Ibu Pertiwi Menangis

Penulis
Penulis

Oleh: Wahyu Hidayat Lubis
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Bogor. Aktivis HMI Komisariat Universitas Pakuan

Setelah usai sholat subuh, saya mencoba untuk memikirkan kejadian-kejadian yang terjadi hari-hari ini ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara kita di Indonesia. Pertanyaan saya adalah sampai kapan ibu pertiwi menangis? Pertanyaan ini bukan dramatisasi, sejujurnya saya tidak mau untuk terlalu banyak bicara masalah yang terjadi di Indonesia. Tetapi sebagai anak bangsa Indonesia mau tidak mau ternyata harus juga untuk bicara.

Ibu pertiwi menangis, karena atas demokrasi liberal, dimana semua orang dibebaskan dalam berbuat dan bertanya. Jika kebebasan ini tidak dimaknai maka apalah gunanya negara ini didirikan, apalah gunanya perdamaian. Sementara negara ini kita dirikan atas dasar kesepakatan bersama sehingga terciptalah legitimasi sebuah negara yang dihimpun dalam konstitusi yang akan mengatur hak dan kewajiban.

Kontrak sosial ini sebagai bentuk usaha umat manusia agar ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Jikalau tidak maka terkam-menerkamlah manusia didunia ini, karena tidak ada kesepakatan bersama sehingga individu-individu saling klaim membenarkan diri sebagai orang yang paling benar dan berkuasa semau-maunya. Begitu juga akhir-akhir ini, kelompok pemerintah dan kelompok masyarakat berseteru mengatasnamakan kepentingan bersama, pemerintah tidak mau kalah, masyarakat pun begitu juga.

Saya masih ingat apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes tentang manusia, bahwa homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya), atas hal inilah tercipta suatu konsep kontrak sosial antara manusia dengan negara. Tikam menikam antar manusia sangatlah menjadi ciri khas bagi manusia itu sendiri, ada beberapa pemicu konflik dalam umat manusia secara pandangan antropologis yaitu competition, diffidence, glory (persaingan, curiga dan nafsu akan popularitas). Itulah secara alamiah yang terkandung di dalam diri seorang manusia, maka jangan heran jika demokrasi hari ini memperlihatkan kepentingan sekelompok orang, tetapi ingat bahwa machiavelli dalam karyanya yang berjudul “sang penguasa” pernah menulis bahwa politik tidak lebih dari pertempuran kekuasaan, demi kekuasaan segelintiran manusia yang ingin berkuasa rela mempertaruhkan dirinya untuk melawan “kesetian, dan kepercayaan, belarasa dan agama”. Karena hal itu maka seorang politikus dalam bertempur memiliki dua cara: pertama, bertempur dengan aturan atau konstitusi. Yang kedua, bertempur dengan senjata. Yang pertama disebut moral manusia dan kedua disebut moral binatang.

Tetapi yang pertama amat jarang untuk dilakukan, dan yang sering dilakukan adalah yang kedua (moral binatang). Maka dengan kondisi dan situasi saat ini yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya, haruslah memperhatikan langkah kaki kehidupan kita.

Propaganda politik yang dipublikasikan oleh segelintir elit politik haruslah kita cermati terlebih dahulu kevalidannya. Sehingga kita tidak mudah untuk diprovokasi oleh elit-elit yang tidak bertanggung jawab dalam kestabilan keamanan dan kenyamanan hidup berbangsa dan bernegara di negeri ini. Dalam berpolitik, seorang politikus tidak akan kuat jika kita tidak terprovokasi oleh propaganda politik yang dilancarkannya kepada masyarakat. Jika kita terprovokasi berarti kita adalah orang yang memberikan kekuatan kepada segelintiran orang yang ingin berkuasa.

Ciri khas dari seorang politikus dalam merebut kekuasaan adalah memanfaatkan orang lain untuk mencapai kepentingannya agar mendapatkan kekuasaan. Maka janganlah mau untuk dimanfaati, apalagi kita tidak paham permasalahan yang terjadi.

“Cerdaslah dalam hidup, jangan pelihara kebodohan sebab kita hidup bukan untuk bodoh, tetapi untuk cerdas agar mengatakan mana yang baik dan mana yang tidak, jika sudah bisa membedakan baik dan buruk maka kebodohan telah tersingkirkan dari kehidupan kita sebagai manusia yang terlahir sebagai “animal rasional” (berakal budi)”.

Cara satu-satunya untuk menghapus air mata ibu pertiwi adalah setiap manusia haruslah hidup rukun (harmonis) agar persatuan dan kesatuan di Indonesia terjaga samapai akhir hayat kehidupan.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*