DPR Himbau BPOM Perketat Pengawasan Penjualan Obat-Obatan di Pasar Pramuka

RDP Komisi 9 DPR RI dengan BPOM dan HPF, dipimpin oleh Dede Yusuf (dok. KM)
RDP Komisi 9 DPR RI dengan BPOM dan HPF, dipimpin oleh Dede Yusuf (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Komisi 9 DPR-RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan deputi BPOM dan aliansi Himpunan Pedagang Farmasi (HPF), Kamis 13 Oktober 2016, dipimpin oleh politisi PAN Dede Yusuf.

Dede Yusuf mempertanyakan sejauh mana penanganan BPOM terkait obat-obatan yang ada di Pramuka dan menghimbau kepada HPF agar para anggotanya lebih profesional lagi dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pedagang.

Sementara anggota Komisi 9, Oky Asokawati, mengatakan bahwa Pasar Pramuka berada di dapilnya. “Kalau kita bicara tentang Pasar Pramuka, sudah cukup banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya, saya ingat betul manakala ibu dari sahabat saya itu sakit liver, membeli obat infus warna kuning, kalau beli di apotik harganya sampai 1,5 juta kalau tidak salah saat itu sudah beberapa tahun yang lalu, dan kalau di Pasar Pramuka itu, lebih baik dan murah katanya. Memang informasi yang saya dapatkan membeli obat yang ada di Pasar Pramuka itu lebih murah hingga 20-30%,” papar Oky.

Namun temuan dari Badan POM dan pihak kepolisian menunjukkan bahwa obat yang ada di Pasar Pramuka itu juga banyak ditemui obat kadaluwarsa dan ilegal. “Saya mencoba melihat dari dua sisi tersebut, antara manfaat pada masyarakat dan temuannya Badan POM, dan informasi yang saya dapatkan bahwa obat yang ada di Pasar Pramuka itu bisa menjual dengan harga murah karena langsung membeli di pabrik obat,” tambah Oky.

“Menurut hemat saya, kenapa obat yang ada di PS Pramuka itu lebih murah, karna memotong jalur distribusi, sehingga lebih murah.”

Masih kata Oky, “[Di satu sisi] adanya temuan dari Badan POM, tapi di satu sisi juga ada keuntungan yang didapatkan oleh masyarakat. Maka untuk itu saya ingin menyoroti beberapa hal, dengan memberikan beberapa pertanyaan, baik kepada pihak HPF, maupun BPOM.”

Oky pun mempertanyakan kepada HPF bagaimana obat-obatan di farmasi bisa jauh lebih mahal sehingga masyarakat memilih untuk beli obat di Pasar Pramuka. “Apakah bapak itu membeli obat itu dengan pedagang atau pabrik obatnya, atau punya atasan lain begitu, dan mengapa sampai obat yang ada di Pasar Pramuka itu bisa menjadi lebih murah 20-30% nya kenapa itu bisa terjadi, bisa bapak jelaskan?” ujar Oky.

Advertisement

“Pertanyaan yang ke dua, apakah mungkin manakala asosiasi ini menjadi supervisi, kolaborator dengan balai besar POM, dalam arti kata pihak asosiasi memberikan pembinaan begitu kepada pedagang di sana dengan bekerja sama dengan Badan POM. Karena intinya adalah, seperti yang dikatakan Pak Juan, berkas saya terdahulu adalah, kalau ingin membunuh tikus jangan lumbung padinya yang dibakar, ibaratnya kalau sebuah ranting yang kurang bagus, jangan kemudian satu pohon yang di tumbangkan.”

Jadi menurut Oky, kalau tujuannya menutup atau niat untuk penutupan penjual obat di Pasar Pramuka ini tujuannya untuk mengendalikan obat kadaluwarsa atau obat ilegal yang tersebar di masyarakat, dirinya tidak setuju dengan wacana itu. “Saya rasa tidak tepat, dan saya tidak setuju,” katanya.

Ia juga menghimbau agar BPOM memperketat pengawasannya dalam industri obat-obatan dan agar HPF ikut memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara membeli obat yang benar dan bahay mengguakan obat palsu. Oky juga menyarankan agar pedagang obat kadaluwarsa dihukum dengan penjara 5 tahun dan denda Rp. 5 Miliar, serta pencabutan izin dan blacklist pelaku.

Sementara menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Komisi 9, Deputi BPOM Hesori Dwi memaparkan, “tugas kami hanya mengawasi, dan kami punya intelejen-intelejen yang kami tempati di mana ada titik-titik terjadinya pelanggaran dan perizinan dan kami tidak berwenang untuk menutup, kami hanya memberikan teguran berupa SP 1 dan SP 2 dan kalau pelanggarannya berat kami memberikan rekomendasi kepada Menkes, pihak yang lebih berwenang,” tegasnya. (Indra Falmigo)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: