka, wajar kamu percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Kamu diadili dengan tumpukan dakwaan, Seakan hanya kamulah mafia pajak di negeri ini.

Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar olok-olok sarkastis menghajar bukan hanya kamu tapi saya yang sudah keluarpun sering menerima cibiran.

Kejengkelan mu muncul saat para bos, mafia-mafia besar justru nyaris tidak tersentuh hukum. Kamu lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk menggiringmu. Banyak pihak yang akhirnya ikut bising mendengarnya.

Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, kamu bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur.

Gayus, adik kelasku! Hadapilah ini dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin tidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.

Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari kesalahan mu juga. Meskipun kini engkau merasa menjadi kambing hitam.

Jika saya boleh memberikan nasihat, ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa terjerembap dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang masih berkarir. Adakalnya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit dan bertaubat.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*