Tumor tak Kunjung Sembuh, Maryani Bunuh Diri Terjun ke Sungai Cisadane

Anggota BPBD dan Tagana menarik jenazah Maryani (45) yang diduga bunuh diri di Sungai Cisadane (dok. KM)
Anggota BPBD dan Tagana menarik jenazah Maryani (45) yang diduga bunuh diri di Sungai Cisadane (dok. KM)

BOGOR (KM) – Kampung Pulo Nusa RT05/06 kelurahan Paledang, Kota Bogor di gegerkan dengan adanya salah satu warganya yang melakukan aksi bunuh diri dengan cara menceburkan diri ke Sungai Cisadane, Jumat sore 14/10.

Tim dari BPBD dan Tagana dengan sigap meluncur ke lokasi setelah mendapatkan informasi dari Polmas untuk menyelamatkan dan melakukan pencarian terhadap korban yang ingin melakukan bunuh diri tersebut, dengan harapan bisa menyelamatkan nyawanya.

Faris, bagian penyelamatan dari BPBD mendapatkan info pada pukul 16:23  dari rekan Polmas dan langsung meluncur bersama tim BPBD dan tim Tagana ke lokasi kejadian. Namun sangat disayangkan, korban ditemukan sudah tidak bernyawa dan tesangkut di pinggir kali tak jauh dari lokasi awal korban menceburkan diri, yaitu di RT02/01 kelurahan Panaragan, sekitar 3 kilometer dari lokasi awal korban menceburkan diri,pada pukul 17.30.

Jasad korban tersebut pun lalu dibawa ke rumah sakit Bayangkara Polwil, di Jl Kapten Muslihat No. 18 Bogor untuk dilakukan visum, yang kemudian berhasil mengindentifikasi bahwa korban bernama Maryani (45).

Lurah Panaragan, Rika, menjelaskan, mungkin memang ada indikasi bunuh diri yang dilakukan Maryani sehubung penyakit yang dideritanya. “Jasad Maryani ditemukan di wilayah saya kelurahan Panaragan dan sedikit banyaknya saya mengetahui bahwa ibu Maryani menderita penyakit tumor di lengannya dan memang harus diamputasi,” jelasnya.

Advertisement

Staf kelurahan Paledang, Ardimaja, menjelaskan bahwa Maryani adalah warga yang ada di kelurahan Paledang yang telah mengidap penyakit tumor tersebut sejak sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu dan kondisinya memang semakin memburuk. “Rekan saya pun Kasi Kemas Tri sempat membawanya ke rumah sakit sekitar satu bulan yang lalu dan sempat dirawat selama satu minggu. Karena harus diamputasi, ibu Maryani pun enggan melakukannya, mungkin ia mengalami depresi sehinga ia ingin mengakhiri hidupnya,” jelas Ardi.

Dugaan bunuh diri tersebut diperkuat oleh Aep, cucu Maryani yang memang selama ini merawatnya.
Aep pun bercerita, memang akhir-akhir ini neneknya terlihat berbeda dari biasanya. “Bahkan nenek pernah mengucapkan kepada saya ingin mengahiri hidupnya. Nanti kalau air sedang pasang nenek mau bunuh diri mau loncat,” kata Aep, meniru ucapan neneknya. (Jamil/bd/lutfi )

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*