“Wordfence” Tegaskan Dugaan Hacking Pilpres AS Tidak Ada Hubungannya dengan Rusia

Logo Wordfence (dok. KM)
Logo Wordfence (dok. KM)

(KM) – Pengembang software pengamanan website berbasis WordPress, Wordfence, mengumumkan dalam sebuah edaran Senin sore (2/1) bahwa analisa mereka terhadap laporan FBI Amerika Serikat, yang dijadikan rujukan bagi pemerintah Amerika Serikat tentang dugaan hacking terhadap data pemilih pada pemilihan presiden AS November 2016 lalu, menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara serangan hacker tersebut dengan baik pemerintah Rusia ataupun hacker dari Rusia.

Media AS serta pemerintah AS menganggap bahwa laporan FBI tersebut, yang disebut dengan laporan DHS/FBI Grizzly Steppe, menjadi bukti bahwa agen-agen intelejen Rusia telah meng-hack Pilpres 2016 Amerika Serkat.

Mark Maunder, CEO Wordfence, pengembang software pengamanan terpopuler bagi situs web berbasis WordPress, mengatakan bahwa skrip yang digunakan untuk meng-hack Pilpres AS merupakan skrip PHP yang sudah lama beredar yang dikembangkan oleh kelompok hacker dari Ukraina.

Dalam analisa Wordfence tersebut, pihaknya “menemukan bahwa malware PHP dalam laporan [FBI] tersebut adalah malware lama, bebas didapatkan dari kelompok hacker dari Ukraina dan merupakan sebuah alat administrasi bagi para hacker,” jelasnya.

“Kami juga menganalisa alamat IP yang terdapat dalam laporan tersebut dan menunjukkan bahwa mereka berasal dari 61 negara dan 389 organisasi berbeda tanpa kaitan yang jelas dengan Rusia,” lanjut Mark.

Ia pun menegaskan bahwa laporan tersebut “tidak membuktikan bahwa Rusia meng-hack Pilpres AS 2016.”

Mark juga menyayangkan respon media yang telah membesar-besarkan Rusia dan menggambarkannya sebagai dalang utama di balik serangan hacker tersebut. Ia memberi contoh bahwa sebelumnya, “sebuah [aplikasi] utilitas kelistrikan di Vermont menemukan sebuah sampel dari apa yang terdapat dalam laporan DHS/FBI Grizzly Steppe dalam satu laptop. Laptop tersebut tidak terhubung kepada jaringan [internet] Perusahaan Listrik, namun media melaporkannya sebagai Rusia meng-hack jaringan listrik AS.” Madia yang ia maksud adalah koran Washington Post yang akhirnya terpaksa mengakui bahwa tuduhannya tidak berdasar.

Pada akhir analisa nya Mark juga menunjukkan kesepakatannya dengan analisa pakar keamanan lainnya yang mengatakan bahwa sebenarnya pemerintah AS gagal membuktikan bahwa intelejen Rusia terlibat dalam serangan hacker di Pilpres AS 2016 lalu. Namun ia tidak menutup kemungkinan bahwa pihak pemerintah AS memiliki data atau informasi lainnya yang belum dipublikasi yang mungkin memberikan bukti yang lebih kuat bagi keputusan mereka.

Hubungan antara AS dan Rusia kembali menegang usai skandal serangan hacker tersebut, yang menurut pemerintahan Barack Obama merupakan pekerjaan badan intelejen Rusia. Ketegangan memuncak ketika Obama mengusir sebanyak 35 diplomat Rusia dari AS, berakar dari dugaan hacking tersebut. Namun pemerintah Rusia membantah tuduhan tersebut, dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menolak untuk membalas dengan langkah serupa terhadap diplomat AS, dan mengatakan bahwa pemerintahannya tidak menerapkan “diplomasi dapur”. Sementara itu, jubir presiden AS terpilih Donald Trump, Sean Spicer, mengkritik langkah pemerintah AS atas pengusiran diplomat tersebut, mengatakan bahwa langkah tersebut “tidak proporsional” dan tidak memiliki preseden dalam sejarah modern AS.

Analisa dan kesimpulan Mark Maunder dapat dibaca selengkapnya di situs web Wordfence (Bahasa Inggris). (HJA)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*