Kawasan Wisata Gunung Salak Endah Tidak Dikelola Secara Profesional

Pintu masuk Kawasan Wisata Gunung Salak Endah, Pamijahan (dok. KM)
Pintu masuk Kawasan Wisata Gunung Salak Endah, Pamijahan (dok. KM)

BOGOR (KM) – Kawasan wisata Gunung Salak Endah (GSE) merupakan salah satu destinasi wisata yang menyimpan banyak objek yang begitu indah. Namun sayangnya tata pengelolaan yang tidak profesional berimbas pada tidak meningkatnya Indeks Pendapatan Masyarakat sekitar GSE. Hal ini diamini oleh aktivis senior Drs. Juanda, yang kini mengabdikan diri sebagai Kepala Desa Gunung Bunder 2, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

“Sayang, Gunung Salak Endah yang menyimpan banyak objek wisata tidak dikelola dengan profesional. Sebetulnya ini potensi pendapatan asli daerah yang cukup besar, jika dikelola dengan baik, benar dan profesional,” ujar Juanda kepada KM, kemarin 25/11.

Lebih lanjut di katakan bahwa forum tiga Desa (Desa Gunung Bunder 2, Gunung Picung dan Gunung Sari) sudah mendorong BUMD (PT. Sayaga Wisata) untuk mengelola GSE supaya profesional, namun hingga sekarang tidak jelas lagi kabarnya.

“Sayang, uang beberapa ratus juta tidak terserap, pihak Perhutani tidur, kabupaten juga sama tidak bisa mengelola GSE,” ujarnya.

Menurutnya, sejatinya pengelolaan tersebut melibatkan peran semua unsur masyarakat dan ulama sekitar wilayah. Mengontrol bersama pemerintah meminimalisir praktek-praktek maksiat di sekitar wilayah GSE.

“Ya minimal maksiatnya gak besar, peran masyarakat ulama di sekitar ikut mengontrol bersama pemerintah. Agar peran ulama ada, berikan sharing retribusinya dari pengelolaan karcis,” tambahnya lebih lanjut.

“Kalau Desa mah mendorong, terserah kalau Kabupaten gak mau, siapa saja yang penting bisa mengelola, Itu akan berdampak positif pada masyarakat desa, kalau dikelola secara baik dan profesional,” pungkasnya. (Dian Pribadi)

Komentar Facebook

1 Comment

  1. Agus Muhaeran Djajakusumah June 20, 2018 at 12:48 pm

    Memang, sampah berserakan, gubug2 jualan tidak ditata dgn baik agar tidak mengganggu keasrian lingkungan, informasi di gerbang masuk sangat minim, sebaiknya di gerbang masuk pengunjung dibagikan denah obyek2 wisata (Kalau Pemda tidak punya dana, bisa bekerjasama dengan pemilik2 villa/penginapan. Sayangnya tidak ada kemauan dari pihak pengelola….Pemda maupun Perhutani. Jangan sampai ‘attitude’ spt ini menjadi stigma PNS…!!!

Leave a comment

Your email address will not be published.


*