Puluhan TKA Ilegal Asal Tiongkok Melarikan Diri, Camat Cigudeg: Mereka Pasti Kembali

SejumlahTKA ilegal asal Tiongkok yang diamankan otoritas pada Selasa 10/1 lalu (dok. Jawa Pos)
SejumlahTKA ilegal asal Tiongkok yang diamankan otoritas pada Selasa 10/1 lalu (dok. Jawa Pos)

BOGOR (KM) – Tim Pengawasan Orang Asing (PORA) Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor menggrebeg puluhan tenaga kerja asing (TKA) ilegal asal Tiongkok di kawasan tambang emas dan galena, Desa Banyuwangi Cigudeg, Kabupaten Bogor.  Karena hal ini, tim Pora Kecamatan bersama unsur Muspika bakal memperketat pengawasan di lokasi penggerebekan yang dikenal dengan sebutan “Desa Tiongkok”.

“Para TKA tidak tahu kawasan pegunungan ini, dipastikan akan balik lagi ke tempat semula. Makanya pengawasan kita perketat bersama Satpol PP, TNI, dan Polsek setempat,” kata Camat Cigudeg Acep Sajidin kepada kupasmerdeka.com, Kamis (12/01/2017).

Kata Acep, saat penggerebekan yang dilakukan oleh tim Imigrasi pada Selasa (10/1) lalu, puluhan TKA diduga sudah kabur dari kawasan tambang. Hal ini terlihat, ada lima bilik semacam asrama pegawai yang kondisinya kosong. Namun, di dalamnya tersisa berbagai barang asal Tiongkok.

“Mulai dari sumpit, hingga makanan kemasan bertuliskan bahasa Mandarin. Pasti mereka akan kembali ke lokasi tambang,” jelasnya.

Jelas Acep, PT BCMG yang mempekerjakan TKA Tiongkok memiliki sejumlah anak perusahaan, yakni PT Lumbung dan PT Sinomine Resource Indonesia. Namun, PT Lumbung sudah bangkrut dan tak lagi beroperasi sejak dua tahun lalu.

Sementara Kepala Desa Banyuwangi, Ja’ih mengatakan, perusahaan tambang yang ada di desanya sampai saat ini tidak berkontribusi apapun ke masyarakat desa. Dia memastikan hampir tak ada warganya yang bekerja di tambang tersebut.

“Jadi tidak ada kontribusi sama sekali baik ke desa maupun ke warga sekitar. Adapun untuk pegawainya berasal dari luar Desa Banyuwangi,” ungkapnya.

Ja’ih mengakui,  setiap perusahaan besar seharusnya memiliki kewajiban tanggung jawab sosial berupa Coorporate Social Responbility (CSR) kepada lingkungan sekitar. Namun selama dirinya menjabat kades, belum pernah  merasakan bantuan apapun.

“Wah boro-boro buat jalan desa,  kita mengajukan proposal buat kegiatan saja, mereka hanya memberi sekedarnya. Dan warga pernah diberi sembako, tapi  tidak merata,” sesalnya. (pend/dedi).

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.