Turki Ajak Rusia Operasi Gabungan, Hantam ISIS di Suriah

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

(KM) – Setelah menghentikan serangan udaranya terhadap target-target ISIS di Suriah menyusul penembakan pesawat Rusia tahun 2015 lalu, pemerintah Turki mengumumkan bahwa pihaknya akan melanjutkannya kembali, seraya mengajak Rusia untuk melakukan operasi gabungan untuk melawan “musuh bersama”.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Menlu Turki Mevlut Cavusoglu dalam sebuah wawancara di kanal NTV Rabu 10/8 kemarin. “Ankara akan kembali, secara aktif, dengan pesawat (tempur) nya berpartisipasi dalam operasi melawan target-target ISIS,” ujarnya.

Cavusoglu juga menyerukn kepada Moskow untuk melaksanakan operasi gabungan melawan “musuh bersama”, yaitu ISIS.

“Mari kita lawan kelompok teroris ini bersama, agar kita dapat menyelesaikannya secepatnya,” kata Cavusoglu.

“Kalau tidak, ISIS akan terus berkembang dan menyebar ke negara-negara lain,” tambahnya.

“Kita akan membincangkan rinciannya. Kami selalu menyerukan kepada Rusia untuk melaksanakan operasi-operasi anti-Daish (ISIS) bersama,” katanya, dan menambahkan bahwa ajakannya tersebut masih terbuka.

Sang Menlu juga memaparkan sejumlah keuntungan dari kerjasama antara Turki dan Rusia, khususnya untuk mencegah insiden seperti penembakan sebuah pesawat tempur Rusia oleh angkatan udara Turki pada bulan November 2015 silam.

“Banyak negara yang secara aktif terlibat di Suriah. Kesalahan bisa saja terjadi… Untuk mencegahnya, kita harus menerapkan solidaritas dan mekanisme kerjasama antara para pihak, termasuk saling berbagi informasi intelijen secara real-time,” jelasnya.

Pernyataan Mevlut Cavusoglu kemarin menandakan sebuah perbaikan hubungan antara Ankara dan Moskow, sehari setelah pertemuan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin Selasa 9/8 lalu di St. Petersburg, Rusia. Kedua Presiden tersebut baru bertemu lagi setelah penembakan pesawat Rusia pada November lalu yang menyebabkan hubungan diplomatik kedua negara tersebut memburuk. Tindakan Turki tersebut mengundang kecaman pedas dari Putin dan pihaknya menjatuhkan beragam sanksi ekonomi dan pariwisata terhadap Turki, dan mendorongnya untuk menempatkan sejumlah sistem pertahanan rudal jarak jauh di Suriah, yang ditengarai diarahkan kepada Turki.

Advertisement

Menyusul pertemuan Selasa lalu, Putin mengumumkan bahwa Rusia akan mengangkat sanksi-sanksi tersebut dan menghidupkan kembali proyek energi yang dijalin bersama Turki, termasuk sebuak proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang sempat mangkrak dan pipa gas Turkish Stream yang membawa gas dari Rusia Selatan menuju Laut Hitam ke Eropa melalui Turki.Pejabat di Moskow mengatakan bahwa hubungan perdagangan Rusia-Turki akan pulih total akhir tahun ini.

Rusia memulai operasi serangan udara melawan target-target ISIS dan kelompok teroris lainnya di Suriah pada September 2015, atas permintaan pemerintah Suriah. Hingga kini, pasukan gabungan Rusia, Suriah, Iran dan Hizbullah telah berhasil merebut kembali sejumlah kota yang sebelumnya diduduki oleh ISIS, diantaranya kota bersejarah Palmyra. (HJA/RT)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*