Waspada! Bahan Makanan Asal Hewan Mengandung Zat Kimia Berbahaya

Petugas UPT Keswankan saat mengambil sampel daging di pasar Cijeruk (dok. KM)
Petugas UPT Keswankan saat mengambil sampel daging di pasar Cijeruk (dok. KM)

BOGOR (KM) – Bagi masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga, hendaknya lebih berhati-hati ketika akan membeli bahan-bahan makanan yang berasal dari hewan di pasaran. Pasalnya, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Hewan dan Ikan (Puskeswankan) Wilayah 7 Kabupaten Bogor mendapati unsur kimia berbahaya di sejumlah bahan makanan tersebut.

Rohimat S.Pt, Petugas UPT Puskeswankan wilayah 7 Kabupaten Bogor yang tugasnya meliputi Cisarua, Megamendung, Ciawi, Caringin, Cijeruk dan Cigombong, mengatakan, dalam kegiatan rutin pengawasan dan pemeriksaan bahan makanan asal hewan terhadap bahan-bahan mengandung unsur kimia seperti berbagai jenis daging, ikan asin, ikan basah, sejumlah mie, dan bahan makanan lainnya, diindikasi kuat ditemukan kandungan zat kimia pengawet berbahaya. Meskipun menurutnya, kandungan zat tersebut masih diambang batas wajar.

“Memang kandungan zat kimia pengawet itu tidak melebihi ambang batas. Bahan makanan yang terindikasi kuat itu ditemukan pada terasi yang berbahan dasar ikan busuk. Namun demikian, hendaknya masyarakat lebih berhati-hati sebagai langkah antisipasi demi menjaga kesehatan,” imbau Rohimat, saat dijumpai di sela monitoring dan uji sampel daging di Pasar Semi Modern Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kamis (11/8) siang.

Advertisement

Sejauh ini, lanjut Rohimat, pihaknya belum menemukan bahan-bahan makanan asal hewan yang mengandung zat kimia berbahaya yang melebihi batas. Sebagai langkah mudah untuk antisipasi, masyarakat bisa melihat secara langsung. Jika bahan makanan itu dikerumuni lalat, maka dipastikan tidak mengandung bahan kimia pengawet. Namun sebaliknya, jika daging terlihat pucat dan dihindari lalat ataupun kucing, maka masyarakat harus mewaspadainya. Rohimat mengungkapkan, bahwa pihaknya juga memiliki cara cepat untuk mendeteksi kandungan zat kimia berbahaya pada makanan asal hewan.

“Saat ini, kami bisa melakukan pendeteksian kandungan zat kimia berbahaya pada makanan asal hewan dengan mudah di lokasi tanpa melalui uji lab. Yakni dengan menggunakan kertas lakmus,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu pedagang ikan asin di pasar Cijeruk yang enggan menyebutkan namanya mengaku tidak mengetahui bahwa barang dagangan yang dijualnya mengandung zat kimia berbahaya atau tidak. Karena, ikan asin dan terasi yang dijualnya diperoleh dari supplier. “Ya kalo saya disini cuma jual aja gak produksi sendiri, tapi dikirim atau belanja langsung dari supplier di Bogor,” pungkasnya. (Raden)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: