Aktivis 98 Tolak Pembentukan Isu SARA untuk Kepentingan Politik

Anggota Rumah 98 saat deklarasi pernyataan sikap di RM Handayani, Salemba Jumat 28/10 (dok. KM)
Anggota Rumah 98 saat deklarasi pernyataan sikap di RM Handayani, Salemba Jumat 28/10 (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Menyikapi maraknya berita dengan kabar persiapan Pilkada di beberapa kota dan provinsi, khususnya di Provinsi DKI Jakarta, yang dinilai oleh sebagian pihak sebagai barometer Indonesia dalam keamanan  jelang Pilkada Gubernur.

Pembentukan opini yang terjadi di beberapa media terkait pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (ahok) tentang kontroversi ucapannya yang diduga penistaan agama menyebabkan reaksi keras dari sebagian umat Islam serta beberapa tokoh dan ormas Islam, yang membuat juga isu SARA mencuat dalam topik Pilgub hingga melebar kepada isu kebangsaan.

Sejumlah aktifis perjuangan 98 yang tergabung dalam organisasi Rumah 98 Jumat sore 28/10 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda berkumpul di RM Handayani, Jl Salemba Raya, memberikan pernyataan sikap terkait berkembangnya isu-isu, menyerukan agar masyarakat tetap menjaga persatuan.

Pernyataan sikap tersebut dihadiri oleh aktivis 98 Masinton, Kika, Noel, Bernard Haloha, Sayid Junaidi, Wahab Talouhu dan Anton. Acara tersebut diawali lagu Indonesia Raya, disusul dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda.

“Momentum Sumpah Pemuda harus menjadi bahan refleksi bagi seluruh komponen anak bangsa. Sumpah Pemuda sebagai bukti nyata persatuan pemuda Indonesia tepatnya 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda merupakan proses kelahiran bangsa ini, perjuangan rakyat Indonesia selama ratusan tahun untuk membebaska dari ketertindasan akibat ulah kolonialis penjajah telah dibuktikan dengan berhasilnya Proklamasi Kemerdekaan 17-8-1945,” bunyi pernyataan Rumah 98 itu.

“Miris rasanya komitmen persatuan bangsa kita saat ini sedang diuji dengan terpaan isu dan fenomena SARA yang muncul akhir-akhir ini. Rasanya tepat dalam momentum Sumpah Pemuda saat ini. Kami Rumah 98 mengajak untuk terlibat proaktif kepada semua anak bangsa agar ikut menjaga ruh kebangsaan dan persatuan di negeri ini,” lanjutnya

Adapun sikap yang dinyatakan oleh Rumah 98 adalah: mengutuk dan menolak segala macam bentuk isu SARA, mendukung pihak Polri untuk menegakkan hukum dan bertindak tegas terhadap segala macam bentuk aksi anarki, menghimbau pada tokoh agama dan masyarakat untuk menciptakan suasana kondusif, dan menegaskan pada elit politik untuk tidak menggunakan isu SARA demi tujuan politik jangka pendek. (Gie/Ruly)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*