4 Langkah Pencegahan Terorisme di Kalangan Pemuda

Brigjen (Pol) Victor Simanjuntak (stock)
Brigjen (Pol) Victor Simanjuntak (stock)

MEDAN (KM) – Berkembangnya radikalisme di kalangan pemuda sudah saatnya menjadi agenda pemuda Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh mantan direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol (Purn) Victor Edison Simanjuntak, kala menjadi pembicara di seminar bertopik “Pemuda dan Bahaya Radikalisme” yang bertempat di Unimed Medan, Sumatera Utara pada Sabtu 10/9 yang lalu sebagaimana dilansir dari berbagai sumber.

Pada kesempatan itu Victor memaparkan sejumlah tindakan terorisme di Indonesia yang dilakukan oleh penganut faham radikal. “Di awal tahun 2016 ini terjadi ledakan bom di kawasan Thamrin Jakarta, tepatnya pada tanggal 14 Januari lalu. Peristiwa tersebut terjadi dan berawal dari sebuah ledakan di depan Pos Polisi Sarinah dan Gerai Kopi Starbucks pada pukul 10.40 Wib. Ledakan kedua terdengar sekitar pukul 10.50 kemudian disusul ledakan ketiga pada pukul 10.56, 10. 58, dua menit kemudian terdengar lagi ledakan kelima dan 11.02 terdengar ledakan yang ke enam. Enam ledakan terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan menimbulkan korban jiwa yang sia-sia,” paparnya.

“Baru-baru ini,” sambungnya, “pada tanggal 28/8/2016 terjadi pula di Medan percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik St Yosef jalan Dr Mansur dan pelaku berhasil diringkus jemaat gereja yang kemudian diserahkan pada petugas kepolisian.”

“Peristiwa bom tersebut ironisnya dilakukan oleh anak-anak muda, seperti kejadian di Thamrin Jakarta dilakukan oleh anak muda yang diduga berusia antara 20-30 tahun dan pelaku di Medan adalah anak muda yang berusia 18 tahun. Selain peristiwa diatas, sebelumnya juga terjadi peristiwa ledakan bom seperti di Bom Bali 1, bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton hingga aksi penembakan Pos Polisi Singosaren di Solo dan bom di Beji serta Tambora juga melibatkan pemuda. Padahal, pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga dan masa depan negri  ini bertumpu pada kualitas mereka. Namun sangat kita sayangkan pemuda saat ini sudah banyak yang terjerumus menjadi pelaku terorisme,” terang pria yang baru saja wisuda purnabakti dari Perwira Polri tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa fakta diatas diperkuat oleh berbagai kajian dan riset yang dilakukan terkait radikalisme dan terorisme di Indonesia. Misalnya riset yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) di Kalangan Siswa dan Guru Pendidikan Islam (PAI) di Jabodetabek pada Oktober 2010 hingga Januari 2011 yang lalu. Kala itu LAKIP menemukan sedikitnya 48,9% siswa menyatakan bersedia terlibat dalam aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral. Bahkan yang lebih mengejutkan, belasan siswa menyetujui aksi ekstrem bom bunuh diri dalam aksi terorisme.

Advertisement

“Banyak faktor yang menyebabkan para pemuda terseret ke dalam tindakan terorisme, mulai dari kemiskinan, kurangnya pendidikan agama yang damai, gencarnya infiltrasi kelompok radikal, lemahnya semangat kebangsaan, kurangnya pendidikan kewarganegaraan, kurangnya keteladanan dan tergerusnya nilai kearifan lokal oleh arus modernitas negatif,” lanjut Victor.

Empat langkah pencegahan terorisme di kalangan pemuda, masih menurut Victor adalah:
Pertama, dengan memperkuat pendidikan kewarganegaraan (civic education). Langkah ini dapat dilakukan dengan menanamkan pemahaman yang mendalam terhadap empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. “Melalui pendidikan kewarganegaraan,  para pemuda didorong untuk menjunjung tinggi dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan kearifan lokal seperti toleransi antar umat beragama, kebebasan yang bertanggung jawab, gotong royong, kejujuran, dan cinta tanah air serta peduli antar masyarakat,”jelasnya.

Kedua, mengarahkan para pemuda pada beragam aktifitas yang berkualitas baik di bidang akademis, sosial, keagamaan, seni, budaya maupun olahraga. Kegiatan-kegiatan positif ini akan memacu mereka menjadi pemuda yang berprestasi dan aktif berorganisasi di lingkungannya sehingga dapat mengantisipasi pemuda dari pengaruh ideologi radikal terorisme.

Ketiga, memberikan pemahaman agama yang damai dan toleran, sehingga pemuda tidak mudah terjebak pada arus ajaran radikalisme. Dalam hal ini, peran guru agama dilingkungan sekolah dan para pemuka agama di masyarakat sangat penting. “Pesan-pesan damai dari ajaran agama perlu dikedepankan dalam pelajaran maupun ceramah-ceramah keagamaan,” lanjut Victor.

Keempat, memberikan keteladanan kepada pemuda. Sebab, tanpa adanya keteladanan dari para penyelenggara negara, tokoh agama serta tokoh masyarakat, maka upaya yang dilakukan akan sia-sia. Para tokoh masyarakat harus dapat menjadi role model yang bisa diikuti dan diteladani oleh para pemuda.

“Berbagai upaya dan pemikiran diatas penting dan mendesak untuk dilakukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum terhadap pelaku terorisme semata. tapi kita patut bersyukur upaya-upaya tersebut telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat seperti tokoh agama dan akademisi, pemuda dan organisasi kemasyarakatan serta media massa. Siapapun anda, jika ingin masa depan negeri ini maju dan bersatu, mari bersama cegah terorisme di kalangan anak muda,” demikian Brigjen Pol (Purn) Victor mengakhiri. (Rully)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*