Menelusuri Filosofi Masjid Istiqlal, Lambang Persatuan Bangsa dan Persatuan Islam

Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat (dok. Jack/KM)

JAKARTA (KM) – Bagi penganut agama Islam, masjid merupakan pusat kegiatan umat. Dari interaksi sosial hingga pengambilan kebijakan hukum bagi masyarakat sampai pada persoalan ekonomi rakyat, semuanya pernah terputuskan dari permusyawaratan didalamnya. Kemegahan sebuah masjid juga menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat dan warga negara, selain bersifat sebagai simbol dedikasi masyarakat atau otoritas terhadap pentingnya beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Masjid Istiqlal, salah satu masjid di pusat ibukota ini merupakan masjid terbesar se-Asia Tenggara. Saat KM menemui Wahono, staf masjid bagian humas ini menceritakan sedikit tentang sejarah dan filosofi masjid Istiqlal. “Masjid ini awalnya sebuah benteng Belanda yang dirubah oleh founding father kita bung Karno atas prakarsa ayah dari mendiang Gus Dur, yaitu KH Wahid Hasyim yang mana pembangunannya diserahkan langsung sepenuhnya oleh bung Karno pada seorang arsitek terbaik di zamannya, Ir. Frederick Laban dari Sumatera Utara yang beragama Nasrani.”

Entah atas pertimbangan apa bung Karno menyerahkan pembangunan masjid negara ini pada non Muslim, bisa jadi lantaran toleransi antarumat beragama tapi yang jelas masjid ini tidak terlihat seperti masjid pada umumnya.

Masjid Istiqlal ini berdiri di atas tanah seluas 5,4 hektar yang mulai dikerjakan tahun 1961 dan diresmikan pada tanggal 22 Februari 1978.

“Masjid ini merupakan ungkapan rasa syukur bangsa Indonesia pada Allah SWT atas kemerdekaan yang telah diraih. Maka dinamakan Istiqlal yang dalam bahasa Arab berarti kemerdekaan,” lanjut Wahono.

Advertisement

Kubah besar yang berada di tengah bangunan masjid ini berdiameter 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan. Kubah kecil berdiameter 8 meter melambangkan bulan kemerdekaan yaitu bulan Agustus, sedangkan menara yang berada di atas masjid memiliki tinggi 17 meter yang melambangkan tanggalnya.

Selain itu ia menambahkan juga bahwa masjid ini ditopang oleh dua belas tiang penyangga yang melambangkan tanggal kelahiran Rasulullah SAW. “Lalu dibangun lima lantai menegaskan rukun Islam dan lima waktu sholat dalam sehari semalam juga dasar negara Pancasila yang dianut bangsa ini,” sambungnya.

Masjid ini dibangun di tengah dua gereja, yaitu gereja Katedral (Katolik) dan gereja Immanuel (Protestan) yang melambangkan kerukunan antarumat beragama menuju keselarasan berbangsa dan bernegara.

Masjid Istiqlal tidak memiliki pintu atau jendela seperti pada umumnya. “Ini memberi arti kalau masjid ini menerima siapa saja dari setiap aliran dan golongan dalam Islam selama tujuan utamanya membangun keumatan.”

Wahono juga menegaskan kontruksi masjid seluruhnya dengan baja dan berlantai marmer melambang kuat dan kokohnya persatuan bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

“Sebagai generasi bangsa sudah sepatutnyalah kita menjaga persatuan dan kesatuan yang harmonis guna terwujudnya kemerdekaan hakiki di setiap jiwa bangsa ini. Dan semoga kita dapat mengambil pelajaran dari filosofi masjid Istiqlal ini, yang tentu sebagai salah satu peninggalan anak bangsa yang menjadi ikon ketakwaan negara besar tercinta ini,” tegas Wahono. (jack-Rully)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*