Musik Tradisional “Gambang Kromong” Padukan Budaya Betawi dan Tionghoa

Grup musik Gambang Kromong "Sinar Mustika" saat berpentas di bilangan Gunungsindur, Bogor (dok. Irfan/KM)

BOGOR (KM) – Modernisasi zaman dengan segala kebudayaan yang mengikutinya, ternyata berimbas juga pada dunia kesenian. Hal ini bisa terlihat dari semakin minimnya ruang gerak dan ekspresi kelompok pelaku seni musik tradisional atau daerah. Salah satu seni musik tradisional yang eksis di wilayah utara Bumi Tegar Beriman adalah kesenian “Gambang Keromong” atau Gambang Kromong.

“Gambang Kromong adalah seni musik yang merupakan perpaduan antara budaya masyarakat suku Betawi dan unsur etnik Tionghoa,” ujar Chui Seng alias Suryadi (58), pimpinan grup Gambang Kromong Sinar Mustika yang beralamat di Kp. Cibadung RT 01 RW 01 Desa Cibadung Kecamatan Gunungsindur, ketika diwawancarai KM dalam gelaran pentas di Desa Pondok Udik Kecamatan Kemang, Minggu (15/1/2017).

Suryadi menambahkan, grup gambang kromong miliknya didirikan pada tahun 1990.

“Semua peralatan punya pribadi. Sedangkan panjak [pemain-red] berasal selain dari Gunungsindur, juga ada dari Karawang, Legok Tangerang dan Tambun Bekasi,” tuturnya.

“Meski saat ini hanya bermain di acara-acara komunitas masyarakat Tionghoa, tapi grup kami sudah bermain di seluruh Jabodetabek bahkan hingga Karawang,” ujar Suryadi menerangkan.

Seperti diketahui, Gambang Kromong adalah perpaduan seni musik yang serasi antara unsur budaya Betawi dan etnik Tionghoa. Secara fisik, unsur etnik Tionghoa bisa terlihat di alat musik gesek seperti sukong, tehyan dan kongahyan. Sementara unsur Betawi sangat kental dalam perbendaharaan syair dan lagu-lagu populernya seperti “Jali-jali”, “Centeh Manis Berdiri”, “Mas Nona”, “Stambul”, “Surilang”, “Lenggang Kangkung” dan sebagainya.

“Makanya, kesenian Gambang Kromong masih eksis berada di wilayah yang ada perbauran komunitas Tionghoa dan Betawi. Kalau di Bogor salah satunya seperti Kecamatan Gunungsindur,” kata Rahmat (55) seorang praktisi musik Gambang Kromong yang bergabung di grup Sinar Mustika.

Dia menuturkan, nama musik Gambang Kromong diambil dari nama alat musik perkusi utamanya yaitu Gambang dan Keromong. Gambang adalah alat musik yang terbuat dari bilahan kayu yang empuk bunyinya ketika dipukul. Sementara Keromong adalah alat musik yang dibuat dari perunggu atau besi. “Biasanya gambang terdiri dari 18 bilahan kayu, sedang kromong biasanya ada 10 pencon (buah-red),” ujar Rahmat. Selain gambang dan kromong, sambungnya, alat musik lain yang digunakan adalah suling, gong, tehyan/kongahyan, dan gendang rampak.

Rahmat menambahkan, jenis lagu gambang kromong umumnya bersifat humor, bersifat gembira dan kadang ejekan atau sindiran. Lagu-lagu gambang kromong dinyanyikan oleh para penyanyi secara bergantian antara penyanyi laki-laki dan perempuan. Dalam sebuah pentas musiknya, gambang kromong juga dimeriahkan para wayang (penari-red) yang biasanya membawa selendang dan diberikan kepada para tamu undangan yang diajak untuk “plesiran” atau berjoget bersama.

“Seiring perkembangan zaman dan musik modern, saat ini muncul gambang kromong kombinasi. Cirinya adalah menggunakan tambahan alat musik seperti organ dan gitar dan membawakan lagu-lagu populer dari genre musik lainnya,” kata Rahmat memaparkan.(Irfan damar sinaga)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.