Ribuan Massa Bentrok dengan Pam Swakarsa, Tulang Bawang Mencekam

Seorang anggota TNI berjaga-jaga di tempat kejadian kerusuhan antara massa yang tergabung dalam Himpuan Tani Korban Gusuran BNIL dengan anggota Pam Swakarsa PT BNIL, Lampung Minggu 2/10 (dok. KM)
Seorang anggota TNI berjaga-jaga di tempat kejadian kerusuhan antara massa yang tergabung dalam Himpuan Tani Korban Gusuran BNIL dengan anggota Pam Swakarsa PT BNIL, Lampung Minggu 2/10 (dok. KM)

TULANG BAWANG, LAMPUNG (KM) – Ribuan massa dari Himpunan Tani Korban Gusuran PT Bangun Nusa Indah Lampung (BNIL) bentrok dengan petugas Pam Swakarsa di areal pendudukan lahan oleh warga di PT BNIL Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, Minggu (2/10).

Akibat bentrokan itu, puluhan kendaraan roda dua dibakar hangus atau hancur. Satu traktor dan alat berat lainnya ikut terbakar beserta sebuah mobil yang diduga milik PT BNIL hancur. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.

“Bentrokan sudah terjadi [sejak] kemarin, Sabtu. Saat ini di sinyalir merupakan serangan balik yang dilakukan oleh Pam Swakarsa yang difasilitasi oleh BNIL tersebut,” kata salah satu saksi mata.

Kondisi sempat mencekam ketika ribuan massa yang mengatasnamakan Himpunan Tani Korban Penggusuran BNIL (HTKPB) mengamuk dan mengobrak-abrik pos Pam Swakarsa PT BNIL. Massa yang tersulut emosi membakar sedikitnya 56 unit sepeda motor milik Pam Swakarsa, puluhan tenda dan satu unit traktor milik PT BNIL. Usai melampiaskan emosi, mereka membubarkan diri.

tulang-bawang-mencekam2

Aksi anarkis tersebut direspon secara serius oleh Polres Tulang Bawang. Setelah mendapatkan laporan dan informasi, ratusan personel kepolisian dari berbagai satuan dikerahkan untuk melakukan pengamanan di lokasi amuk massa yang tak jauh dari pos penjagaan PT BNIL.

Selain mengamankan kondisi, ratusan petugas juga sibuk mengambil barang bukti puing-puing sepeda motor yang dibakar dan mengangkutnya ke dalam truk untuk dibawa ke Mapolres Tulang Bawang.

Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih mengatakan, “Polres Tuba telah menyiagakan sebanyak 402 personel dengan dibantu dua kompi pasukan Brimob, dua peleton Sabhara Polda Lampung, serta masing-masing dua peleton dari Polres Mesuji dan Polres Lampung Tengah.

“Ratusan aparat kepolisian standby guna mengantisipasi bentrok susulan,” kata Sulis, Minggu 2/10.

Dia menyebutkan, peristiwa itu terjadi Minggu sekitar pukul 10:00 WIB dan menyebabkan sejumlah tenda Pam Swakarsa dan sepeda motor dibakar massa.

Berdasarkan keterangan koordinator lapangan, kata Sulis, insiden ini dipicu adanya beberapa oknum anggota Pam Swakarsa mendatangi tenda yang didirikan warga di lahan PT BNIL. Oknum Pam Swakarsa itu kemudian melakukan aksi provokasi. Hal itu mengakibatkan warga marah besar. Buntutnya, ribuan masyarakat Kampung Agung Jaya serta Bujuk Agung mengamuk dan melakukan penyerangan.

Kasat Sabhara Polres Tulang Bawang AKP Ladi memastikan ratusan personel polisi telah ditempatkan di lokasi kejadian untuk mengantisipasi kemungkinan bentrok susulan maupun bentrok fisik antara masyarakat dengan PAM Swakarsa PT BNIL.

Advertisement

Hingga saat ini, aparat gabungan di lokasi terus berjaga-jaga dan bersiaga mengantisipasi terjadi bentrokan susulan.

Sebelum terjadi bentrokan ini, sejumlah warga yang tergabung dalam perkumpulan Himpunan Tani Korban Gusuran PT BNIL telah mendirikan tenda-tenda di sekitar areal yang diklaim mereka.

Salah satu perwakilan warga yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan, “masyarakat Kampung Bujuk Agung, Kabupaten Tulangbawang, selama ini menuntut pengembalian lahan plasma. Warga pun menyatakan dukungan atas keputusan Bupati Tuba Hanan A Rozak yang mencabut persetujuan izin alih fungsi lahan dari kelapa sawit menjadi tebu.”

“Pelanggaran PT BNIL tidak hanya permasalahan perizinan, tapi juga permasalahan HAM, karena masyarakat Bujuk Agung telah menjadi korban relokasi dari areal HGU ke Kampung Bujuk Agung,” kata wakil warga itu pula. Menurutnya, masyarakat Bujuk Agung juga sudah menyampaikan ke Presiden, DPR RI, dan Komnas HAM terkait pelanggaran pendudukan lahan mereka oleh PT BNIL.

Disebutkan oleh warga, dari 6.500 hektare lahan hak guna usaha (HGU) PT BNIL itu, masyarakat hanya memperoleh relokasi seluas 3.000-an hektare. Karena itu, masyarakat memohon kepada pemerintah untuk dapat membantu penyelesaian permasalahan pengambilalihan lahan masyarakat untuk HGU.

Sebelumnya, Kapolda Lampung sudah meminta agar warga setempat bersama pihak perusahaan PT BNIL dapat menjaga suasana kondusif sambil menunggu upaya penyelesaian permasalahan yang terjadi. Kapolda Lampung Brigjen Ike Edwin meminta agar para pengunjuk rasa yang menduduki lahan PT BNIL itu menjaga kondusivitas dan meminta para pengunjuk rasa segera pulang ke rumah masing-masing.

“Saya minta masyarakat yang sedang aksi terkait PT BNIL bisa pulang ke kediaman masing-masing agar tercipta suasana kondusif dan tidak terjadi bentrok,” ujar Kapolda awal September lalu.

Kapolda menyatakan berencana mengunjungi PT BNIL itu, dan meminta agar para pihak terkait, seperti perwakilan warga, Badan Pertahanan Nasional, (BPN), PT BNIL, DPRD Tulangbawang dan DPRD Provinsi Lampung, bersama para praktisi hukum dapat bersama-sama membahas dan mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut, mengingat perlu kajian yang mendalam terkait penyelesaian masalah. (Arnadi/Gie)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*