18 Warga Sukabumi Meninggal Dunia Akibat DBD Sepanjang 2016

Nyamuk Aedes Aegypti, penyebar penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD (stock)
Nyamuk Aedes Aegypti, penyebar penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD (stock)

SUKABUMI (KM) – Sepanjang tahun 2016 ini, ada 18 orang warga Sukabumi yang meninggal dunia akibat serangan demam berdarah dngue (DBD). Memasuki pergantian musim, DBD nampaknya masih menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat Sukabumi.

“Ini dapat dibuktikan dengan masih tingginya korban meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini,” jelas Staf Humas RSUD R Syamsudin Kota Sukabumi, Joni Setiawan kepada kupasmerdeka.com di kantornya, Senin (07/11/2016).

Kata Joni, berdasarkan database di RSUD R Syamsudin Kota Sukabumi, yang tercatat sepanjang bulan Januari hingga awal November 2016 jumlah kasus DBD mencapai 1.581 dengan jumlah korban meninggal mencapai 18 orang.

“Pasien sebanyak itu berasal dari Kota Sukabumi 673 pasien, dari Kabupaten Sukabumi 856 pasien dan dari luar Sukabumi seperti Cianjur dan Bogor yang dirujuk ke RSUD Syamsudin sebanyak 52 pasien. Pasien dewasa sebanyak 1.299 dan jumlah pasien anak yang terjangkit DBD sebanyak 282 orang,” jelas Joni.

Lanjut dia, untuk tahun ini jumlah pasien yang mengalami peningkatan terjadi pada Maret yang mencapai 209 orang. Biasanya  DBD mulai meningkat setiap peralihan musim seperti sekarang, bahkan jumlah pasien di September dan Oktober sama mencapai 136 pasien yang ditangani. Joni menambahkan, dari data tersebut mayoritas pasien berasal dari wilayah Kabupaten Sukabumi.

“Khusus untuk kasus DBD, kami tidak hanya menerima pasien dari Kota Sukabumi saja, tapi banyak rujukan dari rumah sakit lain seperti dari Kabupaten Sukabumi,” jelasnya.

Kepala Sub Bidang Pelayanan Medik RSUD R Syamsudin, Supriyadi mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya DBD. Selain karena faktor cuaca yang semakin tak menentu juga faktor lainnya seperti lingkungan.

“Termasuk terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan 3M plus (menguras, menutup, dan mengubur),” ucapnya.

Kata Suryadi, nyamuk aedes aegypti biasanya lebih senang bersarang di genangan air bersih dibandingkan dengan genangan air kotor seperti got. Selain itu, tumpukkan baju seperti dalam lemari pakaian pun juga bisa menjadi sarang nyamuk tersebut.
“Faktor lainnya, yaitu adanya perluasan daerah endemik akibat perubahan dan manipulasi lingkungan karena urbanisasi dan pembangunan tempat permukiman baru, serta meningkatnya mobilitas penduduk,” kata dokter yang menangani kasus DBD ini.

Dia mengakui, sosialisasi pencegahan DBD terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat, bahkan, pihaknya pun selalu berkoordinasi rutin dengan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi. Biasanya, tim teknis dikirim ke sejumlah daerah untuk penanggulangan vektor dengan fogging focus, pemberian larvasida (abate) dan insektisida. Menurut dia, kasus DBD memang cenderung meningkat pada musim penghujan.

“Cara paling efektif mencegah terjadinya penyakit DBD, dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk dan melakukan 3M yakni menguras, menutup tempat penampungan air dan mengubur kaleng-kaleng bekas yang menjadi sarang nyamuk,” tutupnya. (Dedi)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*