Massa HTI Padati Monas, “Tolak Pemimpin Kafir”

Sejumlah warga yang tergabung dalam ormas HTI berunjuk rasa di monas. (dok. KM)
Sejumlah warga yang tergabung dalam ormas HTI berunjuk rasa di monas. (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Ribuan massa yang tergabung dalam ormas Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa ormas lainnya menggelar unjuk rasa di depan silang Monas, Minggu 4/9. Aksi tersebut menuntut agar masyarakat DKI Jakarta menolak untuk memilih Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pada Pilkada DKI tahun depan. Massa mulai terkonsentrasi berkumpul sejak pagi pukul 08.00 dan diperkirakan akan berakhir pukul 12.00.

Aksi damai tersebut dikawal dengan lapisan pengamanan baik dari Internal HTI sendiri maupun dari kepolisian (Polri). Kapolres Jakarta pusat Kombes Pol Dwiyono ikut turun langsung dalam menjaga aksi damai ini.

“Polri punya kewajiban tugas untuk mengawal aspirasi warga yang disampaikan dengan prosedural dan santun. Inilah yang bisa kita berikan agar aksi ini lancar dan berjalan tertib, apalagi ada beberapa anak yang diajak dalam aksi damai ini, saya yakin kawan-kawan HTI dan masyarakat bisa jamin aksi ini damai,” pungkas Kombes. Pol. Dwiyono kepada KM.

Aksi tersebut juga diwarnai oleh orasi dari perwakilan organisasi Forum RT-RW DKI Jakarta, Komite Bersama Rakyat Indonesia, Persatuan Ummat Islam Menggugat dan Forum Ummat Islam (FUI) Jakart.

“Indikasinya kita warga Jakarta akan dibohongi Ahok sudah jelas. Dulu si Ahok keukeuh jalur Independen, sampai-sampai [organisasi] Kawan Ahok aja sudah hampir kumpulin 1 juta KTP, eh ternyata Ahok belot dia ikut jalur Partai. Apa itu bukan indikator Ahok bakal bohongin kita semua nantinya? Pastinya,” ketus ketua Forum RT-RW DKI Jakarta H. Syahroni.

Dalam keterangan persnya, jubir HTI Ismail Yusanto mengklaim bahwa aksi tersebut merupakan “kemauan seluruh ummat Islam baik yang ada di wilayah penyangga Jakarta, terlebih ummat Islam jakarta itu sendiri.”

Advertisement

Menjelang pilkada DKI, isu agama yang dianut oleh Ahok kembali memanas dengan sejumlah ormas seperti HTI mengangkatnya kembali ke permukaan, khususnya melihat peluang Ahok sebagai petahana kian menguat dan belum adanya pesaing yang bisa menyamai popularitasnya. Selain isu agama tersebut, HTI juga menilai Ahok telah banyak melakukan penindasan terhadap warganya.

“Penolakan pemimpin kafir ini bukan hanya sosok Ahok yang kafir tapi kebijakannya yang lebih banyak menindas warganya, menggusur dengan tidak manusiawi, padahal di situlah rata-rata rakyat miskin dan mayoritas pula ummat Islam. Kami mengajak, manghimbau kepada Ummat Islam yang beriman dengan Alloh, Rosul, Kitab Qur’an inilah ajakan Alloh di surat An-Nisa ayat 141: Dan Alloh sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman. Ini Qur’an loh yang bicara,” pungkas Ismail.

Aksi penolakan Ahok ini dinilai ironis oleh sebagian pihak karena ormas HTI dikenal sebagai ormas yang mengusung konsep “Khilafah” dan menolak demokrasi.


Sebelumnya, diberitakan oleh website resmi Nahdlatul Ulama (nu.or.id) bahwa ketua umum PBNU, KH Said Aqil Siradj meminta agar Kapolri Jenderal Tito Karnavian mewaspadai ormas HTI yang ia sebut sebagai “gerakan antinasionalisme”, ketika Kapolri berkunjung ke PBNU Kamis 18/8 lalu.

“Gerakan tersebut saat ini masih kecil dan lemah, tetapi jika tidak diantisipasi lebih dini bisa mengancam keutuhan bangsa,” jelas Said. (Gie)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*